Lala yang Lelaki

Pada zaman Rasulullah SAW, ada beberapa hadist yang berhubungan dengan kaum Khunsa dan mukhannast. Khunsa maksudnya mereka yang tidak jelas jenis kelaminnya, sedangkan mukhannast (dan murajjil) adalah mereka yang punya kelamin tertentu tapi berprilaku sebaliknya (sumber: situnis.com)

 

Saya punya teman mengaji semasa kecil yang bernama Lala (bukan nama sebenarnya). Seorang anak perempuan yang usianya terpaut setahun lebih tua dari saya. Kendati demikian saya tak memanggilnya dengan sapaan ‘Kak’, hanya nama saja. Lala.

Lala berkulit hitam. Berpostur tubuh kekar dan besar. Gaya sikapnya sedikit tomboy. Hanya sedikit. Karena ia tak memungkiri sama sekali kalau di adalah anak perempuan. Namun dari segi penampilan ia jauh dari kata imut-imut ala gadis kecil. Ia bersuara besar. Ia tertawa keras. Ia lucu. Saya menyukainya. Dia teman yang baik hati dan suka menolong dengan keriangannya. Bermain bersamanya sungguh menyenangkan. Ohiya. Karena dia teman mengaji saya, saya tahu dia masuk dalam jajaran santriwati yang jago mengaji. Ia cepat tangkap setiap kali diajarin tajwid. Untuk urusan tajwid mengaji (pada masa itu) kami sering bersaing dalam siapa dulu lebih paham. Namun untuk urusan kuatnya mengambil nafas dan irama saya kalah telak.

Setelah saya ingat-ingat lagi sekarang. Lala kecil itu bersuara agak sedikit menyerupai lelaki. Iya.. sepertinya begitu.

Pada kelas 6 SD saya pindah rumah. Otomatis saya dan Lala yang menjadi teman ngaji sekaligus teman bermain menjadi terpisahkan oleh jarak. Saya ingat betapa hati saya susah tak bisa bertemu lagi dengannya. Iya, meski masih sama-sama tinggal di kota yang sama namun jarak yang jauh gak memungkinkan untuk seorang anak SD bermain dan bertemu kala itu. Kendaraan andalan kami sepeda. Kalau nekad mau ketemu naik sepeda ya bisa pingsan di tengah jalan.

Bertahun berlalu, pada suatu momen tidak terduga saya bertemu Lala ketika kami memakai segaram putih-abu-abu pada sebuah angkutan umum.

Kami duduk saling berhadapan di labi-labi (red: angkot), namun saya agak ragu itu dia. Awalnya bahkan butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari kalau sosok perempuan berjilbab lebar di depan saya adalah teman kecil saya. Wajahnya ia tutupi dengan sapu tangan. Hanya alisnya yang hitam lebat dan matanya yang besar yang terlihat. Namun dari dua bagian wajah itu, saya seperti yakin itu adalah Lala.

Dalam hati saya bertaruh. Bila ia turun dari angkot ini di persimpangan menuju rumahnya maka bisa dipastikan itu Lala 100%. Tak lama kemudian ia memencet bel labi-labi agar labi-labi berhenti. Dan benar saja seperti dugannya saya, ia turun di persimpangan yang saya maksud. Ketika hendak turun dari labi-labi sapu tangan yang menutupi wajahnya ia sibak sebentar. Dalam momen yang sangat singkat itu saya melihat sesuatu yang membuat saya kaget.

Lala. Perempuan yang telah tumbuh menjadi gadis remaja itu memiliki kumis. Bukan kumis tipis ala-ala Iis Dahlia. Tapi kumis yang membuat saya kaget.

Setelah ia turun pikiran saya berkecamuk. Apakah karena itu ia menghindari kontak mata pada saya? Apakah karena itu ia tidak bertegur sapa dan tidak mengacuhkan saya? Seolah kami tidak saling kenal. Seolah kenangan kami tertawa di bawah rinai hujan deras sambil bermain sepeda tak pernah terjadi.

Bila memang karena bulu-bulu yang tumbuh di atas bibirnya itu membuat ia enggan menyapa saya, saya ikhlas. Mungkin itu lebih baik bagi kami.

Setelah itu kami tidak pernah bertemu atau berpapasan lagi di suatu tempat, hingga….

Kala itu saya masih OJT di perusahaan saya sekarang ini. Tahun 2013. Tapi saat itu OJT tahap 2 pasca diklat. Jadi saya sudah boleh melayani nasabah secara langsung. Di hadapan saya ada sebuah cincin dan selembar KTP. Usai cincin itu saya taksir saya baca nama di KTP untuk memanggil si pemilik cincin guna bernegosiasi soal uang pinjaman yang diinginkan.

Lala Mufadah (bukan nama sebenarnya). Hati saya berdesir. Saya hapal nama ini. Mungkinkah ini orang yang sama? Karena nama serupanya (namanya yang sebenarnya) lazim digunakan.

Saya panggil nama tersebut menggunakan sapaan, “Ibu Lala Murfadah” ke ruang tunggu nasabah. Seseorang datang mendekat, namun saya abaikan karena yang saya tunggu adalah seorang perempuan. Namun ketika sosok yang datang mendekat itu tepat berdiri di hadapan saya, kaget sulit rasanya saya hilangkah dari wajah saya.

Mungkin saat itu mulut saya melongo sejenak. Mata saya membesar sebelum saya mampu menguasai diri saya dengan keadaan yang harus saya terima di depan saya.

Untuk mengonfirmasi saya mengulangi namanya, “Lala Mufadah?”

“Iya,” jawab sosok berpotongan rambut pendek khas lelaki, baju kemeja lengan pendek kotak-kotak, dan celana bahan, beserta ransel di punggungnya.

Setelah mampu menguasai keadaan, saya melakukan percakapan formal lazimnya kepada nasabah. Hingga proses taksiran dan uang pinjaman disetujui akhirnya ia kembali ke tempat duduk di ruang tunggu. Menunggu pencairan uang pinjaman oleh kasir.

Berulang kali saya membaca keterangan di KTP-nya. Namanya jelas benar. Jenis kelaminnya perempuan. Namun penampilannya lelaki tulen. Dan itu didukung oleh paras wajahnya yang lebih mirip lelaki ketimbang perempuan.

FYI. Kami tinggal di Aceh. Propinsi dengan syariat islam. Perempuan menggunakan jilbab menjadi Perda di daerah ini. Maka siapapun dia yang beragama islam dan taat agama juga taat peraturan pemerintah setempat pastilah menggunakan jilbab bila ia perempuan. Itulah kenapa tadinya saya tidak acuh ketika nama Lala saya panggil yang datang malah sesosok lelaki. Karena tentu saja pandangan saya layangkan ke siapa saja yang mengenakan jilbab.

Mungkin sudah berselang 9 atau 10 tahun sejak kami bertemu di Labi-labi kala kami SMA saat itu. Namun perubahan penampilannya membuat saya syok. Lala yang saya temui saat di labi-labi adalah seorang perempuan dengan jilbab besar khas perempuan jilbaber. Namun Lala yang saya temui di tahun 2013 berubah menjadi sosok lelaki. Saya yakin, tak ada yang menyadari kalau Lala pernah menjadi perempuan.

Saat dia sedang berada di kasir untuk mengambil sejumlah uang. Saya perhatikan lekat ke bagian dadanya. Tak ada ciri fisik perempuan di sana. Hanya nama dan jenis kelamin di KTP yang menjadi bukti kalau Lala itu adalah Lala teman mengaji saya ketika kecil. Hanya itu. Kini ia menjadi lelaki sepenuhnya. Saya yang tahu wajah masa kecilnya tak bisa merasa ragu kalau itu Lala. Karena wajah dewasanya meski dengan penampilan laki masihlah menyerupai Lala gadis kecil teman ngaji saya. Alis matanya yang lebat. Matanya yang besar. Kulitnya yang gelap. Itu Lala.

Pertanyaan demi pertanyaan mengusik saya saat itu. Apakah ia akhirnya memilih menjadi lelaki karena akhirnya tubuhnya lebih menyerupai lelaki daripada perempuan? Apakah ia masih berkelamin perempuan namun berkarakter lelaki? Apa yang terjadi pada Lala? Inikah hemaprodit itu? Ataukah inikah transgender?

Sebulan kemudian Lala kembali datang ke kantor saya. Saat itu saya diposisikan sebagai kasir oleh pinca saya. Anak OJT memang harus menguasai semua bagian di kantor cabang meskipun itu bukan posisinya kelak ketika pengangkatan.

Lala datang hendak menebus cincinnya. Saya memberikan senyum standar pelayanan padanya. Kali ini saya tak menggunakan sapaan “Bu” ataupun “Pak” padanya. Hanya menggunakan namanya saja ketika berbicara formal pada nasabah.

Saya tak mencuri kesempatan itu untuk mengonfirmasi apakah ia masih ingat saya atau tidak. Saya tidak ingin melukai hatinya atau mempermalukannya. Saya tahu pasti, dari geriknya yang tidak nyaman berhadapan dengan saya dua kali di kantor ini merupakan pertanda dia ingat pada saya. Saya teman mengajinya. Teman masa kecilnya yang gemar main sepeda bareng.

Ketika Lala berlalu bersama cincinnya dan saya menatap punggung lelakinya dari belakang saya mencoba menerima kenyataan. Teman masa kecil saya mengalami kehidupan yang tidak mudah. Teman mengaji saya berubah menjadi lelaki. Saya berharap, keputusannya ini merupakan keputusan tepat. Keputusan benar. Keputusan yang membuatnya nyaman hidup sebagai manusia. Untuk selanjutnya saya serahkan pada Tuhan. Karena saya yakin, ia berubah bukan karena ingin melawan fitrahnya. Ia berubah hanya untuk membuat ia tahu harus berada di tempat yang mana.

………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Kisah saya di atas adalah salah satu kisah tentang seorang trangender atau intersex. Dalam hal ini saya akan mengutip sebuah postingan yang bagus dari seorang Psikiatri asal Aceh. Yang menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Lala.

Transgender dalam Islam

Dalam Islam, transgender dikenal dengan istilah mukhannast dan murajjil. Orang laki-laki yang menyerupai perempuan disebut dengan Mukhannast, sebaliknya perempuan yang menyerupai laki-laki disebut murajjil. Mengenai golongan ini, rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat mukhannats kaum laki-laki yang menyerupai perempuan, dan mutarajjil dari kaum perempuan yang menyerupai laki-laki.” [HR. Ahmad]

Pun demikian, ulama berpendapat – seperti dijelaskan Imam Nawawi, bahwa mukhannast ini terdiri dari dua macam. Pertama mukhannast yang memang dari “sononya” sudah begitu. Meski lahir sebagai anak laki-laki, tapi dari kecil dia sudah berjiwa dan merasa sebagai seorang perempuan, suka berpakaian dan bermain layaknya anak perempuan, semuanya alami tanpa dibuat-buat. Para ulama berpendapat bahwa kelompok ini tidak termasuk yang dicela oleh Rasulullah SAW, seperti di hadist diatas. Mereka tidak bersalah, tidak berdosa dan tidak boleh dihukum. Mereka menajdi seperti karena memang pemberian Allah SWT. Sedangkan kelompok mukhannast yang kedua adalah yang lahir dan besar secara normal, tapi belakangan berbuat-buat seolah-olah dia seorang perempuan. Baik dandanan, cara bicara, dan kebiasaannya. Kelompok inilah yang sebenarnya yang tercela dan dilaknat oleh Rasullah dalam haditnya tersebut. Mereka harus dibimbing untuk menerima fitrahnya sebagai laki-laki, karena memang perilakunya bertentangan dengan fitrahnya sebagai manusia.

Dari pembahasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kelompok LGBT atau LGBTIQ ini harus dipisah dulu, karena memang sebenarnya mereka tidak sama dalam pandangan islam. Kelompok pertama, Lesbian dan Gay jelas hukumnya haram. Begitu juga dengan kelompok biseksual, karena secara langsung dia juga menyukai sesama jenis, inni juga diharamkan. Sedangkan kelompok transgender, intersex dan questioning, harus diperiksa dulu atau dilihat dulu kecenderungan mereka bagaimana, apakah mereka berbuat-buat seperti itu, atau memang dari lahirnya mereka sudah seperti itu, sehingga hukum dan pandangan islam terhadap kelompok ini juga bisa di luruskan.

Dikutip dari postingan berjudul: LGBT Menurut Pandangan Islam. Silahkan klik di sini untuk membaca postingan penuhnya.

One thought on “Lala yang Lelaki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s