Dimulai Dari Nol, Ya

Dimulai dari nol, ya. Adalah tagline pamungkas dari Pertamina saat kita mau ngisi bahan bakar kendaraan bermotor kita di SPBU. Tagline yang bermakna positif, bila tidak semua petugas SPBU mengatakannya dan melakukannya, ya sudah, saya bisa apa? Bawa motor aja gak bisa. Jadi gak mungkin ada momen di mana saya ngisi bahan bakar di SPBU.

Dalam hidup banyak kejadian kita harus memulia dari nol. Saat pindah kerja misalnya. Saat melanjutkan kuliah. Saat menikah. Saat pindah ke kota lain karena alasan kerja atau ikut suami. Saat melanjutkan kuliah. Saat keguguran padahal usia kandungan sudah hampir trimester ketiga. Atau yang paling ditakuti perempuan, memulai hubungan yang baru.

Pada satu sesi curhat dengan seorang sahabat lewat telepon dengan memanfaatkan paket telepon gratis, seorang sahabat berkata, “Gak mungkin aku putus. Nanti masa aku harus mulai lagi yang baru. Umur aku udah berapa? Emang mungkin masih ada lagi yang mau?”

Iya. Banyak memang orang, khususnya perempuan, yang takut banget untuk berpisah dari kekasih hatinya sekarang meskipun hubungan telah tidak sehat. Tidak sehat itu ragam macam, dari mulai rasa yang sudah menguap, hubungan yang banyak adu jotosnya, hubungan yang terlalu posesif dan mengekang, hubungan sadokis masokis, hubungan yang gak ada rasa perhatiannya lagi, juga hubungan yang entah mau dibawa ke mana hubungan ini.

Padahal hati sakit, ada luka menganga mempertahankan hubungan tersebut. Ada wajah muram yang dipaksa bahagia. Ada sedih yang terus mendera. Tapi demi sebuah kata ‘putus’ yang dianggap monster pelepas jodoh, banyak orang bertahan. Meski terluka. Meski terus bersedih. Meski tersakiti. Meski usia terus menanjak naik tapi gak kunjung dilamar.

Sebenarnya saya salah satu perempuan yang demikian. Perempuan yang takut putus. Mengingat usia yang tak lagi belia namun juga gak bisa dikatakan tua, faktor usia menjadi salah satu penentu saya males putus. Faktor lainnya seperti malas sekali untuk harus memulai hubungan dari nol dengan fase: menemukan-mendekati-merayu-memahami-menerima-menyayangi-mencintai-membuat komitmen. Malas mengulangi lagi hal yang sama. Malas memutuskan sesuatu yang terjalin sudah lama. Juga, masih ada alasan takut putus lainnya yaitu, gimana kalau gak ada yang mau lagi sama saya?

Untuk hal terakhir saya pernah dikecam oleh seorang teman. Dia berkata, “Siapa Intan berani ngomong kayak gitu? Jangan pernah mendahului takdir Tuhan.” Suatu perkataan yang membuat pedang terhunus di sanubari saya. Saya malu. Saya merasa kerdil. Iya. Kenapa saya mendahului Tuhan?

Saya tahu rasanya enggan mengakhiri hubungan yang telah terjalin hingga kalender berganti. Saya tahu gimana rasa malasnya memulai dari nol. Tapi ketika saya (terpaksa) melakukannya ternyata rasanya gak separah apa yang saya pikirkan.

Suatu nongkrong cantik bersama sahabat, salah satu sahabat berkata, “Gimana rasanya putus tunangan?”


“Errr…. Ya gitu. Biasa aja sih.”

Tuhkan, biasa aja pada akhirnya. Gak seburuk yang kamu pikirkan, kan? Segala yang kamu takuti itu gak kejadian, kan? Bahkan malupun cuma bertahan 1-2 bulan saja paling lama.”

Iya”, jawab saya sambil nyengir memamerkan deretan gigi saya yang tak layak jadi model iklan pasta gigi.

Iya. Saya yang udah parno duluan ternyata seperti mendahului ketetapan-Nya. Seperti tidak memercayai keajaban yang mampu Dia berikan kepada hamba-Nya.

Sejak mengakhiri hubungan awalnya memang terasa berat. Namun akhirnya seperti ada beban yang terlepas di pundak. Lepasnya beban ini akhirnya menghilangkan segala rasa khawatir yang selama ini melanda karena menunggu seusuatu yang tidak pasti. Menghilangkan rasa sakit hati dan perasaan diinjak-injak harga dirinya. Menghilangkan kegalauan. Menghilang kesedihan tak berkesudahan akibat hubungan tak sehat.

Ketakutan tidak ada lagi yang menyukai saya? sekarang saya Cuma bisa ketawa aja. Memang hingga kini saya masih belum menemukan jodoh saya yang sebenar-benarnya jodoh, namun yang naksir masih banyak. Pertanda saya masih laku, kan? *dicocol air raksa*

Jadi gini, ketika kita sedang memunyai pasangan kita cenderung menutup hati dan diri, jadi wajar saja kalau ngerasa gak ada lagi yang mau sama kita. Bukan kitanya sudah hilang pesona, tapi semua karena kita begitu fokus sama hubungan yang sedang dijalani meski tidak sehat.

Ketika hubungan berakhir, ketika kita tidak merasa terikat dan mengikat, pandangan kita menjadi lebih luas karena fokus tidak ada lagi. Dan kalau mau kita perhatikan, ternyata kita masihlah laku. Ternyata kemungkinan mendapatkan pasangan yang lebih baik terbuka lebar.

Iya. Melepaskan seseorang itu sebenarnya suatu hal yang bagus kalau saya pikir sekarang ini. Melepaskan berarti mengijinkan lelaki lain yang lebih baik untuk masuk. Lelaki yang mudah-mudahan juga menjadi takdir kita. Lelaki yang pada akhirnya membuat Tuhan dan kita sepakat bahwa dia adalah yang terbaik bagi kita. Bukan hanya terbaik menurut kita.

Kalau hubungan itu bikin sedih mulu dan bikin marah-marah mulu, itu bukan hubungan yang sehat. Bisa jadi kekasih hati sekarang bukanlah yang sebenarnya jodoh. Bisa jadi kita harus menguatkan hati mengatakan putus untuk memulai dari nol dan menemukan orang yang tepat.

Memulai dari nol itu sulit tapi juga melegakan. Karena akhirnya kita bisa lebih peka terhadap apa yang hati rasakan. Jangan biarkan hati kita terus menerus menahan sakit. Ia berhak bahagia. Hingga kelak, kita gak akan iri sama pasangan lain yang hidup rukun, bahagia penuh cinta kasih. Hingga kita gak menyesal di kemudian hari. Hingga hari-hari kita dipenuhi rasa syukur kian melimpah pada-Nya karena telah percaya dan mengharap hanya pada-Nya.

Ia, bila kamu terlalu lelah dengan hubungan yang tak sehat. Akhiri saja. Lalu serahkan urusan jodohmu pada Tuhan. Percaya dan berharaplah pada-Nya. Karena bila percaya dan mengharap pada manusia, kita hanya akan sakit hati juga kecewa.

Memulai dari nol. Saya kini tengah memulai dari nol. Di usia 27 tahun. Merelakan yang lalu, berharap dengan optimis untuk hubungan baru. Hubungan yang semoga segera diaamiinkan para malaikat. Hubungan yang membawa saya ke surga-Nya.

Advertisements

One thought on “Dimulai Dari Nol, Ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s