Metamorfosis

Saya sih tidak ingat kapan tepatnya, tapi sudah beberapa bulan ini berlalu. Sejak saya memutuskan mengubah penampilan saya. Bukan ingin mengubah penampilan bak sosialita (apalah saya ini) apalagi berubah menjadi Ranger Pink. Perubahan yang saya lakukan kecil, hanya mengubah salah satu item fashion saja.

 

Saya membuang semua jeans saya. Oke. Tidak sampai membuangnya. Hanya tidak lagi memakainya. Ketika saya ingin mengguntingnya agar keyakinan saya tak goyah. Aksi saya dilarang Ibu saya. Beliau berkata, mending kasih keponakan saya aja yang badannya bila ia tumbuh beberapa tahun lagi akan sama dengan badan saya. Oke. Badan saya sama kayak anak SMP.

Dalam hati saya tidak setuju memang. Kenapa sesuatu hal yang saya hindari demi dalih kebaikan bagi diri sendiri saya hibahkan pada orang lain?

12282908_10204121397389713_1819809055_n

Demi tidak terjadi gonjang-ganjing rumah tangganya Keluarga Rasyid saya mingkem. Soalnya ketika saya membeli beberapa baju model jubah atau tunik atau gamis ibu saya sudah mengernyitkan keningnya.

Tapi tekad sudah membulat. Meskipun masih menuai protes dengan dikatakan penampilan saya kayak mau pergi ngaji atau kayak anak pesantren padahal mau nongkrong cantik di tempat tergahul Banda Aceh, saya bergeming. Saya meneguhkan hati saya.

Awal-awalnya saya tidak membalas protes. Belakangan ketika diprotes meski tidak sampai dilarang tapi lebih seperti disindir saya sudah mampu menjawab, “Mau dibilang kampungan kek, kayak anak pesantren kek, kayak orangtua kek, pokoknya saya tetap pakai baju dengan model kayak gini. Ke depannya tetap akan saya beli baju-baju besar dan celana-celana besar,”

Melepaskan jeans tidak berarti saya total memakai rok atau gamis. Saya masih memakai celana. Hanya saja saya tidak menggunakan celana jeans atau celana yang ketat lagi. Saya memilih celana berbahan kain dengan model yang besar-besar.

12248732_10204121574674145_800197584_n

Bertahap. Begitulah niat saya. Saya ingat ketika ingin mengubah model item fashion di lemari, saya sampai merogoh setengah gaji saya hanya untuk pakaian. Dan pakaian-pakaian gamis itu mahaaaaaal gila. Lebih mahal ketimbang kita beli kemeja pendek biasa, atau kaos biasa. Satu gamis bisa dapet 3 baju. Karena ngerasa gak mampu saya ganti strategi. Pertama, gak usah ngotot beli gamis bermerek yang memang konsen di muslimah fashion. Tapi beli aja baju-baju biasa yang ukurannya besar dan panjang sampai ke bawah lutut. Strategi kedua. Belinya nyicil. Gak mungkin banget untuk pekerja kelas rendahan seperti saya simsalabim mengubah isi lemari yang jahiliyah dengan yang gamis a la a la butiknya Zaskia Sungkar.

Awalnya meski sudah niat berubah, jeans masih dipake sesekali tapi dikombinasikan dengan kemeja panjang hingga di bawah lutut. Lalu mulai mencicil beli celana kain yang bernama jogger baru bisa melepaskan jeans sepenuhnya. Lalu saya mulai memmerhatikan jilbab saya. dalam Al-quran ditulis kalau jilbab itu hendaklah mengulur hingga menutupi bagian dada. Okesip. Sekarang jilbab saya gak ikat ke belakang lagi atau main sampirkan ke bahu. Tapi dibuat sedemikian rupa hingga terulur namun tetap modis. Memakai pashmina merupakan salah satu cara agar jilbab mengulur hingga ke dada namun tetap modis.

Kenapa meninggalkan jeans? Jeans itu cenderung ketat. Jeans saya dulu ketat-ketat. Ada juga celana bukan berbahan jeans melainkan katun karet yang memang menempel sempurna layaknya kulit kedua di kaki saya. Sudah saya alihkan fungsinya menjadi daleman kalau saya bergamis atau memakai rok.

Kenapa perihal metamorfosis ini harus saya tulis di blog? Biar apa? Biar riya? Biar pamer? Biar ngarep ada ustadz ganteng ngelamar?

Oke. Opsi terakhir saya gak nolak emang, tapi ini lebih kepada pengumuman ke orang-orang kalau saya udah mengubah pakaian saya. Orang-orang itu kelak akan menjadi saksi dan juga hakim bila saya melanggar janji saya sendiri.

Simpelnya adalah, ini menjadi pengingat bagi saya. Peneguh hati saya. Agar tidak goyah lagi kala melihat IG olshop yang menjual baju korea tipis-tipis, pendek-pendek, kiyut-kiyut terus jadi pengen. Agar istiqomah jalan saya menuju pakaian syar’i (namun tetap ingin terlihat modis kayak Mbak Okky Setiana Dewi) yang sebenarnya.

Karena dengan menulis di sini, bila nanti setan datang lagi menggoda iman saya yang rapuh dan tipis ini maka saya mungkin akan berpikir dua kali. Atau 17 kali untuk kembali memakai pakaian yang tertutup namun tidak menutup. Soalnya malu dond… udah pada bilang ke orang hingga nulis di blog tapi entar suatu ketika penampilannya masih aja pake jeans ketat, kemeja pendek tipis lalu jilbab disampirkan di bahu. Malu kan?

Makanya sekali lagi saya katakan. Ini pengingat untuk diri saya sendiri.
12285837_10204121421190308_190148032_n

 

Lalu bila ditanya apa rasanya membuang celana jeans yang sebenarnya kalau dipakai akan membuat bentuk kaki saya tampak jenjang dan cantik karena saya memiliki betis yang kecil?

Rasanya sama kayak mengikhlaskan putus dengan tunangan yang tampan, mapan dan dermawan.

Celana tersebut memang membuat saya cantik di mata manusia atau setidaknya terlihat cantik di imajinasi saya ketika bercermin. Namun celana jeans ketat tersebut tidak cantik di mata Tuhan saya. Tidak baik untuk saya, tidak baik untuk cita-cita saya menuju Surga-Nya.

Begitu juga dengan putus dengan tunangan yang tampan, mapan dan dermawan. Lelaki itu memang sangat mampu terlihat serasi dengan saya. Pekerjaannya mampu membuat beberapa temen saya menganggap saya termasuk golongan perempuan beruntung. Kedermawanannya membuat dia menjadi menantu idaman. Namun, tunangan sempurna seperti itu tidak cocok di hati saya. Karena lelaki seperti itu menurut Tuhan saya tidak baik untuk saya. Karena mungkin bukan dia yang menggenggam tangan saya menuju Surga-Nya.

 

Percayalah. Saya mengalami kedua hal itu. Saya tahu rasanya.

Berat. Tapi ini semua demi kebahagian lahir dan batin. Dunia dan akhirat.

 

Allahumma aamiin…

 

10 thoughts on “Metamorfosis

  1. Celana jins nya potong aja sampe seukuran rok cheerleader. Pake di rumah saat…. ehem. Percayalah. Aku sudah pernah mengalaminya. :))))))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s