Latar Belakang Saya Menulis

Ketika seorang teman memergoki blog ini lalu ketemu saya secara langsung pertanyaan, “Sejak kapan mulai nulis, Tan?” adalah pertanyaan paling kerap saya dengar. Tentunya gak saya jawab ngasal seperti, “Sejak TK. Sejak pertama diajarin baca tulis.” Meskipun saya suka bercanda, saya juga tipikal orang gak tegaan menjawab pertanyaan yang mengharapkan jawaban serius dengan lelucon garing.

Saya mulai menulis dan disebarkan di dunia maya ini sejak (antara) tahun 2007-2009. Saat itu Friendster media sosial yang lagi booming. Lalu ada seorang lelaki yang menambahkan saya ke daftar temannya. Saya buka profilnya ternyata dia punya kumpulan tulisan. Iya, Friendster juga menyediakan fasilitas blog atau catatan/note kalau di facebook. Saya baca-baca dan saya langsung jatuh hati pada tulisan beliau. Lalu saya mikir, ternyata gaya tulisan model ginian (gabungan antara curhat dan ngasih opini) bisa dijadikan sebuah tulisan dan dipublish ya ternyata? Pemahaman saya yang cetek banget dalam dunia kepenulisan hanya beranggapan nulis itu berkisar puisi, cerpen, novel atau karya ilmiah dan berita. Gak ada model tulisan literature pribadi seperti ini. Gaya nulis gini akhirnya dipopulerkan oleh Raditya Dika di kalangan Indonesia. Mungkin sebelumnya sudah ada sebelum Raditya Dika, tapi Radiya Dika lah yang paling popular karena mewabah di kalangan remaja. CMIIW.

Sebelumnya bila saya ingin nulis catatan harian pribadi plus apa yang menjadi buah pikiran saya, hanya saya tulis di diary. Dan menurut saya itulah tempat paling layak. Maksudnya siapa sih yang mau tau apa yang saya pikirkan? Tapi ternyata tidak, banyak kok orang-orang yang menyukai tulisan berupa opini pribadi menyoal hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang menjadi bagian di kehidupan kita setiap saat. Hal dari yang remeh hingga melegenda. Karena dari situ banyak pengalaman dan nasehat yang dapat dipetik.

Mungkin saya harus berterima kasih pada lelaki yang menambahkan saya sebagai temannya di Friendster itu, yang juga akhirnya menambahkan saya sebagai satu lagi temannya dari sekian banyak teman yang sudah dia punya di dunia nyata. Dari dia saya punya wawasan baru. Dari dia saya banyak belajar. Dari dia saya bisa juga nulis. Dari dialah saya berani mempublish tulisan saya di dunia maya dan dibaca banyak orang. Dialah pertama kali yang membuat saya ingin menulis bukan hanya di diary. Dia idola saya. Saya sungguh mengidolakannya. Hingga sekarang, setelah kami kenal sekitar 7-8 tahun lamanya, saya masih sangat mengidolakannya. Mengaguminya. Lebih dari itu, menghormatinya. Pemikiran-pemikirannya dari yang ngasal hingga serius sangat cocok untuk dikepoin kalau lagi membuka akun media sosial.

Lelaki tersebut namanya Hendra. Lelaki yang membuat saya menulis. Juga membuat saya sedikit patah hati ketika dia menikah beberapa tahun lalu. Tapi saya rasa bukan hanya saya, banyak perempuan lain yang juga patah hati pastinya mengingat begitu populernya dia.

Saya mengatakan patah hati saya sedikit karena saat saya menerima undangan pernikahannya, saya sedang sibuk berduka atas meninggalnya pacar saya. Duka yang begitu dalam.

Balik lagi ke soal menulis. Bang Hendra memang sosok yang membuat saya menulis, namun ada sosok-sosok lain yang menyadari potensi saya dalam bidang menulis jauh lebih lama sebelum bang Hendra.

Mereka adalah sahabat saya ketika SMA. Kelas satu SMA saya memiliki tiga sahabat, Rona, Yuyun dan Almh.Maria. Pada ulang tahun saya yang ke 15 saya mendapatkan sebuah buku catatan cantik berwarna warni dan wangi (bukan diary, yang ada gemboknya apalagi) sebagai salah satu hadiah yang mereka berikan pada saya. Saya lupa siapa yang mengatakan, “Kamu kan suka nulis, makanya kami ngasih buku ini. Biar hobi dan bakat kamu tersalurkan,”, yang jelas saat itu hati saya merasa hangat. Mereka memang sebenar-benarnya sahabat. Mengetahui kebiasan saya. bahkan ketika saya tidak menyadarinya. Iya. Saya tidak menyadari akan kebiasan saya yang suka menulis atau berkisah. Kalau dipikir-pikir memang iya. Saya sering mencoret buku tulis saya dan membuat kisah atas suatu kejadian sepele. Kadang memang tanpa sengaja mereka membacanya.

Jadi ya itu, ketiga sahabat saya-lah yang membuat saya sadar saya menyukai menulis. Lalu bang Hendra menunjukkan jalan dan menambah wawasan. Pada mereka saya bersyukur. Bersyukur mengenal mereka. Karena merekalah saya bisa menyukai dunia menulis seperti sekarang. Memang, saya belum menjadi penulis professional dan tidak ada buku yang telah saya terbitkan. Namun, memunyai suatu hobi yang dapat dengan mudah disalurkan juga sebagai obat pengendali kewarasan adalah suatu hal yang sangat saya syukuri. Menulis, membuat saya bahagia. Menulis membuat saya waras. Menulis membuat saya mampu mengeluarkan emosi apapun yang terpendam. Amarah, sedih juga bahagia.

Jadi ya itu, sepenggal kisah tentang awal mula saya menulis. Blog ini sendiri lahir bertahun-tahun setelah saya memulai nulis di Friendster lalu dilanjut ke Facebook. Karena untuk membuat blog saya membutuhkan energi rasa percaya diri yang berlebih. Tahun 2010-lah rasa percaya diri itu muncul. Dan hingga kapan? Entahlah. Semoga selamanya. Soalnya ada studi yang mengatakan, menulis mencegah kita dari kepikunan. Menulis membuat otak kita terus bekerja. Jadi ya, saya akan terus menulis. Meski mungkin akan selalu soal remeh-temeh seperti yang ada di blog ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s