Penampilan di Kencan Pertama

Kesan pertama pada kencan pertama itu penentuan.

Bagi saya, first impression itu mutlak penting. Tentu saja first impression paling dasar adalah tampilan luar. Fisik. Bukan soal ketampanan tapi soal penampilan keseluruhan.

Rapih. Bersih. Wangi. Stylish.

Saya menilai lelaki dari tampilan fisiknya ya  begitu. Bukan soal tampan gak tampan ya, tapi soal mau menjaga/merawat diri. Maka, bila kencan pertama ia tampil maksimal dan keliatan banget berusaha untuk terlihat tampan maka saya akan merasa tersanjung.

Tersanjung karena merasa dia menghargai saya untuk tidak tampil asal-asalan jalan bersama saya.

Pernah jaman kuliah dulu. Ada seseorang lelaki yang tampan dan memenuhi kriteria fisik idaman saya. Putih, tinggi, kurus. Tipikal saya banget. Pada suatu hari kami janjian keluar bareng demi merayakan ultah saya. Dia datang tepat waktu menjemput saya di rumah. Salah satu poin dari first impression yang saya nilai tentunya. Tapi tahukah ada apa dibalik ketepatan waktunya?

Menurut pengakuannya demi agar saya tak menunggu lama maka ia menjemput saya dalam keadaan belum mandi. Ia tengah bermain game bersama temannya lalu teringat akan janji yang dibuatnya dengan saya. Akhirnya sekonyong-konyong ia lemparkan stik PS-nya dan meluncur menemui saya dengan kaus oblong apa adanya dan rambut tak beraturan dan dengan tanp aroma harum apapun. Untungnya dia gak bau. Tapi wajah berminyaknya kelihatan.

Mengetahui hal itu dan tentu saja melihat fakta wajahnya yang tak segar saya jadi ilfil sama dia. Saya merasa tak dihargainya. Saya merasa tidak menjadi seseorang yang harus ia tampilkan performa sempurnanya ketika hendak keluar bersama saya. Padahal saya tampil semampu saya agar saya tak mempermalukannya keluar bareng saya.

Cerita lain. Saya pernah dimintai menunggu lebih lama oleh seorang lelaki (lain) yang akan datang menjemput saya. Alasannya adalah ia masih meeting dengan kliennya. Karena saya tipikal perempuan logis yang mampu menilai prioritas maka saya maklumkan saja. Malah saya mengusulkan untuk mengganti jadwal kencan di lain waktu apabila meetingnya sangat serius yang tentu saja menyangkut arus kas keuangannya. Namun ia keukeuh menyuruh saya menunggu. Yah karena ia membuat saya menunggu dengan pemberitahuan tentu saja saya hargai dan saya tungguin.

Ketika ia berdiri di pintu rumah, mata saya langsung menyapu ke ujung sepatu sport-nya hingga ke topi hitam Nike-nya. Tampilan yang kece menurut saya. Saat itu saya ingat betapa tersanjungnya saya melihat dia tampil menarik hari itu. Kencan hari itu juga gak membuat saya malu dengan fakta tubuhnya yang palingan hanya berbeda sesenti dua senti dari tubuh saya. Wangi tubuhnya menutupi pendek posturnya.

Dalam perjalanan ia membuat pengakuan. Kalau sebenarnya ia tadi bukannya sedang meeting penting. Memang benar ia meeting tapi tak selama itu. Yang membuat ia lama ialah kenyataan ia harus pulang terlebih dahulu ke rumahnya yang jauh untuk mandi dan berusaha membuat diri menarik agar mampu membuat saya tertarik padanya. Mendengar itu, saya tersanjung dua kali. Saya sangat merasa dihargai.

Iya, first impression bagi saya begitu. Seorang lelaki haruslah berpenampilan menarik ketika kencan pertama dengan saya. Bukti bahwa ia tak ingin mempermalukan saya keluar dengannya dengan tampilan awut-awutan.

Seorang lelaki ganteng bisa bikin saya ilfil karena gak mandi. Seorang lelaki pendek mampu membuat saya tersanjung dengan usahanya.

 

Kesan pertama bagi saya begitu. Selanjutnya barulah menilai bibit, bebet bobot.

Dan ya.. saya tetap meyakini satu hal: Jadilah lelaki wangi. Maka ketampanan akan mengikuti.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s