Komentarnya Banci

Pagi itu saya berangkat ke kantor dengan kondisi perut lapar dan kepala yang pusing. Efek tidak makan malam. Sungguh bukan kondisi yang bagus untuk mengawali hari. Saya pikir, seharian saya pasti bakal jutek ketika bekerja.

Saat itu pukul 10 pagi. Perjalanan melintasi jam kerja masih lama menuju angka pukul 3. Dalam kurun waktu yang terbilang cukup banyak bagi karyawan yang harus mendekam di kantor, banyak hal bisa terjadi pada saya. Mungkin saya akan didamprat nasabah lagi, mungkin saya akan mendapatkan telepon dari atasan saya yang kembali mempertanyakan kenapa unit yang tahun lalu berhasil saya tingkatkan OSL-nya kini malah menurun pertumbuhannya.

Namun, yang terjadi adalah sebuah momen aneh yang diciptakan oleh seseorang yang datang ke outlet saya untuk membeli pulsa listrik.

Dia adalah langganan di unit saya. kerap ngisi pulsa listrik di sini. Seorang banci salon (BS). Selesai ia mengutarakan maksudnya ingin bertransaksi apa di unit saya. Ia mengomentari penampilan saya.

BS: Kakak sekarang udah cantik.
Saya: Bukannya dari kemarin-kemarin saya memang cantik?
BS: Gak. Baru ini saya lihat kakak udah kayak perempuan.

 

Saya tertegun sejenak. Security saya tertawa. Saya heran. Bagaiman bisa seorang banci meragukan keperempuanan saya? Bagaimana bisa seorang banci mengkritik keperempuanan saya.

 

Saya tarik napas. Mencoba tegar saya melanjutkan.

 

Saya: jadi kemarin saya kayak lakik dong?
BS: Iya. Tapi gak apa. sekarang udah lebih perempuan. Alisnya udah rapi. Udah ada alis sekarang.
Saya: Oh gitu? Jadi masalah alis?
BS: iya kemarin kan alis kakak gak ada. Sekarang kakak udah bisa buat alis kayaknya.

 

Mendengar komentar dan pujiannya saya agak bengong-bengong bego juga sih. Saya jadi berpikir, sekarang alis juga menjadi salah satu parameter seseorang layak disebut seorang perempuan sejati.

Makin banyak ujian yang harus saya tempuh kayaknya.

Kejadian di atas sempat saya tuliskan di status FB saya.

Seorang teman berkomentar:

Kadang parameter orang salon gak bisa dipakai untuk ukuran kita. Dia bisa bilang alis Shincan itu cakep, tp bagi kita……urut dada liatnya.”

Arti kata ‘kita’ dalam konteks kalimat di atas bisa jadi merujuk ke sekumpulan orang-orang yang gak menganggap alis sinchan itu indah, atau malah sekumpulan orang-orang yang masa bodoh soal alis.

Dari komentar si temen saya mungkin tidak lekas bangga akan komentar si banci salon. Bisa jadi alis amatiran yang saya buat masih jauh dari kata layak bagi kumpulan orang sejenis “kita”. Tapi tak mengapa, saya percaya, di dunia pasti kelak saya akan ditakdirkan untuk bersama lelaki yang mau menerima segala kekurangan saya. Termasuk kurangnya bulu-bulu alis saya. Juga termasuk kekurangahliannya saya dalam mencetak alis.

Selain alis. Di banci salon itu belum habis bicara. Ya.. karena printer untuk mencetak struk pembelian token listriknya macet. Dia jadi ada waktu untuk terus berceloteh.

BS: Jadi kakak kapan nikahnya?

Saya: Tahun ini.

BS: keluar dong kakak dari kerjaan?
Saya: Gak juga.

BS: oh… jadi nanti kakak Sabtu-Minggu pulang ke Banda lah ya?

Saya: Iya.

BS: Calon kakak orang Banda?

Saya: Iya. Kalau nanti saya gak sanggup ke Banda dia ajak yang ke sini.

BS : (panik) jangan, Kak. Nanti suami kakak bisa diambil sama Ibu kos kakak. Ibu kos kakak kan juga belum kawin.

Saya: (ketawa). Iya, nanti saya gak nyewa kamar tempat dia lagi lah kalau ada suami.

BS: Ohiya, ya. Tapi… suami kakak pasti tinggi kan? Pasti ganteng kan?
Saya: kalau gak ganteng emang kenapa?
BS: kalau gak ganteng berarti gak usah takut diincer ama ibu kos kakak. Pasti gak selera dia.

Saya: Saya lebih takut suami saya direbut sama kamu.

BS: (ketawa)

Mau tidak mau. Suka tidak suka dengan komentarnya. Saya jadi tertawa di pagi menjelang siang hari itu. Kadang inilah enaknya bekerja di bagian pelayanan. Setiap hari ketemu orang dan terkadang terjebak dalam obrolan absurd itu menyangkan. Apalagi kalau bisa dijadikan bahan tulisan di blog. Well…. walaupun kita tak bisa menafikan akan hadirnya nasabah yang kadang menguras emosi juga sih.

Advertisements

2 thoughts on “Komentarnya Banci

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s