Idola

Membaca blog Dek Carina yang bertajuk I’ve Lost The Spark yang menceritakan sedikit tentang kekagumannya dan lalu ketidakkagumannya lagi akan sesosok designer. Ngomong-ngomong soal kagum, saya banyak mengagumi orang, tapi untuk idola, saya kelabakan memikirkannya.

Teringat saya akan suatu sesi di les bahasa inggris jaman kuliah dulu. Sesi speaking dengan tema “idol”. Kita disuruh menyebutkan sesosok idola kita lalu menjelaskan apa yang kita kagumi dari sang idola tersebut. Giliran saya masih lama, namun kening saya udah berkerut aja sibuk mikir sesosok nama yang harus saya sebut. Saya gak punya nama khusus tentang artis yang saya idolakan seperti classmate saya lainnya.

Haruskah menyebut Jackie Chan?
Saya memang sudah menyukai Jackie chan sejak SMP tapi mengidolakannya agak kurang pas. Giliran saya hampir tiba, dan saya hampir pasrah akan menyebutkan Jackie Chan sebagai idola saya. Namun ketika giliran saya tiba. Saya bangkit, tepat saat itu sebuah ide muncul. Tentang sosok idola.

Muhammad SAW.

Iyap. Saya menyebut Rasulullah sebagai idola saya.

Bukan mau sok religius sih. Hanya aja dibandingkan manusia apalagi artis lainnya Rasullullah lebih pantas saya idolakan. Segala hal tentangnya terkisahkan nyata dalam Al-quran dan hadist. Lantas kenapa saya harus mengesampingkan baginda Rasulullah dengan Jackie Chan yang cuma saya tonton filmnya saja?

Saya gak mempermasalahkan orang yang punya idola. Mau mengidolakan JKT 48 sekalipun terserah. Gaji saya juga gak berkurang kok. Hanya saja sosok idola buat saya gak ingin saya sandingkan untuk artis manapun.

Belakangan. Bertahun setelah kejadian di ruang kelas di les bahasa inggris tersebut saya dapat menyebutkan idola-idola saya. Orang yang saya kagumi. Sosok mereka bukanlah artis. Mereka kadang menjelma sebagai orang yang saya sebut, teman, bos, dosen, guru, sahabat, rekan kerja, atau bahkan ibu saya. Saya lebih suka menyebutkan mereka idola saya. Idola tak sempurna. Idola yang kadang saya lihat jelas kesalahan dan kekurangan mereka, namun hati saya tetap mengidolakannya.

Bahkan mungkin pernyataan teman saya benar adanya. Mungkin saya sudah memaafkan dan memaklumi sikap bos saya terhadap saya. Mungkin akhirnya saya kembali mengagumi dan mengidolakannya kembali. Sesuatu yang agaknya saya sangkal berhari-hari ini. Bukan karena akhirnya si Pak Bos mengakui keberhasilan saya. Tapi karena saya sadar, kekurangan, kesalahannya tetap gak menghancurkan apa yang saya kagumi dari sosok beliau. Semua orang punya baik-buruk sikap. Itulah kenapa kita disebut manusia. Bila tidak, kita sudah menjadi Malaikat.

Ya itu, idola saya tak perlu jauh-jauh atau terkenal. Idola saya ada dekat pada hidup dan hari-hari saya. Bisa jadi, diam-diam tanpa kamu sadari, kamu juga saya idolakan atau saya kagumi. Ya mungkin sih.

Advertisements

2 thoughts on “Idola

  1. true. tidak ada yang salah dengan menjadikan seseorang sebagai idola, apalagi jika yang bersangkutan memang punya seribu satu kualifikasi untuk menjunjung predikat tersebut. hanya saja, dalam proses tersebut, terkadang kita lupa, bahwa citra yang terbentuk di pikiran kita seringkali tidak sama dengan realita yang sesungguhnya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s