Memilih Suami (Part 3): Bagaimana Bila dan Bagaimana Bila yang Banyak Sekali.

Saya takjub sama orang-orang yang telah menikah. Meskipun saya tidak tahu bagaimana proses ia akhirnya menentukan teman hidupnya. Setidaknya ia telah membuat keputusan. Sedangkan saya, hingga kini terus lari dari kenyataan.

Kenyataan yang menagih keputusan saya untuk menikah. Menikah dengan siapa. Menerima pinangan lelaki.

Dipikir-dipikir lebih dari 7 kali bahkan hingga habis pikir. Saya masih gak bisa juga mengatakan, “iya, ayo kita menikah”. Makin dipikir saya makin ragu. Makin tersesat. Makin ingin melarikan diri ke hutan belok ke pantai. Sungguh menikah gak pernah menjadi persoalan gampang.

Saya ingat akan perjodohan yang pernah terjadi pada diri saya. Saat itu bukannya saya tidak bimbang dan galau. uh.. butuh beberapa bulan bagi saya meyakinkan diri saya kalau saya akan menikah dengan seorang lelaki. Bahwa kelak saya akan menjadi istri. Usai cincin tunangan tersematkan, butuh berkali-kali saya tampar wajah saya untuk mengingatkan diri betapa jalan saya menuju seorang istri tak lama lagi. Iya. Segitunyalah saya harus terima kenyataan dengan sebuah pernikahan.

Makanya, terlepas dari siapa yang mutusin siapa atau siapa yang patut disalahkan atas putusnya pertunangan kemarin. Efek kecewa saya begitu besar. Ini bukan perkara hati yang patah. Namun ini perkara amarah yang ada akibat betapa segitu usahanya saya untuk meyakinkan diri bahwa menikah itu bukanlah sesuatu yang mengerikan. Dan ketika saya sudah siap dan bisa menerima kenyataan justru yang terjadi sebaliknya. Saya tidak jadi menikah.

Dulu saya agak sedikit mudah memutuskan karena dijodohkan. Ada pihak-pihak yang turut memberikan testimoni. Sekarang lamaran yang datang di hadapan saya muncul bukan dari perjdoohan siapapun. Hingga saya tak punya sumber testimoni. Menjadi galau berkepanjangan pada akhirnya.

Memilih lelaki tak segampang memilih lipstik. Memilih untuk dijadikan suami yang cukup satu dan sekali seumur hidup tak menjadi soal yang gampang. Lantas kenapa lingkungan sekitar saya terlalu maruk memburunya?

Bagaimana bila ia tidak sebaik yang saya kira?

Bagaimana bila ternyata dia punya kelainan seksual? Seperti Mr. Grey misalnya.

Bagaimana bila ia bukan lelaki baik-baik?

Bagaimana dan bagaimana yang hanya akan saya ketahui jawabannya setelah menikah.

Bagaimana dan bagaimana yang kelak harus saya tanggung sendiri.

Bagaimana dan bagaimana yang terus menghantui saya.

Dan kamu, iya kamu. Bila kamu membaca ini. Alih-alih kamu menyalahkan saya, tidak bisakah kamu menenangkan hati saya agar kelak saya dapat memenangkan hatimu? Menjadikanmu sang juara bagi hati saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s