Akhirnya Menikah

Saya selalu suka menghadiri pernikahan sahabat dekat saya. Sahabat ya, seseorang yang kita tahu perjalanan jatuh bangunnya. Seseorang yang kita usap air matanya, yang kita peluk ketika dia bahagia namun kita tertawakan dengan jumawa ketika dia melakukan hal konyol. Pernikahan sahabat membuat hati saya merasakan sesuatu.

Ada tiga kisah menuju pernikahan yang saya inget dari sahabat yang sangat menyentuh. Yang membuat mata saya menuju ke pelaminan dengan penuh kesenangan melihat mereka bahagia.

Pernikahan pertama dari seorang sahabat semasa SMA. Tahu tentang kisah asmaranya. Tahu tentang keinginannya. Tau tentang perjuangan pacarnya demi bisa menikahi sahabat saya itu membuat saya bener-bener bahagia ketika mendapatkan kabar mereka akan melangsungkan pernikahan.

Pernikahan di awal tahun 2015 kemarin menjadi pernikahan sahabat saya yang penuh saya syukuri.

Pernikahan kedua terjadi di bulan Februari atau Maret. Saya lupa. Kisah sahabat ini sebenarnya bisa dibilang mulus tanpa aral. Sebuah pernikahan paling mulus dan lancar jaya yang pernah saya dengarkan ceritanya. Yang saya ikuti kisahnya. Namun yang membuat saya haru adalah, tentang sosok perempuan itu. Tentang janji Allah akan menghadirkan lelaki baik-baik buat wanita baik-baik. Menurut saya sahabat saya dan suaminya itu memenuhi kriteria atas janji Allah swt itu.

Kisah menuju pernikahannya membuat saya merasa, seorang perempuan tulus yang hanya mengharapkan ridha Allah dan memilih suami tanpa mandang bulu kakinya lebat atau tidak dan hanya berserah pada kuasa Allah sungguh luar biasa. Perempuan yang menjadi sahabat saya itu menempatkan pernikahan sebagai ibadah.

Jadi, melihat perempuan yang usianya lebih muda dua tahun dari saya, ketika ijab kabul terdengar atas namanya membuat sontak hati saya bergetar. Dia menikah. Pada lelaki yang tidak ia lihat dari tampang atau hartanya. Namun dari hati dan agamanya. Pernikahan atas dasar ibadah.

Proses menuju pernikahan yang ketiga yang membuat saya lega dan bahagia baru saja terjadi kemarin. Seoarang sahabat yang malam-malamnya pernah diliputi kegundahan, kekalutan dan kegamangan. Seorang perempuan dengan tekad luar biasa. Dengan kegigihan yang tanpa ampun. Dengan mental yang sudah terbukti. Dengan hati kuat yang sudah teruji. Dengan ketegaran melewati segala hujatan dan ledekan para sahabatnya (termasuk saya) juga tentunya.

Melihatnya kemarin di pelamin saya berkata dalam hati, “kamu menang. Kamu hebat.” Andai beragam hiasan kepala pengantin ribet itu tidak menghalangi pelukan kemenangan yang saya berikan untuknya, pastilah pelukan itu saya berikan dengan lebih lama dan lebih kuat. Sebagai bukti betapa saya kagum dan turut senang dengan keberhasilannya mewujudkan mimpinya jadi nyata.

Sebagai yang turut mendengar kisahnya. Sebagai yang turut kesel ketika dia murka. Sebagai yang turut juga menertawainya saya tahu satu hal: sahabat saya itu kuat. Dan semoga apa-apa yang telah ia usahakan demi terwujudnya mimpinya diberi keberkahan dan rahmat dari Allah swt.

Tiga kisah sahabat yang saya tuturkan di atas adalah kisah perjuangan dan lika-liku mereka menuju pernikahan impian mereka. Bukan kisah perjalanan meniti pernikahan hingga akhir usia. Karena cerita pernikahan tentunya pasti lebih berat dari cerita menuju pernikahan. Dan bagi saya, biarlah itu menjadi kisah pembelajaran dan pendewasaan bagi mereka sendiri. Biar mereka saja yang mengetahui dan menjalani lika-likunya.

Sebagai penulis blog, saya hanya ingin meniru kisah para pendongeng sekelas Cinderella. Mengetahui lika-liku mereka lalu mengakhirinya dengan sebuah momen penutup berupa pernikahan bahagia dan memberikan standing ovation atas kebahagian mereka.

Untuk urusan selanjutnya. Saya undur diri. Sebuah pernikahan yang layak diceritakan dan ditonton memang sebatas ketika di pelaminan. Selebihnya mereka yang menikahlah yang harus bertanggung jawab bagaimana menjalankan dongeng mereka sendiri.

Pun demikian. Ketika saya turun dari pelaminan usai memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin, dan berlalu menuju keluar gedung. Pun meski saya hanya mengisahkan hingga acara pernikahan mereka terwujud, pun akhirnya saya berpamitan. Saya terus berdoa agar pernikahan mereka hingga ke surga.

Agar pernikahan sahabat-sahabat saya, baik yang menyentuh hati saya ataupun yang biasa saja, juga pernikahan saya nanti (yang entah kapan), berjalan di dunia, berakhir di surga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s