Si Kura

Di sebuah gerai donat saya tengah mengantri untuk memesan minuman. Seperti biasa, ketika mengantri pikiran suka melayang ke mana-mana. Kali itu pikiran saya menguak sebuah ide.

Hmmm… ntar pas mesen minum lalu ditanya namanya saya mau bilang nama saya…

Saya maju ketika antrian saya tiba.

Green Tea Frappe satu dan Iced Thailand Tea satu”

Gelas besar atau kecil?”

Kecil.”

Atas nama siapa ya, Bu?”

Kura,” jawab saya mantap.

Pelayan dibalik cashier machine mendongak sekali lagi. “Maaf bu?”

Kura,” sekali lagi sambil senyum usil.

Agak lama kemudian nama Kura dilantangkan oleh pelayan tanda minuman pesanan saya telah siap. Saya ambil. Dan entah kenapa saya senyum senang telah berhasil menjadi orang lain untuk sesaat. Memunculkan alter ego yang lain.

Ide mengubah nama ini saya contek dari entah Raditya Dika entah Panji entah Roy Saputra. Saya lupa. Yang jelas saya pernah membaca ide ini di blog entah siapa.

Kenapa memakai nama Kura?

Nama blog?

Bisa jadi. Tapi tidak sepenuhnya.

Seorang blogger yang sudah lama hiatus sejak menikah kerap memanggil saya “Kura” di kolom komentar blog saya maupun blog dia. Dia adalah Mifta yang saya panggil Tuta.

Isengnya dia selalu memanggil saya Kura alih-alih Intan meski dia tau nama saya Intan.

Tak masalah. Kura pasti hasil merujuk dari nama blog saya Kura-kura Hitam.

Namun sebenarnya bukan hanya Tuta yang memanggil saya dengan sebutan Kura.

Sosok lain tersebut adalah Ayah saya.

Loh kok?

Mari saya kasih tau sebuah rahasia besar. Rahasia yang jangan diumbar ke siapapun. Tolong jaga rahasia ini. Oke?

Nama lengkap saya adalah Intan Khuratul Aini. Itu rahasia ya?

Sejarah nama saya cukup unik. Pernah saya ceritakan entah di blog ini entah di catatan facebook. Nama saya beberapa kali mengalami transformasi. Nama lahir saya berbeda dengan nama TK saya. Nama TK saya beda dengan nama SD saya. Terus akta lahir saya apa dong?

Syukurnya akta itu dibuat setelah saya besar. Setelah kuliah kalau tidak salah. Ini akibat malesnya ibu saya ngurus akta kelahiran sih ya. Setelah kami semua besar barulah empat orang anaknya dibuatkan aka kelahiran.

Oke soal nama.

Kura panggilan dari Ayah saya itu merujuk ke nama tengah saya sekarang. Khuratul. Harusnya Khura ya. Makhraj-nya harusnya jelas. Namun yang dipanggil memanglah Kura bukan Khura. Kenapa?

Karena merujuk surat cinta ayah saya kepada Ibu saya, nama yang beliau berikan untuk saya adalah KURATUL AINI. Itulah nama lahir saya. Nama sebenarnya saya. Nama pemberian Ayah saya. Yang lalu kena modif jadi Khuratul sebelum terus bertransformasi.

Kamu boleh baca tulisan ini: Ayahku Tak Tahu Namaku. Tapi itu tulisan jaman dengan gaya nulis masih acak adut.

Maka itu ayah saya kerap memanggil saya Kura kalau beliau lagi iseng plus males manggil Khuratul Aini. Belakangan saja, ketika saya sering merantau ke sana ke mari mencari sebongkah berlian sebutan Kura mulai samar terdengar tergantikan dengan panggilan umum saya di rumah ‘adek’ atau ‘Intan’.

Maka itu saya abaikan Tuta memanggil saya Kura. Tak mengapa. Toh itu juga nama saya. Meski pas kecil sering misuh misuh sama ayah seenaknya menyingkat nama saya, tapi kini entah kenapa nama Kura terkesan lucu juga terdengar.

Satu nama. Dua arti. Pertama nama saya, kedua nama blog saya.

Jadi mungkin mulai sekarang bila saya harus menyebutkan nama saya untuk sesuatu hal yang sepele seperti memesan minuman. Saya akan menggunakan nama Kura. Atau Khura.

Advertisements

3 thoughts on “Si Kura

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s