Bidadari Ke-Empat

Aku merutuk perjumpaan kita yang tak sengaja ini, yang menyebabkan dentum jantungku bersuara ‘deg…deg…deg’. Ingin kutahan lajunya dengan menekan tanganku ke dadaku namun kutahu itu ketersiaan. Aku merutuk. Tidak juga. sebenarnya tidak sepenuhnya merutuk. Aku tahu pasti kini ada gejolak di dadaku yang bergemuruh melonjak kegirangan karena aku dapat mendengar suaramu lagi sejak terakhir kali kita bertemu 9 tahun lalu.

Wajah, suaramu, masih membuatku mendesir. Wajahmu bahkan kini terlihat lebih matang, lebih dewasa. Rahangmu yang tegas, sungging senyummu yang menawan masih kuharap bisa kutemui meski 9 tahun telah berlalu. Berlalu sejak kamu menikah dan aku tak sempat mengucapkan aku mencintaimu sejak kita masih berseragam abu-abu.

Masih berdentum deg..deg jantungku, masih tersipu malu wajahku kala kamu berbincang sambil sesekali tersenyum padaku. Masih aku merasa rasaku masih seperti dahulu. Masih ingin aku merekam semua senyum dan binar matamu hari ini tepat ketika 3 orang perempuan berkerudung menghampirimu.

Ayah, Bunda udah selesai nih” ucap perempuan cantik berkerudung biru sambil menenteng belanjaan dan disampingnya berdiri seorang gadis berusia 7 tahun, satunya lagi yang kira-kira berusia 3 tahun sudah berhambur ke atas pangkuan Haris.

Eh Bunda… Bun, kenalin, ini temen SMA Ayah, Intan namanya” aku berdiri dan menyambut uluran tangan wanita cantik itu.

Tan, kenalkan 3 bidadariku. Isha, Bundanya anak-anak, ini si Kakak namanya Raihan, adiknya Jihan.

Aku menyalami istrinya Haris. Dua bidadari kecil Haris menyalamiku penuh hormat. Aku memandang mereka tersenyum sekaligus iri memuncak kepada Isha.

Tan, aku pamit dulu ya. Oh iya, ini kartu namaku. Hubungi aku kapan aja kalau kamu butuh bantuanku atau ada perlu sesuatu.” Haris menyerahkan selembar kartu namanya padaku. Sejurus kemudian, Haris bersama tiga bidadarinya berlalu dari hadapanku.

Aku masih berdiri, angin sore memainkan jilbab hijauku dengan liar. Aku memandang kartu nama Haris.

Aku butuh bantuanmu. Maukah kamu menjadikanku bidadari keempatmu?

Deringan ponsel menghentikan lamunanku akan Haris dan ketiga bidadarinya. Dari Adam. Calon suamiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s