Telepon Rumah

Apakah kamu pernah memunyai pengalaman menelpon atau ditelpon gebetan menggunakan telepon rumah?

Kalau pernah. Kamu tua.onion-emoticons-set-6-46

 

Membaca novel Dilan karya Pidi Baiq membawa kita kembali ke masa lalu. Iya, sih settingan cerita itu terjadi saat saya baru lahir. Padahal penokohannya berumur remaja SMA. Jadi memang bukan di level umur saya. Tapi membaca adegan-adegan yang menggunakan telepon rumah membuat saya tertawa dan mengenang masa lalu.

12980585_10204922753783122_1948718380_n

Iya. Saya sempat berada dalam kondisi di mana telepon rumah masih jaya-jayanya. Telepon rumah di rumah saya dipasang ketika saya SD. Agak telat emang dibandingan rumah-rumah lainnya. Saya ingat ketika kali pertama telepon itu berdering di rumah semua orang gabuk untuk mengangkatnya. Tentu saja yang paling gabuk itu saya dan adik saya. Padahal kala itu adik saya masih kecil banget. Mungkin dia masih TK tapi udah pengen angkat telepon.

Oke. Kita skip bagian itu dan kita masuki bagian saya dan telepon rumah pada momen remaja saya. Ketika SMP saat ada lelaki khilaf yang sedang PDKT sama saya, mereka pasti nanya nomer telepon rumah. Bukan nomer urut absen saya. Karena nomer urut absen ditanyakan hanya pada saat ujian guna menilik apakah seseorang layak dijadikan target nyontek atau tidak.

Umumnya, ketika PDKT saya akan ditelpon di malam hari. Dan biasanya saya akan malu bila yang ngangkat telepon itu orang lain dan ketahuan saya ditelpon oleh lelaki. Dan kamu tahulah telepon rumah itu berkabel, gak nyaman banget bicara di ruang tengah (atau ruang manapun) saat ada orang lain yang bisa mendengarnya.

Keluarga bakal tahu dan paling tidak menerka-nerka apa yang saya obrolkan. Dan biasanya telponanpun tidak bisa berlama-lama. Paling hanya 15 menit paling lama. Lebih dari itu pegel, kuping panas, dan sesak pipis pasti bakal jadi alasan kenapa telepon dihentikan. Ohiya, termasuk juga pandangan mata tajam Ibu saya yang mengindikasikan bahwa saya sudah memakai telepon terlalu lama. Itu baru ditelepon ya, kalau saya yang menelepon, di mata Ibu saya kadang bisa kita lihat percikan api kecil kalau saya gunakan telepon terlalu lama.

Yang menarik dari telepo rumah adalah kemungkinan besar kita bisa berbohong. Saya ini paling takut didekati oleh lawan jenis ketika SMP. Apalagi bila lawan jenisnya lebih tua dari saya. Iya, saat SMP saya lebih sering didekati oleh anak SMA bahkan kuliah. Sekarang juga gak beda sih. Masih didekatin oleh anak kuliah. Tapi sayanya udah tua.

Saya curiga, faktor ketikdakbisaan saya melukis alis membuat umur saya terkamuflase. Pasti banyak yang mikir saya anak kuliahan gegara alis yang tipis ini. Atau bisa jadi, si anak kuliahan itu rabun hingga gak bisa melihat kerutan halus di bawah mata saya. Cih!

Balik ket telepon rumah dan takutnya saya didekati oleh lelaki. Misalnya si lelaki udah nelepon secara rutin di waktu tertentu, biasanya ketika dia telepon lebih dari kali ketiga saya akan meminta bantuan kepada kakak sepupu saya (kala itu kakak sepupu saya tinggal dengan saya) untuk mengangkat telepon dan mengatakan saya tidak ada di rumah.

Tentu saja hal ini menjadi tanda tanya bagi kakak saya. Kenapa yang kemarinnya saya tidak memperbolehkan siapapun mengangkat telepon pada jam yang saya infokan kini malah saya yang tidak mau menerima telepon. Biasanya, kalau sudah begini, barulah saya ceritakan pada Ibu dan kakak saya bahwa saya takut. Bukan karena lelaki itu jahat atau macam-macam sama saya. Lelaki itu cuma satu macam. Dan macamnya dia adalah menyukai saya. Dan bagi Intan SMP, disukai lelaki adalah hal yang lebih menakutkan ketimbang terlambat masuk sekolah dan kena damprat oleh guru BP (yang terkenal killer).

Dan pernah aja, si lelaki mengubah trik. Dia tidak menelepon pada jam biasanya dan karena telepon rumah saya belum canggih yang mana bisa menampilkan nomer pemanggil, jadilah saya angkat teleponnya. Dan ya, saya kejebak.

Tapi dia menggunakan trik, saya lebih menggunakan trik. Ketika dia berbicara, “Bisa bicara dengan Intan?”

Saya langsung jawab, “Intannya lagi di rumah Tantenya dan bakal balik malam hari,”

entah dia sadar atau tidak saya bohongin dia tapi yang pasti setelah itu dia menutup teleponnya.

Saya pernah berharap telepon rumah saya berpindah lokasi dari di ruang tengah ke ruang tamu yang lebih jarang dihuni oleh penghuni rumah. Namun karena alasan kabelnya hal itu tidak terjadi.

Soalnya saya pernah ketahuan ditembak oleh teman sekolah saya gegara ia menyatakan cintanya lewat telepon rumah. Dan itu sungguh hal yang memalukan ketika diketahui oleh seisi rumah.

Ketika dia nembak dan saya jawab, “Aku gak bisa jawab sekarang, aku bingung. Aku pikirin dulu,” dengan suara perlahan, kakak sepupu yang sedang berada di dekat saya sambil nonton TV langsung tahu itu merupakan indikasi dari pertanyaan macam apa.

Ketika SMA. Telepon rumah masih populer walau kebanyakan orang sudah menggunakan ponsel. Eh pas SMP udah banyak yang gunakan ponsel juga sih, namun saya belum pake ponsel makanya saya masih ditelpon pake telepon rumah.

Saat SMA telepon rumah masih digunakan untuk PDKT bila mau ngobrol lama. Soalnya dulu belum ada paket telepon menggunakan ponsel. Jadi telepon rumah adalah solusi.

Ngobrol ama gebetan melalui telepon rumah mesti pelan-pelan. Ngobrolnya lama sampe pegel. Sampe kuping panas. Dan harus memastikan bahwa sayalah yang angkat telepon kalau gak mau menanggung malu diledekin sama keluarga karena yang telepon lelaki.

“Halo… bisa bicara dengan Intan?”

“Iya, ini Intan.”

“Halo… bisa bicara dengan Bu Lela?”
“Ah iya.. sebentar…”

Telepon rumah. Kadang berbunyi nyaring. Dan ketika diangkat lalu mati seketika. Itu tandanya si penelpon tahu siapa yang angkat dan itu bukanlah targetnya makanya langsung ia matikan. Atau bisa jadi, itu targetnya, namun jantung langsung berdegup lebih kencang dan membuat suaranya tercekat hanya dengan mendengar kata “Halo” dari gebetan.

Telepon rumah. Kita tidak bisa menebak siapa yang mengangkatnya. Dan kita tidak bisa tahu siapa penelponnya.

Dan ya, pernah remaja saat telepon rumah masih jaya-jayanya sesuatu yang sangat pantas untuk diceritakan pada anak cucu.

Advertisements

4 thoughts on “Telepon Rumah

  1. Ah… kakak sebut2 Dilan. Bikin km jadi pengin baca Dilan lagi yg entah untuk keberapa kalinya. Novel dg bahasa yg sederhana tapi membekas di hati. Sedikit novel seperti itu sekarang ya

    1. itu jenis novel dengan bahasa curhat ya. gak nyangka novel curhat bisa laris manis. dan Dilan. dia itu lucu. banget. kalau kk ketemu lakik kayak gtu, kakak lamar, Rin.

  2. AAAAKK TELEPON RUMAH!!!

    Dulu tuh tagihan telepon rumah sampe membludak karena tiap hari telponin pacar sampe berjam-jam, gatau apa aja yang diomongin… Untung pacarnya beda sekolah jadi bisa maklum lah ya =)))

    Pernah juga keluarga punya 2 telepon rumah yang tersambung satu sama lain, aku nelpon dari lt. 1 yang di lt. 2 juga bisa denger 😆 Lagi asik2nya ngobrol tiba-tiba mama selak, “udah selesai, kak? teleponnya mau mama pake” 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s