Indonesia Luas Banget

Saat itu saya tengah mengikuti diklat di Padang. Pada salah satu sesi coffe break curhatlah para pakbapak-buibu ini tentang kangennya mereka sama anak dan pasangan yang ditinggal diklat. Saya Cuma diam. Ya bisa apa? Cuma saya yang single. Masa iya saya harus ikutan curhat bilang kangen kakak kost sih?

Salah satu peserta diklat dari Bogor seorang mbak-mbak berwajah manis berkata, “Saya sama suami udah gak tau lagi bilang kangennya. Ketemu 6 bulan sekali,”

Nah, iya nih. Sebagian peserta diklat ini harus menjalani rumah tangga jarak jauh. Suami dan istri. Si mbak-mbak manis dari Bogor tersebut malah beda pulau lagi. dia di pulau Jawa suami di pulau Sulawesi. Jauh yak? Makanya terus dia berkomentar, “Indonesia tu luas banget, yak? Kalau LDR jauh. Mau ketemu berat di ongkos.” Saya mengiyakan banget pernyataan logis tersebut.

Banyak memang rekan seperusahaan dari yang secabang hingga beda cabang, yang saya ketahui melakoni kehidupan rumah tangga LDR lintas propinsi bahkan lintas pulau. Semua karena alasan kerjaan. Semua karena konsekuensi bersedia ditempatkan di mana saja. Mungkin karena satu-dua alasan mereka tidak bisa bersatu. Bisa karena pekerjaan, bisa karena ogahnya si istri ikut suami ke pelosok. Kasus yang sering terjadi sih karena pekerjaan. Ya lumrahlah ya. Jaman sekarang wajar banget kalau istri juga harus kerja. Karena suami gak bisa bedakan mana lipstick 500k dan yang 50k.

Benak saya terbayang akan hubungan saya yang terdahulu. Si mantan yang memang asli Aceh bekerja di Pulau Jawa, sedangkan saya terdampar di pelosok salah satu kabupaten di Aceh. LDR pasti akan menjadi lika-liku hubungan kami kelak pikir saya. maka itu saya membuat beberapa opsi untuk kami pilih nanti bila kami menikah.

  1. Saya bikin mutasi ikut suami ke Pulau Jawa yang pastinya susah banget untuk perusahaan kayak saya.
  2. Suami bikin mutasi minta dipindahkan kembali ke asal yang memang gampang karena dia PNS tapi dengan konsekuensi produktivitas kerjanya akan jauh menurun karena berada di kota kecil.
  3. Bila kedua opsi di atas gak bisa juga terjadi, maka saya yang akan ikut dia lalu resign dari kerjaan saya. Tentu saja ini bila pernikahan sudah berjalan minimal 3 tahun dan tidak ada tanda-tanda akan tinggal bersama kecuali saya bikin keputusan manuver dalam karir saya.

Dan nyatanya, saya gak perlu menjalani ketiga opsi itu karena saya batal nikah sama dia.

Lepas dari dia, tentu saja sekarang saya lebih berhati-hati. Memilih calon suami yang deket-deket aja. Minimal masih satu provinsi-lah walau akhirnya kami harus berpisah kabupaten. Tapi tetep, bila akhirnya tidak bisa bersatu saya rela kok keluar dari perusahaan ini. Ya tergantung pekerjaan suami tapi yah. Cukup gak gajinya belikan saya lipstick yang bukan 50K. *ditoyor penghulu*

Beberapa waktu lalu ada yang ngelamar saya, dia orang Aceh juga dan bekerja di Jakarta. Ah elah… problematika yang sama lagi pikir saya. gini-gini aja kok yang ngelamar pikir saya? tapi karena saya udah pernah punya tiga opsi dalam hidup saya perihal rumah tangga yang LDR, saya diskusikan dengan dia tentang kemungkinan-kemungkinan dari hubungan kami.

Tapi lalu ketiga opsi saya ditolak. Lamaran dibatalkan.

Ini apa cuma saya ya yang ngalamin dilamar terus yang nolak juga pihak yang ngelamar? Kok aneh-aneh aja sih jalan hidup asmara saya?

 

Saya harus punya perencanaan matang terkait dengan pernikahan dan pekerjaan saya. Maka itu, pada sesiapapun yang datang ngelamar baik ke saya pribadi atau ke orangtua saya, langsung saya katakan kondisi saya. Lalu saya serahkan padanya segala keputusan atas tiga pilihan yang saya ajukan. Karena ini adalah konsekuensi saya yang telah bersedia bekerja di perusahaan yang ditempatkan di seluruh Indonesia. Tapi juga saya punya keinginan berumahtangga, makanya pilihan mau digimanakan hubungan rumah tangga saya kelak, saya serahkan ke calon imam saya. Ke calon pemimpin rumah tangga saya kelak.

Ada yang telah setuju atas satu dari opsi saya. Ada yang bahkan tidak mempermasalahkan apapun sebelum merasakannnya. Tapi lalu ya namanya juga belum jodoh ya, ada aja pasti kendalanya. Ya inilah, ya itulah. Yang sayalah. Yang dialah. Ya gitu-gitu aja terus ampe Ibu saya sewot.

Tapi ya, saya kepikiran akan perkataan si mbak-mbak temen diklat saya itu. Indonesia luas banget. Tetiba saya kepikiran. Apa jadinya kalau saya tidak lahir di Indonesia tapi lahir di Negara kecil sebut saja Singapore atau Monako. Akankah masalah karir dan kehidupan rumah tangga menjadi tidak sepelik ini? Ah sudahlah, bila saya tidak tinggal di Indonesia mana lah saya kenal dengan Jokowi dan bisa baca hates-speech-nya Jokowi haters kan yak?

Indonesia luas. Jatuh cintalah pada lelaki/perempuan yang dekat. Agar rumah tangga tak dipisahkan garis bujur dan garis lintang. Agar rindu tak terhalang tiket pesawat. Agar komitmen tidak dibiaskan oleh musim dan zona waktu yang berbeda. Iya, jatuh cintalah pada lelaki/ perempuan yang dekat. Seperti sebuah lagu dangdut, Pacar Lima Langkah.

ind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s