Sensasi Tembak-menembak

Saya penyuka film action. Aktor favorit saya Jason Statham dan Jackie Chan. Impian paling jumawa milik saya adalah duduk di sebelah Abang Jason Statham yang lagi fokus nyetir mobil kece lalu ngebut-ngebutan ngejar penjahat. Gak heran, setiap kali selesai menonton filmya, malamnya pasti saya ngimpian beliau. Iya. Saya sekonyol itu memang. onion-emoticons-set-6-74

Hal nyata yang bisa saya lakukan demi memuaskan nafsu khayalan saya diboncengi Abang Jason Statham dalam mobil berkecepatan tinggi adalah naik wahana di taman bermain yang bergerak maju dan berkecepatan tinggi. Kecuali Roaller Coaster. Why? Awalnya saya memang pengen naik Roaller Coaster. Namun ketika ngelihat roaller coaster di Lotte World Korea yag panjangnya seperti tak berujung saya jadi ngeri sendiri dan cuma bisa duduk termenung dengan muka pias menahan dingin angin musim gugur ngedenger jejeritan para pengunjung. Serem.onion-emoticons-set-6-85

Hal lain dari film action yang tak luput dari perhatian saya adalah adegan tembak-menembak. Nah, coba sekarang saya mau tanya, apakah kamu juga berpikiran seperti saya mengenai keanehan dalam adegan tembak-menembak di film action? Yaitu kenapa musuh selalu kena tembak dalam sekali shoot namun anak mudanya sering luput dari tembakan setiap kali keluar dari persembunyian dan berlari ke tempat lain?

Gimana? Apakah cuma saya yang mikir gituan?

Beberapa waktu lalu, demi rasa kangen ngeliat muka Abang Theo James di film Divergent dan juga ini gegara Putri Utama yang selalu ngebahas Abang Theo James di facebooknya, saya nonton ulang film Divergent.

Ada adegan di mana Ibunya si Beatrice ‘Tris’ Prior melakukan adegan tembak menembak. Ibunya luar biasa, ditembak gak kena-kena tapi begitu beliau yang tembak kena semua tuh musuh. Tapi akhirnya ada juga sih dia kena tembak lalu mati. Ya mau gimana, Ibunya Tris bukan tokoh utama. Coba tokoh utama pasti di-set gak matik. Keluar dari satu tempat ke tempat lain dan dihujani peluru anteng aja. Nyawa ada 9 kali kayak kucing.onion-emoticons-set-6-118

Nah… demi merasakan sensasi tembak-menembak ala ala Black Widow di The Avanger, saya main Paintball. Dengan bayangan terlihat keren dan ingin menyelamatkan dunia maka saya ikutan bermain paintball bersama rekan kerja saya yang kesemuanya lelaki. Yah.. awalnya sih, mereka itu akan berkencan dengan pasangan masing-masing, namun apa daya kekasih hati belum kelar dandan dan mereka disuruh menunggu selama ‘5 menit’. Itu artinya para lelaki itu bisa menggunakan waktu tersebut untuk masak indomie rebus, cuci motor/mobil juga menyelamatkan dunia. Maka itu, saya ajak aja mereka menyelamatkan dunia.

Udah gagah kali saya menenteng senapan paintball yang beratnya kayak setengah berat saya. Memakai google dan rompi anti peluru. Tapi begitu dengar letupan senjatanya…

kaki adek lemas, bang. Papah adek, bang. Papah ke KUA juga boleh.onion-emoticons-set-6-60

Hampir pengen mengundurkan diri dari tim dan berniat poto doang. Tapi lalu instruktur Paintballnya memotivasi saya kalau inilah momen saya bisa ‘nembak’ lelaki tanpa baper. Jadilah dengan lutut gemetaran saya ikut masuk ke lapangan.

Setelah aba-aba perang dimulai saya langsung bersembunyi. Takut-takut mengarahkan senjata ke arah lawan. Alih-alih ingin terlihat keren bak kakak Scarlet Johanson atau ala ala Tris saya malah lebih kayak Peter Pettigrew si pengkhianat di Serial Harry Potter yang selalu mencicit ketakutan setiap kali bahaya menyerangnya.

Cuma sembunyi di balik tumpukan ban.

Tetiba suatu benak muncul, dalam adegan film yang saya tonton, para anak mudanya selalu berhasil terhindar dari tembakan. Entah karena musuhnya abal-abal entah karena ia gesit sekali. Demi ingatan demikian dan yakin lawan di pertarungan Paintball ini amatir semua maka saya memberanikan memunculkan diri saya bergerak maju untuk berpindah posisi.

Baru juga keluar sebentar paha saya kena tembak. Sial.onion-emoticons-set-6-117

Saya jadi makin gak percaya deh ama adegan tembak di film action. Palsu semua. Rekayasa semata. Gak mungkin deh yang namanya lolos dari serbuan peluru dari lebih dari lima orang bersenjata. Saya aja yang diserang satu orang langsung tewas.

Paha saya sakit banget.

Di sesi kedua. Si penembak belum puas. Mungkin dia dendam pada saya. Karena kalau naksir gak mungkin sesakit ini efek ‘tembakannya’. Kali kedua sasarannya kepala saya. Saya tewas lagi oleh penembak yang sama.

Pulang ke rumah, selain dengan baju yang kotor (berani kotor itu baik) saya juga membawa oleh-oleh memar pada paha dan benjol di kepala. onion-emoticons-set-6-124Serta hilangnya moment saya untuk modus ‘nembak’ seseorang.

Ya… sensasi menembak yang saya rasakan gak seseru imajinasi saya naik wahana sambil ngebayangin muka Abang Jason Statham. Namun bolehlah karena saya berhasil membuat tewas satu orang dengan tembakan saya. Tembakan beneran tanpa modus.

12483352_10204316284261763_1259948080_n
udah macho belum?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iya, saya tahu. Dengan main paintball imej feminin saya yang memang muncul sesekali sirna gak berbekas. Apalagi menginformasikannya di blog ini, hilang sudah karakter lemah, lembut, wanita gemulai yang coba saya bangun. Aaah.. sudahlah. Apa bisa dikata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s