Memilih Suami (Part 1): Lelaki Bukan Lipstik

Saya tidak habis pikir bagaimana seorang perempuan bisa begitu mudah memilih lelaki yang kemudian dia tentukan dengan pasti menjadi suaminya. Pendamping hidupnya. Selamanya (niatnya).

Lalu… dalam sekali anniversary mereka bercerai…

Setiap kali melihatnya berwara-wiri di recent update BBM, setiap kali pula saya teringat akan bagaimana ia berpacaran dengan begitu heboh umbar kemesraan. Lalu tentang bagaimana dia bermuram durja di status perihal perceraiannya.

Pengen saya tanya, waras, mbak?

Oke. Saya memang tidak tahu dan tidak mau tahu kenapa dua insan dimabuk cinta pamer mesra bisa bercerai. Alasan dibalik perceraian bukan urusan saya. Hanya saja, saya yang sepertinya masih punya RAM otak tersisa untuk dipake berpikir berulang kali bertanya dalam hati.

Bagaimana bisa mereka yang berpacaran bertahun-tahun. Pamer mesra sana-sini. Lalu bercerai dalam setahun perayaan pernikahan?

Kemana perasaan cinta menggebu menguap? Ke mana terbangnya keyakinan ketika memilih suami untuk dijadikan pendamping sepenuh hati, setiap hari, sampai mati? Kenapa cuma sementara?

Kenapa tidak dipertahankan? Kenapa tidak diusahakan?

Sungguh pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya menjadi momok yang kemudian menghantui saya dalam memilih suami sekali seumur hidup bagi saya.

Ketika orang yang memilih jalan berpacaran lalu dalam sekali kibasan emosi bisa-bisanya bercerai, bagaimana saya yang memutuskan memilih suami tanpa melalui proses pacaran?

Selama ini metode saya menjadikan seseorang sebagai calon suami ya melalui proses perjodohan keluarga, dikenalin temen, temen lama yang tetiba naksir. Dari mereka semua tidak saya kesankan keinginan saya berpacaran. Pun mereka cukup tahu diri, mereka menawarkan lamaran.

Namun.. dalam sejuta pikiran dan pertanyaan berkelebatan dan belum menemukan jawaban, tidak satupun lamaran yang saya iyakan lagi setelah gagal bertunangan melalui metode perjodohan.

Saya bohong ketika saya mengatakan akan menerima sesiapun yang datang duluan melamar.

Nyatanya, setiap kali lelaki menawarkan diri hendak melamar ketika itu juga saya lebih pengen disuruh jawab soal persamaan reaksi kimia ketimbang menjawab lamarannya.

Saya bohong ketika mengatakan saya tidak mementingkan status ekonomi, pekerjaan, fisik. Nyatanya, datang yang tampan rupawan namun gendut tidak mampu membuat saya terpesona.

Saya bohong ketika siap menikah pada lelaki yang berani datang melamar. Nyatanya, kedatangannya bersama orangtuanya selalu saya cari seribu alasan untuk tidak ke rumah.

(Mungkin) saya bohong ketika berkata saya sudah siap menikah. Nyatanya saya hanya males menjawab pertanyaan basi, “kapan nikah” dari handai tolan.

Mungkin saya hanya sulit memilih suami tuk dijadikan pendamping sehidup semati. Satu sampai tua. Berdua tanpa ada pihak ketiga. Setia dalam suka dan duka. Kemudian bersatu di surga.

Karena meski saya dikatakan cerdas, saya bodoh soal menilai lelaki. Meski saya mudah menentukan pilihan, namun tidak soal jodoh.

Karena lelaki bukan lipstik. Yang bisa saya pilih dengan sekali pandang. Saya pastikan cocok dengan sekali pulas. Saya yakin dengan sekali pembayaran.

Karena lelaki bukan lipstik yang hanya mampu mencerahkan bibir dan mengupgrade pesona saya. Namun lelaki yang menjadi suami adalah dia yang nantinya mencerahkan hari saya. Yang karenanya saya terpesona setiap hari, tanpa henti.

Karena lelaki bukan lipstik. Ketika saya memilih lipstik yang salah. Tidak enak tersentuh di bibir, bisa saya buang atau ngasih ke teman.

Karena memilih lelaki. Memilih suami, gak pernah mudah. Gak semudah kamu bertanya, “Kapan nikah?”

jadi.. mengertilah. Saya sudah ruwet untuk memilih. Jangan lagi usil dengan kepo bertanya, “Kapan nikah?”

Karena bila lelaki serupa lipstik, yakinlah, lelaki yang baik yang akan menjadi suami panutan tidak akan bisa dihargai hanya senilai 500k.

One thought on “Memilih Suami (Part 1): Lelaki Bukan Lipstik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s