Muasal Kata Mandasyeh

Banyak pemuda-pemudi Aceh yang nyasar di Pulau Jawa sedang mencari rejeki dan mungkin juga belahan hati mempertanyakan fenomena yang sering terjadi di kampung halamannya ini.

Berdasarkan FAQ:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?
  2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?
  3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

Awalnya saya mendengar kata tersebut dari Carina. Perjalanan ke Korea Selatan di akhir tahun 2014 mempertemukan saya dengan gadis cantik ini. Dari dia pertama kalinya saya mendengar sebutan Mandasyeh. Entah memang dari dia sebutan itu saya dengar pertama kali. Entah pula dari dialah saya sadar akan penyebutan kota Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh. Penyebabnya tentu saja karena ia kerap menggunakan kata tersebut di sela-sela obrolan kami.

Banda Aceh yang diubah menjadi Mandasyeh entahlah sudah diketahui oleh Bunda Illiza atau belum. Bila Bunda sudah mendengar lalu membiarkannya bisa jadi kata tersebut tidak layak dijadikan issue untuk ia berantaskan. Maka para anak gaul kota Banda Aceh yang menjadi pengguna mayoritas kosa kata baru tersebut dapatlah berlega hati.

Tinggal di kampung selama 3 tahun dan pengalaman berbicara atau mendengar orang-orang menggunakan bahasa Aceh. Cukup membuat saya PD melakukan tulisan ini.

Sebagai warga Banda Aceh yang kampung Ayah saya di Aceh Besar. Maka saya tahu logat Aceh Banda Aceh dan Aceh Besar yang berbeda. Logat bahasa Aceh-nya Banda Aceh termasuk logat yang paling biasa saja. Tidak ada khasnya. Ibu saya yang besar di Kota Sabang dan baru bisa bahasa Aceh setelah menikah dengan Ayah saya, menggunakan Bahasa Aceh-nya Banda Aceh. Ayah saya menggunakan Bahasa Acehnya Aceh Besar meskipun setelah saya perhatikan bahasa acehnya sudah berbaur menjadi bahasa aceh biasa tanpa penebalan di huruf R. Akibat terlalu lama hidup di kota Banda Aceh dan berbicara dengan Ibu saya mungkin bisa dijadikan alasan.

Tapi bila saya pulang ke kampung ayah saya. Barulah khas Aceh Besar kelihatan. Saya sampai bersumpah gak mau bikin nama anak saya yang terdapat huruf R di dalamnya. Karena saya gak mau nasib anak saya berakhit tragis seperti keponakan saya di kampung.

Namanya Arif. Namun semua memanggilnya Aghih…onion-emoticons-set-5-49

Pernah tinggal di Bireuen selama beberapa bulan saya akhirnya dapatkan aksen Aceh lainnya. Beberapa kata dengan arti yang sama diucapkan dengan kata yang berbeda bagi warga Bireuen dan Aceh Utara sekitarnya. Ini dikenal dengan aksen Aceh Utara.

Maka ketika saya berbicara dengan nasabah menggunakan Bahasa Aceh, si nasabah bisa tebak dengan jitu kalau saya dari Banda Aceh. Bahasa Aceh yang standar banget.

Pindah ke Ulee Glee lalu sekarang hidup di Lueng Putu membuat saya mendengar Bahasa Aceh dengan aksen lainnya lagi. Ini Kabupaten Pidie Jaya yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Pidie. Bahasa Aceh di sini dikenal dengan sebutan Aceh Pidie. Tutur kata yang lebih halus dalam berbahasa juga gemarnya mereka dalam menganalogikan sesuatu dengan perumpaan ketika ngobrol sehari-hari merupakan sesuatu yang kerap saya tangkap di sini. Dan ya, jangan coba-coba saya gunakan Bahasa Aceh saya di sini kalau gak mau ditertawakan. Mereka akan tahu dari mana saya berasal. Terlebih lagi, mereka tahu kalau saya tidak terbiasa menggunakan Bahasa Aceh yang dengan frontal mereka anggap, tidak bisa berbahasa aceh. Padahal hanya tidak lancar, bukan tidak bisa. Untuk memahami saya sih bisa. Untuk mengucapkan agak-agak keseleo lidah kalau udah harus ngomong lebih dari tiga kalimat.

Kembali ke kata Banda Aceh yang bermetamorfosis menjadi Mandasyeh.

Kerap saya dengar baik di Bireuen maupun di Pidie Jaya masyarakat yang mengatakan,

“Lon keuemueng jak u Manda”

artinya: Saya akan pergi ke Banda (Banda Aceh)

nah.. ini dia. Masyarakat di sini sering menyebutkan Manda alih-alih Banda. Huruf B yang lafalnya diubah menjadi M.

bahkan saya pernah mendapati ada satu kata (yang saya lupa apa) yang bunyi huruf B-nya berada di antara B dan M.

Maka dari itu saya menyimpulkan ini hanyalah soal aksen. Di sini mereka menggunakan awalan M untuk kata Banda hingga menjadi Manda. Sedangkah akhiran ‘syeh’ pada kata Mandasyeh ini mungkin akibat morfologi yang asal-asal diucapkan. Aceh langsung dipelesetkan menjadi “Syeh” biar ringkas. Biar cepat sampai. Aish..

Berbeda dengan kata Jakarta yang diubah bunyinya menjadi Jekardah akibat meniru suara bule dan bisa jadi pelopornya Cwintha Lhaurah. Mandasyeh tercipta akibat meniru suara masyarakat kampung yang memang aceh banget. Di bawa ke kota oleh Mahasiswa dari kabupaten yang kuliah di kota Banda Aceh. Lalu dijadikan populer oleh anak-anak gahul Banda Aceh yang kini gemar ngopi di warung kopi fancy yang harga segelas minumannya 20k ke atas. Anak Gahul ini sendiri gak murni juga penduduk Banda Aceh. Banyak diantaranya adalah anak kabupaten yang berkuliah di Kota Banda Aceh lalu bahkan tingkat kepopuleran dan kegaulannya melebihi warga asli.

Jadi bila ingin menjawab secara singkat daftar FAQ maka:

  1. Kenapa Banda Aceh sekarang bisa diucapkan menjadi Mandasyeh?

– Akibat perubahan morfologi demi meniru warga Kabupaten dalam mengucap Banda menjadi Manda. Huruf B berubah bunyi menjadi M. namun tidak serta merta semua kata menggunakan huruf B menjadi M

2. Sejak kapan nama Mandasyeh itu jadi sebutan yang kerap dilantunkan para warga Banda Aceh?

-Populer sejak 2014 mungkin

3. Siapa pelopor yang menggunakan sebutan Mandasyeh itu?

-Para Mahasiswa kabupaten yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi ternama di Banda Aceh

Lalu apakah tulisan saya ini layak dijadikan jurnal ilmiah atau bahkan referensi Skripsi Jurusan Bahasa Indonesia atau apapunlah itu?

Saya rasa jawabannya tidak. Karena ini murni penilaian subjektif saya hasil analisis sederhana saya. Berdasarkan pengalaman hidup di kampung yang lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Yang semoga cukup bermanfaat bagi teman-teman yang sering bertanya kenapa kota Banda Aceh tercintanya kini berganti nama,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s