Kecantikan Palsu

Sejak tahun 2010 saya menggunakan softlens untuk membantu penglihatan saya yang kabur. Namun saya selalu menggunakan soft lens berwarna bening. Alasan utamanya adalah agar tidak ada yang mengetahui saya menggunakan soft lens. Ya, di saat kebanyakan orang lain menggunakan soft lens padahal mata mereka sehat untuk sekedar gegayaan, saya malah menutupi fakta saya menggunakan soft lens. Hasilnya, di saat saya menggunakan kacamata, malah dikira saya sedang gegayaan karena mereka tidak mengetahui kalau sebenarnya mata saya minus.

Adik saya pernah bertanya, kenapa saya tak menggunakan soft lens berwarna untuk mata saya. Dalihnya, agar saya kelihatan cantik. Saya menjawab kalau justru itulah yang saya hindari. Kelihatan cantik.

Kelihatan. Namun bukan kenyataan.

Penjelasan lebih lanjut kepada adik saya adalah, “kakak gak mau cantik palsu. Ketika orang mengagumi kita cantik, lalu naksir lalu akhirnya nikah. Terus pas setelah nikah dan dia melihat aslinya kita pas bangun tidur yang tanpa make-up, tanpa soft lens, tanpa dandanan rapi, dia akhirnya menyesal. Melihat kita aslinya tak secantik poto profil.”

Intinya, saya tak mau menipu.

Untuk itulah, saya selalu membeli soft lens berwarna bening.

Namun, pada Januari kemarin, ketika membeli soft lens baru karena yang lama sudah kadaluarsa, saya membeli warna coklat. Memilih warna yang paling mendekati dengan warna asli mata saya yang coklat tuanya tua banget. Bukan yang bening. Karena yang bening saat itu tidak tersedia. Dan karena malas ribet ya sudahlah, saya melanggar komitmen saya sendiri.

Akhirnya, saya pada ditanyain, “Pake soft lens ya?” yaah.. padahal kemarin-kemarin jugak pakek kaleeee…

 

Selain soft lens apa lagi yang dewasa ini lagi ngetrend untuk membuat diri terlihat cantik?

Kamera 360, kamera B29 (atau apalah itu namanya), dkk.

Saya juga tidak menyukai kamera 360. Bukannya saya tak menggunakannya. Ada. Cuma bisa dibilang jarang saya selfie pake kamera 360. Selain karena dengan kamera itu alis saya yang tipis makin lenyap menyisakan serpihan, kamera itu juga cenderung membuat kulit saya terlihat pias, pucat. Saya lebih menyukai warna terang, makanya saya lebih memilih menggunakan kamera biasa untuk selfie yang menampilkan sesungguhnya warna lipstik saya. Bukan berarti saya tidak menggunakan aplikasi apapun untuk mengedit. Ada, hanya saja bukan untuk menutupi cela wajah, melainkan hanya untuk memainkan warna agar kelihatan apik.

Cela wajah ditutupi dengan 360? Hello… wajah itu dirawat, bukan diedit.

Itulah kenapa saya memilih melakukan perawatan wajah yang merogoh kocek ketimbang memakai cara praktis yang menipu. Karena sejatinya perawatan wajah bukan untuk terlihat cantik atau menipu publik, tapi untuk kepuasan diri sendiri dalam merawat diri agar sehat dan terlihat awet muda kayak oma Titik Puspa.

Percuma cantik di poto doang tapi aslinya gak, kan? Jangan sampe deh, kayak kejadian yang pernah heboh di berita online. Tentang kopi darat yang berakhir dengan perkelahian karena si lelaki merasa tertipu dengan poto profil si perempuan yang jelita namun hasil editan.

Entahlah sesajen apa yang dipakai 360 hingga mampu membius banyak perempuan menggunakannya, saya pun tak tahu. Padahal banyak teman perempuan saya yang cantik-cantik aslinya namun masih juga mengandalkan 360. Padahal tanpa kamera 360 sungguh wajahnya sudah jelita, sungguh kulit mulusnya sudah membuat saya iri.

Maka itu, saya gak pernah antusias kalau udah selfie ama beberapa temen lalu menggunakan kamera ponsel miliknya. Ketika saya lihat hasilnya yang di share, ya ampun… hasil 360 atau B29 (apapun lah itu namanya) semua. Kalau udah begitu, tentu saja poto itu hanya untuk saya lihat. Tidak untuk saya share atau posting di akun sosial media manapun milik saya.

Menurut saya, potolah pakai kamera biasa aja dulu. Ketika akan di-share, baru mainkan aplikasi ini itu untuk mengatur kecerahan, kekontrasan atau mem-blur-kan bopeng. Karena gak semua orang suka efek kamera 360 atau B29 (apapun lah itu namanya) yang membuat efek alis menghilang, lipstik kayak abis makan krayon, wajah berpendar aneh, atau kulit kelihatan pucat. Ya, tidak semua. Terutama saya.

Lalu soal 360. Sepake-pakenya saya ama 360 itu paling Cuma buat selfie aja. Poto yang nampilin muka aja. Karena 360 untuk poto rame-rame suatu ide buruk. Soalnya agak serem ngeliat, gak laki, gak perempuan, bibirnya kayak abis ngelumat krayon semua.

 

Hal terakhir tentang penipuan publik tentu saja riasan wajah. Ini suatu hal yang hampir semua orang lakukan. Coba apus alis sinchan, hapus lipstik merona, hapus eyeliner, dan lihat perubahannya. Pasti beda banget. Before-after perempuan dengan make up itu sungguh merupakan keajaiban dunia loh. Mungkin lelaki bisa gak mengenali perempuan yang sama dengan atau tanpa make-up kalau ketemu di jalan. Mungkin ketika akhirnya menyadari kalau perempuan tersebut adalah orang yang sama, hal pertama yang dilakukan adalah membuka mulut lebar-lebar. Tentu saja, saking kagetnya.

Ini juga yang mendasari saya untuk tidak terlalu berlebihan menggunakan pensil alis. Bisa dibilang saya menggunakan pensil alis baru setahunan ini. Itupun karena kritik dan kanan-kiri yang mengatakan jidat saya kayak lapangan bola. Atau aneh ketika saya menggunakan lipstik genjreng dan eyeliner tapi alisnya gak ada. Maka itu, saya sapukanlah pensil alis tipis. Setipis mungkin. Lagi. Saya gak mau, ada cinta lelaki yang nyangkut pada alis saya, bukan hati saya.

 

Mengenai dandanan. Saya sih sebenarnya gak terlalu menor tapi gak juga terlalu polos. Andalan harian saya hanya lipstik, eyeliner. Setahunan belakangan ditambah pensil alis. Bedak? Jarang saya gunakan. Lebih sering hanya menggunakan pelembab dan tabir surya saja.

Bagaimana dengan eye shadow, blush on dan maskara? Ketiga hal itu optional dan lebih digunakan ketika harus pergi kondangan atau acara tertentu saja. Acara tertentu yang benar-benar tertentu.

Mungkin prioritasnya begini:

  1. Lipstik
  2. Tabir surya
  3. Pelembab
  4. Eyeliner
  5. Pensil alis
  6. Eye shadow
  7. Maskara
  8. Bedak
  9. Foundation
  10. Blush on

 

Semalas-malasnya saya dandan, kalau harus keluar rumah, saya pasti menggunakan lipstik.

 

Suatu ketika ada lelaki yang datang ke rumah saya, Ibu saya memperingatkan agar sebelum menemuinya saya haruslah dandan terlebih dahulu. Nah, karena ini untuk urusan yang serius saya malah ingin tampil apa adanya tanpa menipu. Saya gak ingin dia menyesal kemudian. Dengan cueknya saya menemuinya tanpa polesan. Hanya setipis lipbalm berwarna pudar. Karena dia harus tau apa adanya saya.

Saya selalu aware dengan segala hal yang akan memungkinkan orang salah paham akan suatu kecantikan semu. Karena saya tahu pasti, saya ini photogenic. Oke, kalau kamu melihat poto saya kamu-pun pasti akan mengakui kepedean saya ini. Karena kepedean saya lahir dari banyak pendapat orang-orang. Oleh karena itu, saya tidak ingin menambahkannya dengan segala penipuan publik lainnya. Agar kelak, siapapun dia yang akhirnya menjadi lelaki yang beruntung melihat saya untuk pertama kalinya ketika saya bangun tidur dengan iler menetes, tak ada sedikit penyesalan dan rasa tertipu di dirinya.

 

Dua hari tak bekerja dan tak ke mana-mana membuat saya tak bertemu dengan cermin dan tak mengencani tas kosmetik saya. Muka polos sepolos-polosnya.

Lalu tadi, ketika melihat diri saya di cermin maka saya berujar. Inilah saya. Intan sebenarnya. Berwajah pucat. Beralis tipis. Berjidat lebar. Tanpa make up. Tanpa filter.

Bila kamu (lelaki manapun) menjenguk saya saat ini dan masih menganggap saya cantik. Saya tak akan ragu mengiyakan lamaranmu.

Tapi pastikan dulu efek racun karbon monoksida sudah hilang dari tubuh saya.

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Kecantikan Palsu

  1. wahahaha… tapi kyny perlu diciptakan invasi baru ttg cara mudah menghapus make up di malam hari saat mata uda tinggal 1 watt dan kaki terlalu berat utk melangkah ke kamar mandi :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s