Bye…

Hey… apa kabar? Apa efek setelah adanya teroris beberapa waktu lalu bagi kondisi mental dan fisik mu? Aku yakin tak mengapa bagimu. Karena bukan teroris yang kau takutkan melainkan kurs mata uang Indonesia yang melemah. Kalau akibat dari teroris maka mata uang Indonesia terus merosot aku yakin kamu pasti akan makin memaki-maki si teroris yang masih diragukan keterorisannya.

Aku masih mengingat betapa banyaknya kicauanmu saat kemarin Rupiah kita melemah. Rupiah melemah aja kamu sewot. Gimana kalau aku yang melemah? Melemah, tak berdaya, terkapar seperti saat keracunan karbon monoksida tempo hari, akankah sewot dan panikmu sama?

Maafkan aku tidak mengetahui kapan tanggal ulang tahunmu. Iya. Tidak tahu. Bukan lupa. Dalam ingatanku hanya bulannya saja yang kuketahui tidak beserta tanggal. Namun ketika aku semakin menyadari Januari semakin bergerak kian habis, kenapa ulang tahunmu belum juga muncul?

Maksudku.. di zaman media sosial semarak ini dan kamu begitu aktifnya di jejaring Path. Kenapa lelaguan ulang tahunmu tak bersuara. Maka, siang itu aku putuskan untuk kepoin akun media sosialmu. Mencari tahu kapan hari lahirmu.

Daan… maaf. Aku telat tiga hari. Maaf. Aku tidak memperlakukan ulang tahunmu layaknya kamu memperlakukan ulang tahunku. Maaf.

Jadi.. selamat ulang tahun, lelaki sombong. Ya.. aku memanggilmu begitu. oh.. tidak tepat begitu ya? Biarlah itu menjadi di antara kita saja karena aku tidak ingin mengumbar statusmu di blogku.

Selamat ulang tahun. Serta mulia dan bahagia. Hiduplah lebih bahagia dari hari yang lalu. Hari yang penat yang berhasil kamu lewati. Hiduplah lebih bersyukur pada-Nya. Bersyukur atas apa yang telah dan sedang terjadi pada hidupmu. Semoga rahmat dan anugerah-Nya terlimpah untukmu agar semakin tercapai segala ambisimu.

Ngomong-ngomong soal ambisi. Aku inget betapa ambisimulah yang sekarang menjadi prioritasmu. Aku tidak menghujatnya. Dalam sisi yang profesional aku malah mengagumi ambisimu dan mengganggap begitulah seharusnya lelaki.

Seharusnya…

Ohiya… masih ingat akan lamaran tiba-tibamu saat aku sedang membeli koper? Bukan belagak bodoh tapi awalnya aku memang tidak ngeh. Bagaimana bisa? Kenapa aku? Kok kita? Aneh. Sudah bingung mencari koper yang kece ditambah lagi bingung harus bereaksi bagaimana atas pernyataanmu. Tapi lalu sebuah kalimat, “Liburan aja dulu. Senang-senang dulu. Nanti aja jawabnya,” membuatku akhirnya mampu membuat keputusan. Ya.. keputusan tentang koper mana yang kupilih untuk kubeli.

Lalu deringan telepon darimu mulai kerap. Pesan whatsappmu kian banyak. Rayuanmu kian marak. Pertimbangan-pertimbanganku mulai nyata. Dan kita mulai menyatukan visi dan misi. Mensketsa masa depan. Menggubah masa lalu menjadi pelajaran masa akan datang. Menggoreskan mimpi. Lalu membuat keputusan.

Ambisimu. Toleransiku. Tak cocok.

Adakah yang lebih aneh dari dilamar dan ditolak oleh lekaki yang sama? Iya. Kamu yang melamarku, lalu setelah segala penjelasan dan penjelasan kamu malah menolakku ketika hampir kukatakan iya. Ketika aku memberikan toleransi demi terwujudnya ambisimu. Lalu bahkan toleransiku belum cukup untuk ambisimu.

Dilamar dan ditolak oleh lelaki yang sama. Aneh.

Akhirnya kita menyerah. Aku lelah. Kamu berlalu. Aku tak menyalahkan jarak atau ambisimu. Aku juga tak menghujat Tuhan. Aku hanya menganggap takdir jodoh tidak menyinggungkan perasaanmu pada perasaanku. Kita tidak berjodoh.

Maka.. biarlah kita hanya terus menjadi teman. Teman dari SD hingga sekarang. Teman yang melulu bertemu di sekolah yang sama. SD, SMP, SMA, hingga kuliah di kampus yang sama. Biarlah kita terus seperti itu. Biarlah aku tetap menyebutmu teman SD. Atau teman kampus.

Dan ya.. sosok kawan ngajak kawin tidak ternobatkan untuk kamu padaku.

Iya.. begitu saja.

Jadi.. sekali lagi. Selamat Ulang Tahun. Sehat-sehat dan berbahagialah di sana. Ingat shalat, ingat Tuhan. Teruslah bekerja keras dan menjadi kaya raya namun tak lupa sedekah. Jadilah seorang lelaki yang baik dan temukan jodohmu.

Jangan khawatirkan aku. Bila pun masih tak tertebak kapan aku akan menjadi seorang istri dari seorang lelaki yang harus merasa beruntung. Pada masa penantian itu, aku akan baik-baik saja. Tetap optimis dan semakin cantik. Kamu jangan pernah menyesali yang telah berlalu. Bukan mendendam, seperti tak ada pisang berbuah dua kali. Tak ada pula lamaran yang kuterima dua kali dari lelaki yang sama.

Ohiya. Sepasang sepatu hadiah ulang tahun darimu untukku September lalu mungkin akan selalu jadi alarm. Setiap kali kupakai otomatis benakku akan teringat padamu. Kamu beruntung.

Sejujurnya aku tidak berharap kamu membaca tulisan ini. Namun bila terjadi maka mungkin kamu masih penasaran terhadapku. Hahaha.

Bye…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s