Bersedia Ditempatkan Di Mana Saja

Tulisan ini dikhususkan buat dek-adek yang tengah “menjual” ijazah ke sana ke mari mencari perusahaan yang bersedia menampung. Bila mana di salah satu perusahaan yang kalian incer memunyai persayaratan ‘Bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia’ sebagai salah satu dari sekian banyak syaratnya. Ada baiknya dek-adek baca tulisan kakak cantik ini sampe ke titik penutup tulisan ini.

Sediakan cemilan bila perlu, mungkin bakal panjang. Siapkan air bila perlu supaya gak kesedak. Boleh baca bareng pacar tapi jangan bareng sekaligus dua pacar. Cih.. kerjaan belum punya pacar lebih dari satu. Gak tau apa kalian rekan kerja saya masih banyak yang jomblo?

*ditempeleng rekan seangkatan*

Dek-adek, kakak serius nih ya. Iyah. Panggil kakak aja, jangan Mbak atau Teteh atau Uni, kakak orang Aceh. Gimana, orang Aceh cantik juga kan yak?

Eh mau ke mana? Jangan pergi dong? Iya, iya, kakak serius nih sekarang. Gituh aja ngambek pake mau close window segala. Cih.

Dek-adek, bila kalian membaca syarat bersedia ditempatkan di mana saja, itu sebenarnya artinya memang bermakna yang sebenar-benarnya ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. Kamu bisa terdampar di Aceh. Bukan hanya di kota Banda Aceh-nya. Kamu mungkin akan ditempatkan di pulau Simeulue-nya. Mungkin di Ternate. Mungkin di Sumatera Utara tapi di Labuhan Bilik. Mungkin di Porong. Mungkin di Bima. Mungkin di Natuna. Atau mungkin enak di di Provinsi NTB meskipun jauh dan terpencil tapi memiliki wisata alam yang ciamik.

Iya. Bukalah imajinasi kalian bahwa ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia itu ya seperti itu. Ingat ya, Indonesia Negara kepulauan jadi mungkin kalian akan nyasar di pulau-pulaunya.

Jangan berpikiran picik kalau ditempatkan di seluruh Indonesia itu artinya, bila kamu orang Sumut akan ditempatkan di Bandung. Bila Orang Bandung akan ditempatkan di Manado. Orang Manado akan ke Padang. Iya sih, bisa jadi bisa jadi. Tapi kemungkinan ditempatkan di kota-nya itu kesyil banget. Apalagi pegawai baru.

Saya bosan membaca status temen seangkatan saya di medis sosial menyoal keluhannya ditempatkan di Pulau terpencil yang minim air bersih. Saya pun mengomentari “Emang dulu saat tanda tangan kontrak bersedia ditempatkan di seluruh Indonesia mikirnya ditempatkan di mana?”

Jawabnya, “Setidaknya di kotanya,”

Saya hanya menyungingkan seulas senyum sinis. Dalam hati berujar lagi, “ini pasti kemarin pas ngelamar di perusahaan ini masih fresh graduate bau toga banget,”.

Jadi gini dek-adek, kakak Cuma ngasih pencerahan dan wawasan aja pada kalian agar kalian bisa menimbang-nimbang sebelum kalian memutuskan menandatangani kontrak bersedia ditempatkan di mana saja.

Berikut hal-hal yang harus kalian cermati:

  1. Periksa apakah instansi atau perusahaan itu memiliki cabang dan unit yang letaknya di pelosok desa. Untuk di bidang jasa keuangan gak semuanya memang. Karena masih banyak perbankan yang hanya berada di Ibu kota Propinsi atau juga di kabupaten yang telah maju.
  2. Bila intansi Negara, coba lihat apakah dia memunyai kantornya di pelosok juga atau hanya bertempatkan di tingkat provinsi saja.
  3. Ketika ditanya saat wawancara apakah bersedia ditempatkan di mana saja, tolong ya dek-adek jangan mempehape pewawancara dengan berkata mantap dan siap tapi dalam hati berkata. “Iyain aja dulu yang penting lulus.”
  4. Jangan juga asal tanda tangan kontrak tanpa mikir konsekuensi dari ancaman ditempatkan di mana saja. Ini bukan main-main. Kamu memang akan ditempatkan di mana saja di seluruh Indonesia. Termasuk ke desa yang listriknya sering padam. Atau tidak ada sinyal. Atau tidak ada air bersih.

Iya. Kamu harus berpikir matang dan merasa mampu menghadapi konsekuensinya. Jangan setelah dinyatakan lulus dan ditempatkan jauh dari kampung halaman dan pergi ke kampung lain yang gak ada Indom*r*t-nya lalu kami pasang status di medsos dan nyinyirin perusahaan di status BBM. Berkata kalau Perusahaan kejam dan gak punya perasaan.

Ada juga beberapa teman saya yang gak sanggup lalu memilih keluar alih-alih Cuma membuat status yang pasti gak kebaca oleh pihak SDM. Memang sih itu hak dia, Cuma ya agak kasian. Bila saat seleksi peserta yang lolos berdasarkan kuota sungguh ia telah menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin lebih berharga dan dihargai orang lain selain dirinya. Semua itu karena dia menyepelekan syarat bersedia ditempatkan di mana saja. Padahal mungkin ada beberapa orang yang rela ditempatkan di mana saja agar bisa meraih beberapa lembar rupiah demi kelanjutan hidup dan keluarga. Miris, kan?

Beberapa ada juga yang terus mengeluh karena dipisahkan dengan istrri dan anak akibat penempatan berbeda dari daerah asal. Entah saya harus bilang apa sama golongan ini. Sebagian mereka benar memang, siapa sih yang mau kepisah ama keluarga? Saya sih juga ogah. Tapi bukankah sebelum menikah hal ini memang sudah membayangi kehidupan rumah tangga? Ketimbang ngedumel ama perusahaan kenapa gak suruh aja istrinya ngikut dia? Bukankah suami berhak meminta istri ikut suami ke manapun suami pergi. Dan istri wajib nurut. Kalau punya kerja ya itu sih pilihan kalian. Lebih milih kerja atau suami? Itu kembali ke pribadi masing-masing.

Perusahaan juga punya hak menempatkan kamu di manapun setelah kontrak kamu tandatangi dan setelah rupiah mengalir ke rekeningmu. Dan sebagai karyawan kamu harus nurut kalau ingin dapur terus mengebul dan berlian mejeng di jari manis istrimu. Kalau mau ngeluh di sosmed sih ya itu terserah juga yak. Hak kamu. Sosmed kamu jugak.

Lalu saya nulis ginian apa saya gak ngeluh?

Yeeee…

Kagaklah. Saya ngeluh juga kok. Sempat nangis malah di awal-awal penempatan karena sulitnya menjalani hidup sendiri jauh dari keluarga di kabupaten yang sepi dibandingkan kota tempat selama ini saya tumbuh dan besar. Saya ngeluh juga kok ketika dipindah-pindah ke sana ke mari tanpa hati tanpa mikir susahnya dan capeknya mindah-mindahin barang setahun sekali.

Tapi, semua itu gak saya keluhkan juga di sosmed dan menghujat perusahaan. Saya paling Cuma curhat sama sahabat. Kelar curhat beberapa hari kemudian mood kembali stabil kok. Dan kembali bisa menerima kenyataan juga kewajiban. Mengingat akan janji saya saat wawancara dan kontrak yang saya tandatangani.

Saya tahu jelas apa yang saya lakukan. Saat wawancara di perusahaan yang sekarang saya jalani rutinitas saya, ketika ditanya bersedia atau tidak ditempatkan di mana saja, saya dengan yakin dan bertanggungjawab akan konsekuensinya menjawab iya. Karena saya memang telah yakin akan mampu. Mengigat rupiah yang dibayarkan juga sesuai.

Hal tersebut berbeda ketika saya diwawancarai oleh sebuah Bank ternama. Tahap demi tahap saya lewati hingga berakhir menyisakan 5 peserta untuk diwawancara tahap akhir. Ketika ditanya bersediakah saya ditempatkan di salah satu kabupaten yang jalannya berkelok-kelok lewati gunung , dengan tegas saya katakan “tidak bersedia”. Tentu saja pewawancara terkesima dan kaget. Dia berkata, kalau saya menjawab seperti itu maka kemungkinan saya tidak akan diluluskan. Lalu kembali menjawab:

Saya hanya tidak ingin berbohong dengan mengatakan mampu tapi lalu tak mau. Nantinya saya hanya akan bekerja dengan ngedumel.”

Kamu yakin dengan jawaban kamu, Saudari Intan?”

Yakin. Bila Bapak memang menginginkan saya bergabung di perusahaan ini maka luluskanlah saya tapi jangan tempatkan saya di kabupaten tersebut. Tempatkan saja di sini (Banda Aceh)”

Tapi kami membutuhkan beberapa karyawan di kabupaten tersebut karena akan dibuka cabang baru.”

Kalau begitu saya terpaksa mengatakan tidak bersedia dan saya dan perusahaan ini tidak berjodoh,”

Baiklah, Saudari Intan.”

Seminggu kemudian pengumuman seleksi diumumkan. Saya seorang yang tak lulus. Saya hanya tertawa.

Kejadian serupa terjadi di Bank ternama yang cabang dan unitnya tersebar ke hampir seluruh pelosok Indonesia. Saya inget banget, saya sampai ditelepon hanya untuk meyakinkan saya untuk mengubah jawaban saya pada wawancara akhir. Tapi dasar saya keras kepala, lagi saya tak diluluskan.

Benar memang, perusahaan tidak perlu karyawan sombong dan membangkang seperti saya. tapi saya juga gak perlu perusahaan yang menyusahkan saya.

Namun, ketika akhirnya saya memilih perusahaan ini dengan segala konsekuensi ditempatkan di pelosok itu ya karena akhirnya saya memang merasa mau dan mampu. Mungkin karena status perusahaannya, mungkin karena gajinya, atau mungkin karena langsung menjadi karyawan tetap. Memang sih, ada di mana saya mellow swallow dan bertingkah drama queen dengan kondisi sekarang ini, tapi saya dengan sadar memilih ini makanya berusaha untuk tegar.

Sering denger, “kayaknya betah kali ya di Luengputu?”

Bukan betah. Tapi dipaksa betah,” jawab saya sambil nyengir.

Jadi ya dek-adek. Pahami konsekuensi akan pilihanmu. Sadarlah saat tengah wawancara. Bila tekad telah kamu bulatkan. Berdoa saja semoga penempatanmu baik atau malah di kotanya. Namun bila tidak, tegarlah dan jangan menyalahkan perusahaan. Semua karena pilihanmu.

Lalu kalau masih anak baru jangan buru-buru bikin surat mutasi. Sabar saja. Apalagi kalau masih single, nikmati waktumu. Kelak akan ada masanya juga kok kamu dapat merasakan ditempatkan di lokasi yang bagus. Entah dengan permintaan sendiri, karena sudah lama mengabdi, entah karena situasi, entah karena promosi. Intinya bergabung di perusahaan yang cabangnya seantero Indonesia itu ya harus banyak sabar.

Inget. Jangan asal jawab hanya supaya diluluskan. Perusahaan gak sebercanda itu ketika menentukan syarat. Hidupmu juga gak sebercanda itu dipertaruhkan hanya agar “yang penting lulus aja dulu”.

Oke, dek-adek. Inget ya. Indonesia luas. Pulaunya banyak. Liat peta deh. Terus tandatangani atau tidak tandatangani adalah pilihanmu. Kalau udah tanda tangan lalu tetep ngerasa gak sanggup setelah dijalani ya udah resign aja. Cari kerjaan lain jangan Cuma ngeluh. Karena apa? Ngeluh tanda kamu tak mampu mencari kerjaan lain. Double ngenes kan nasibmu? Udahlah ditempatkan di pelosok eh tak mampu mencari kerjaan lain. Jadi apa? Lebih baik disyukuri dan dinikmati kan? Karena nikmat Tuhan berserakan di seluruh penjuru bumi. Termasuk bahagian bumi yang tengah kamu pijak meski listrik sering padam.

Mengeluhlah sewajarnya. Jangan sebentar-sebentar ngeluh. Karena mengeluh manusiawi bila dilakukan sesuai porsinya.

Sip?

Kakak tahun depan mau dipindahin lagi nih. Koper udah rusak karena kerap diseret ke sana ke mari. Air mata juga udah gak mau keluar lagi, tapi tetep sengeluh-ngeluhnya kakak ama perusahaan kakak tahu pasti perusahaan gak salah. Yang salah itu Indonesia. Kenapa jugak luas banget. Iya kan, yak?

 

*Tulisan ini didekasikan buat adik kandung saya yang sedang mencari kerja. Untuk dek-adek orang lain yang sedang mencari kerja. Juga untuk saya pribadi sebagai catatan agar terus tegar dan mandiri meski diterus dipindahkan ke sana ke mari.

Pindah ke sana ke mari bukan mencari alamat palsu. Tapi untuk mencari berlembar rupiah, tiket liburan, berlian di jari, juga jodoh yang masih belum ketemu.

 

2 thoughts on “Bersedia Ditempatkan Di Mana Saja

  1. Setuju sekali dengan telisan kamu… Kita memang harus konsekuen dengan pilihan kita, bukan dikit-dikit minta mutasi, padahal perusahaan sudah menggaji kita, padahal banyak orang diluar sana yang ingin di posisi kita. Semoga ini jadi pertimbangan bagi para jobseeker yang membaca…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s