Ratap

Kenapa saya? Apa Bumi telah kekurangan manusia sehingga sayalah yang menjadi sararannya? Apa Tuhan begitu iseng menetapkan target kepada saya di antara milyaran manusia lain yang bisa juga diberi kesialan serupa?

Ke mana doa-doa saya bermuara? Ke parit penuh kotoran manusia dari tinja-tinja haram?

Ke mana jejak-jejak sujud saya tercetak? Sekedar menjadi kubangan-kubangan kotorkah?

Lalu ke mana perginya rasa percaya saya pada yang Esa? Serupa jejeritan jangkrik semata?

Apa saya tak diperhitungkan Tuhan?

Apa Tuhan lupa telah pernah menciptakan saya?

Ataukah timbangan dosa saya terlalu berat hinggat cobaan yang saya terima tak kalah hebat?

Kenapa saya?

Kenapa tidak manusia lainnya?

Apakah amal mereka begitu banyak, hingga anugerah yang mereka dapatkan layak?

Lalu kenapa saya?

Harus bersembunyi ke belahan dunia mana lagi saya agar terbebas dari kutukan kesialan cobaan bertubi-tubi? Padahal dunia dan seisinya adalah milik-Mu. Kemana saya bisa lari dan sembunyi?

Ataukah haruskah saya mati?

Bahkan kematianpun kepunyaanmu. Bukan malah terbebas tapi semakin terikat akan penderitaan.

Lalu bila, tak ada tempat untuk melarikan diri, kenapa harus saya? Kenapa harus saya yang lemah.

Kenapa bukan yang perkasa saja? Kenapa bukan yang memunyai singgasana saja? Atau yang memiliki kecantikan sejuta tiara? Kenapa saya?

Tuhan…. kenapa saya?

Dan manusia hanya mampu menghujat tanpa ingat taubat. Bukankah hidup terlalu singkat hanya diisi dengan banyak ratap?

Tuhan bukan untuk digugat. Jadilah kuat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s