Memilih Suami (Part 2): Hedonis vs yang Penting Bukan Pengemis

Saya ini tipikal perempuan yang diajak hidup hedonis gampang banget. Diajak hidup sederhana ayo-ayo aja. Saya bisa berada di dua gaya hidup tersebut. Yakin.

Hidup sederhana adalah hidup yang diberikan oleh orang tua saya. Dari kecil kehidupan kami pas-pasan meski jauh dari kata melarat. Hidup serba ada dan tetap irit bisa saya lakoni. Belum lagi pengalaman bekerja di Jakarta yang bergaji sungguh bikin prihatin. Berbulan-bulan di sana saya tetap survive dengan gaji apa adanya kok. Bisa tidur dengan fasilitas seadanya. Ngeluh sih. Tapi tetap bisa saya jalani.

Hidup mewah. Laah.. siapa juga yang gak mau, kan? Untuk perempuan apa lagi. Dikasih uang yang digitnya banyak gak perlu pusing gimana habisinnya. Mall banyak. Gak ada mall, online shop juga banyak, seperti: Lazada, Zalora, Hijup, Berrybenka, Sephora tersedia di gadget. Abisin duit mah lebih gampang ketimbang abisin krim malam.

Lalu di antara dua gaya hidup itu manakah yang saya ingini?

Mungkin akan dikatakan munafik, tapi saya lebih memilih kehidupan sederhana. Bukan berarti melarat dan makan sekali cuma dua kali tanpa lauk pula. Bukan juga berarti hidup jauh dari peradaban. Hidup berkecukupan. Cukup buat makan sehari tiga kali. Cukup buat jajan. Cukup buat hangout cantik di weekend. Cukup buat jalan-jalan ke luar kota setahun sekali dan luar negeri setahun sekali.

Eh bukan ya? Itu bukan sederhana ya?

Hahahaha…

Maaf.. jiwa foya-foya saya emang suka keluar tanpa logika.

Nah.. itu dia masalahnya. Foya-foya semacam bakat tersembunyi. Entah juga ini ambisi terpendam. Sekarang setelah punya penghasilan sendiri doyannya belanja tanpa mikir. Sukanya jalan-jalan. Di sinilah letak masalah diri saya.

Karena saya punya masalah seperti ini, itulah kenapa saya enggan bersanding dengan lelaki mapan luar biasa. Penghasilan berkali-kali lipat dari saya. Karena saya takut. Jiwa hedonis saya gak bakal bisa kebendung. Nah.. lumayan kalau punya suami kaya tapi orangnya sederhana. Ini suami kaya hidupnya hedonis pula. Klop kali lah sama saya. Bakal terperangkap kehidupan duniawi yang melenakan. Kehidupan yang senang hanya untuk berlomba-lomba menghabiskan. Kehidupan yang dipayungi naungan godaan setan.

Jujur, saya enggan.

Bilamana saya bersuamikan lelaki kaya namun bersikap bijak dan mampu mengeram sifat boros saya sih oke aja. Tapi bila tidak, saya akan lebih memilih suami yang tak mengapa tak mapan. Tak mengapa tak rupawan. Asal dirinya mampu memenjarakan jiwa hedonis saya. Asal dirinya mampu menuntun saya menjadi perempuan yang lebih sholehah.

Makanya, bila ada yang mempertanyakan kewarasan saya menolak lelaki mapan, itu semua bukan karena saya tak suka menjadi kaya, namun karena saya tahu. Gaya hidup ‘abang itu’ gak cocok ama saya. Gak cocok ama cita-cita saya.

Karena bila ingin foya-foya, saya hanya ingin melakukannya selagi single. Selagi memakan uang keringat sendiri.

Ini bukan munafik. Ini sebenarnya perencanaan. Perencaan untuk anak-anak saya kelak.

Saya gak ingin menjadi sepasang orangtua yang mengajarkan kehidupan serba ada serba gampang untuk anak-anak saya. Saya tidak ingin anak-anak saya kelak menjadi manja. Menjadi manusia tanpa usaha tanpa derita. Bukannya saya ingin membuat anak saya susah. Namun saya hanya ingin mengajarkan bahwa hidup itu sulit dan kita harus terbiasa. Mendidik mental baja bagi anak harus dilakukan sejak dini. Harus dicontohkan orangtuanya. Nah… bila saya terlihat terlalu foya-foya bagi anak saya. Bisa jadi entar tingkah anak saya melebihi saya. Kalau saya dulu ngambek sama orangtua, merajuk dan mengurung diri di kamar. Anak saya mungkin bakal lebih ekstrem. Merajuk, ngurung diri dan gunting-guntingin uang jajannya. Whoaaaaaaah….

Hiduplah sederhana. Hidup berkecukupan tanpa kekurangan. Ada tanpa berhutang. Hidup dengan usaha dan kerja keras. Agar kita lebih menghargai hasil. Agar kita tahu dunia tak bisa dilakoni dengan sikap manja. Karena tak selamanya hidup selalu di atas. Karena dunia berputar. Entah pada rotasi ke berapa, kita mungkin berada di bawah. Bersiaplah…

Jadi sebelum saya cuap-cuap soal anak dan ngedidik anak tapi anaknya belum ada. Saya kini tengah fokus memilih ayah dari anak-anak saya kelak. Seorang lelaki yang dalam sekali bertandang (baca: lamaran) mampu menggugurkan segala ragu di hati. Segala ketidaksiapan diri.

Dan, ya.. memilih itu sulit. Saya lebih suka jawab soal Fisika yang meskipun pas SMA saya selalu remedial.

Jadi, jangan tambah-tambahin dengan pertanyaan, “Kapan nikah?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s