Minggu Mendung

Lepas hujan semalam, meninggalkan banyak bekas air di teras. Dua kucing berbagi keset kaki di depan pintu rumah. Tetangga sebelah bangun lebih dulu, dengan teriakan dan rentetan makian memaksaku untuk bangun.

Udara masih dingin. Mungkin di luar rerintik kecil hujan masih bertaburan. Jengkel terbangun tanpa arti. Mata kembali kupejam selimut kembali kutarik. Makian tetangga belum berhenti. Seharusnya si suami yang dipanggil Bang Amad itu berhenti saja merokok dan uangnya dipakai beli beras. Atau bila tidak, bekerjalah lebih keras. Jangan lebih sering berleha-leha di pos ronda dengan alasan menunggu langganan ojeknya menghampiri.

Aku tidak ingin bangun pagi ini. Hujan dan Minggu dua kolaborasi masygul yang kokoh mempertahankan argumen untuk tidak melepas bantal guling berbekas iler.

Mata kututup, rapat, telinga apalagi. Polusi suara pagi hari berisi makian dan hujatan lebih buruk dari polusi udara karena asap knalpot becak mesin tua.

Namun selain dua panca indera yang kututup, ada satu hal lagi yang kututup. Tidak termasuk dari 5 panca indera memang, namun ini organ vital pengendali ruh. Aku menutup hati.

Minggu mendung. Tepat jam 9 nanti Bayu akan mengucapkan ijab kabul. Sungguh sial perempuan yang dinikahinya bukan aku. Sungguh beruntung perempuan tersebut yang hidungnya bahkan tak lebih mancung dari punyaku. Aku sungguh tidak mengatakan perempuan tersebut jelek. Namun sesiapapun perempuan yang menikah dengan lelaki pujaan hati kita pasti otomatis akan menjadi jelek di mata kita, kan?

Iya, kan?

Atau cuma aku saja yang berpikiran demikian?

Terserah.

Minggu mendung. Dengan mata terpejam, aku berdoa dalam hati. Semoga Tuhan berbaik hati mendengarkan doa perempuan patah hati ini agar membuat hujan kian menderas, ditambahi petir yang bikin getir bila perlu. Petir yang langsung mengirimkan energi listriknya ke hiasan sanggul perempuan itu dan membuatnya gosong seketika.

Lamunan konyol dari perempuan berpikiran liar masih berbau iler cukup membuat sedikit senyum tersungging.

Ah sudahlah. Pagi ini sungguh dingin sekali, berbanding lurus dengan hatiku yang beku akibat patah hati. Aku masih ingin tidur. Dengan bantal berbekas iler, dengan selimut bermotif Pooh usangku. Aku masih ingin tidur. Tetangga sebelah sudah berhenti dari makian rutinnya kepada suaminya. Kedua kucing yang berbagi keset kaki bertuliskan welcome juga tak ada tanda-tanda akan bangun. Nasib kucing itu lebih baik dariku. Ia masih mampu tertidur nyenyak meski tetangga bising sekali. Ia masih tidur nyenyak dan tidak patah hati.

 

Hujan bulan Desember. Terima kasih untuk rerintikan pengantar tidur pengobat luka patah hati.

Bayu, kamu brengsek.

Advertisements

One thought on “Minggu Mendung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s