Jadi Baik Tanpa Jelekin Orang Lain

Belakangan kita punya kosa kata baru dan/atau lama yang lagi booming ya. Sebut saja, stalker, psikopat, tukang kepo, dan hater.

Ter-tap dua kali dituduh stalker. Meneror dibilang psikopat. Kepencet tombol favorit disebut kepo. Nyinyir di medsos disebut hater.

Tapi iya juga sih, belakangan kita terlalu sibuk mengurusin orang lain. Padahal belum tentu orang lain kepengen kurus, kan? Bisa jadi dia malah pengen gemuk. *ditampol pembaca*

*Serius lagi*

Sibuk ngurusin urusan orang lain. Berusaha menjatuhkan nama baik orang lain. Keukeuh menjelek-jelekkan orang. Lalu lupa bercermin. Lupa dengan kelakuan sendiri yang mungkin masih banyak salah. Juga, mulutnya lebih banyak dipake buat nyinnyir ketimbang zikir.

Ada satu quote bagus yang saya baca di DP BBM temen: “Jadilah baik tanpa menjelekkan orang lain”.

Sebagai orang yang pernah ngerasa dijelek-jelekin sedemikian rupa, saya sih paham gimana rasa kesalnya dijelekkan oleh orang lain agar nama orang tersebut terlihat baik. Jelekin orang = bagusin diri sendiri. Padahal gak gitu juga sih rumusnya. Jelekin orang = menambah dosa. Itu menurut saya rumus yang sesungguhnya.

Sekarang-sekarang ini sih, siapapun kita, apapun profesi kita, bagaimanapun tabiat kita, sepertinya ada aja tuh orang yang sirik ama kehidupan kita. Iya, sekarang ini, kita gak perlu jadi artis sekelas Selena Gomez atau Aurel Hermansyah deh untuk punya hater. Kita hidup bahagia dikit aja langsung ada yang sirik dan menjelma jadi hater.

Bukannya mau belagak drama queen sih, tapi rasa-rasanya ya emang gitu. Dunia udah dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk ngurusin hidup orang lain. Semesta gaduh menggaungkan suara nyinnyir penghuni bumi. Suara petir bahkan mampu dikalahkan oleh teriakan-teriakan penuh kebencian.

Lalu di manakah secuil tempat tersisa yang damai dan nyaman di dunia ini tersisa?

Tidak ada?

 

Tidak. Ada.

Asalkan kita menutup telinga kita dari hujatan dan makian. Asalkan kita tutup hati kita dari rasa dengki. Asalkan kita tidak terlalu bodoh menerima berita mentah-mentah. Asalkan kita lebih memunyai rasa sabar di hati dan tahu kekurangan diri.

Alhamdulillah saya punya para sahabat yang selalu mengingatkan saya bila saya udah nyinyir dikit atau udah berlaku melenceng. Sahabat yang menunjukkan koridor benar tentang rasa sabar menghadapi orang. Sahabat yang membuat saya lebih berhati-hati dalam bersikap. Sahabat yang saling mengajarkan dan tentu saja kadang kala mengejek.

Saya sekarang lebih berhati-hati dalam menggunakan fungsi lidah saya. Mengusahakan agar gak menjelek-jelekan orang. Segimanapun jeleknya orang tersebut. Pertama, kalau orang tersebut gak bikin gaji saya naik/turun, ya gak usah dihiraukanlah. Kedua, kalau orang tersebut memang ngerusuh di hidup kita ya tetep aja saya diam aja, karena berpikir setiap cerita kan punya dua sisi persepsi. Dan kedua persepsi itu bisa jadi benar bisa jadi salah. Ketiga, jangan berusaha mengeluarkan aib orang lain, karena kita ini terlihat baik bukan karena sebenarnya kita memang benar-benar baik, tapi semua karena Tuhan menutup aib kita. Nah, saya kan takut aib saya kebuka, jadi ya aib orang juga gak mau saya umbar.

 

Bertahan diri untuk tidak menjelekkan orang lain adalah bab yang tengah saya pelajari di pelajaran tentang hidup sekarang ini. Materi untuk gak sibuk ngurusin kehidupan orang yang gak bikin kita kaya atau miskin, termasuk salah satu materi yang juga tengah saya usahakan mampu saya kuasai. Karena dunia gak perlu lagi ditambah oleh orang nyinyir, bodoh dan banyak dosa kayak saya.

 

Tapi kalau saya suka becanda di grup dengan gosipin orang tertentu itu murni becandaan aja e…

*dicocol air uji sama grup babat*

 

Menjadi baik tengah saya usahakan dari hari ke hari. Terus memperbaiki diri adalah PR saya setiap hari. Belajar dari kesalahan masa lalu. Mendengarkan nasehat baik dari teman. Menjadi lebih sabar dan banyak senyum tugas berat yang harus saya selesaikan. Dan semoga saja dengan segala kesibukan ini saya menjadi abai untuk terlalu sibuk menjelekan orang lain, mengumbar aib orang lain dan menjatuhkan martabat orang lain. Karena, kita menjadi baik bukan dengan menjelekkan orang lain. Kita menjadi baik ketika orang menilai kita baik tanpa perlu kita umbar atau katakan.

Tulisan ini semoga menjadi pengingat saya. Demi mewujudkan resolusi fresh from the oven: untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Salah satu item metamorfosis.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s