Sebuah Prolog dari Perjalanan ke KL dan Singapore

Pada durasi tanggal 4 hingga 11 kemarin saya mengambil masa cuti saya untuk berlibur ke negera tetangga. Destinasi yang dipilih karena adanya promo tiket seharga 1 dollar itu adalah Kuala Lumpur. Selanjutnya dari KL kami berencana menyambung perjalanan ke negera sebelahnya lagi, yakni Singapura.

Mengetahui adanya tiket tersebut saya berburu siapa aja orang yang bisa dijadikan partner ngebolang. Rekan kerja saya menjadi salah satu target. Awalnya ia galau. Kekhawatirannya adalah bagaimana bila tanggal keberangkatan itu merupakan tanggal pernikahannya atau dekat dengan tanggal pernikahannya. Dengan sederhana saya memberikan kalimat penghibur, “Kalau bentrok ya tinggal tunda aja toh pernikahannya. Jangan sampelah pernikahan menggangu jadwal liburan.”

Saya beruntung Ibu teman saya itu tidak mengetahui saya berucap demikian, karena bila tidak mungkin saya udah disikat pake sapu lidi.

Setelah galau temen saya yang berkepanjangan akhirnya berkesudahan, akhirnya kami membeli 4 tiket. Temen saya membawa adiknya. Saya bawa adik saya. Karena bukan cuma Raffi Ahmad aja yang mampu bawa keluarga jalan-jalan ke luar negeri. Pegawai pas-pasan kayak kami juga mampu. Ya.. meskipun levelnya beda jauh ya. Negara tujuan beda, jumlah anggota yang diboyong juga beda.

Setelah tiket terbeli adik saya berkomentar lirih, “Jadi, Kak, harga nyawa kita cuma seharga 1 dollar ya?”

iya, tiket promo dari Aceh ke KL harganya 1 dollar, tapi belum termasuk airport tax. Setelah airport tax dan bagasi untuk pulang kami membayar sekitar 300 atau 400 ribuan rupiah seorang.

Namun kendala terjadi. Jadwal pernikahan temen saya hanya selisih 9 hari lagi dari jadwal kepulangan kami. Galau menerpa lagi. Gundah menerjang. Dia mumang (artinya: pusing) lagi. Namun si temen sih kayaknya ngotot juga pengen liburan sebelum berstatus istri. Setelah berunding sama keluarganya diberi ijin juga dia untuk liburan ke KL dan Singapore seperti rencana 4 bulan lalu ketika kami membeli tiket.

Akhirnya kombinasi dua perempuan ditambah seorang adik dari masing-masing perempuan tersebut mengukuhkan niat dan mentalnya untuk berpetualang di negeri Upin Ipin tersebut. Sebenarnya kombinasi utuhnya 5 orang. Kayak jumlah Power Ranger namun seorang lagi perginya telat dua hari dari kami. Ada banyak urusan negara yang harus dia urus sebelum keberangkatan. Urusan negara menyangkut keselamatan dunia.

Di hari keberangkatan ada sedikit kejadian heboh. Gebetan adik saya yang entah nomer urut keberapa mengajukan diri untuk mengantarkan kami ke bandara. Nah, entah karena dia harus spa dan luluran dulu sebelum ngejemput kami di kediaman kami, ia tibanya telat. Singkat cerita kami tiba di bandara hanya 15 menit jelang boarding pass.

Saya yang memang selalu pengen mengambil adegan dalam sebuah film sebetulnya menikmati aksi lari-larian saya di bandara. Turun dari mobil langsung berlarian menuju konter buat mengganti kertas boardingnya. Saya berasa jadi Cinta yang ngejar Rangga di bandara loh saat itu. Saya juga jadi ngerti gimana perasaan Cinta di mobil yang kalut banget takut ketinggalan pesawat yang membawa pergi Rangga dari pandangan. Saya akhirnya ngerti apa rasanya jadi Cinta. Ngerti paniknya buru-buru ke bandara.

Namun, saat saya sedang menghayati perasaan Cinta, temen saya dan adiknya sedang menahan napas menunggu saya gak datang-datang. Keberangkatan hanya tinggal sebentar lagi, tapi bahkan batang hidung saya belum keliatan. Ya.. gimana coba, batang hidung saya kan gak mungkin pergi mandiri tanpa saya. Kalau saya belum nongol otomatis batang hidung, daun telinga, dan bibir saya juga belum nongol. Cih!

Akhirnya setelah adegan layaknya film itu saya mampu juga mendaratkan diri saya untuk duduk di ruang tunggu. Sirna sudah khayalan uang tiket bakal melayang plus deposit dan bayaran atas segala macam booking-an lain. Uang saya tak jadi merugi.

Jadi kombinasi perjalanan kali ini terdiri dari 3 orang wanita karir yang bekerja di sebuah instansi yang sama plus dua orang adik mereka yang ikutan nebeng.

Perjalanan yang ditempuh dengan jarak yang dekat, bahasa yang masih dipahami, tulisan yang menggunakan huruf yang sama, membuat perjalanan pasti mudah. Begitu pikir kami.

Jadi.. semuanya akan saya bahas hari perharinya nanti kalau saya sempat ya. Ini mukadimahnya aja dulu. Namun seperti biasa, saya gak pinter me-review ala ala backpacker. Jadi saya cuma sekedar berkisah saja. Jangan berharap lebih pada blogger abal-abal kayak saya.onion-emoticons-set-6-118

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s