Panas

Saya hampir basah kuyup. di luar hujan. Dengan keras kepalanya saya lewati saja derasnya, sejak turun dari angkot di seberang jalan gedung ini hingga memasuki area gedung. Sesampainya di tempat tujuan, ruangan besar full ac ini sukses menambah gigil pada tubuh saya. Langkah kaki cepat saya arahkan ke toilet terdekat. Ingin mengelap sedikit tubuh ini agar tidak terlalu terlihat seperti tikus got di pertemuan reuni nanti.

Setelah merasa penampilan agak lumayan saya keluar toilet dan melangkahkan kaki ke café yang dituju. Dalam benak Cuma satu, memesan raspberry tea panas. Duduk di dekat perapian di belakang bagian tengah ruangan.

Dalam café sudah ada beberapa yang hadir, tentu saja penampilan saya ditertawakan. Apa boleh buat. Terlalu banyak kejadian demi hanya bisa sampai di pertemuan reuni angkatan ini.

Setelah memesan hot raspberry tea berikut dengan seporsi apple pie saya duduk santai di tempat duduk yang memang saya inginkan. Berlembar-lembar tissue saya gunakan mengelap baju saya yang memang tak ampuh. Membuang tissue lebih banyak dengan percuma.

Pesanan saya sampai. Buru-buru saya raih cangkir berwarna putih gading tersebut dan berusaha menyesapnya terburu. Tepat pada saat itu juga saya melihat dia masuk. Peraduan bibir dan cangkir teh harus tertunda. Demi melihatnya, cangkir raspberry tea saya tergantung di udara. Bibir saya tersenyum. Namun senyum itu cuma bertahan beberapa detik. Detik selanjutnya wajah saya melongo pias melihat dia masuk ke café ternyata tidak sendirian. Ada wanita bertubuh mungil menggandeng tangannya. Raspberry tea dalam cangkir putih gading tumpah ke baju saya yang memang sudah basah.

aaww…” teriak saya spontan kepanasan. Perut saya panas akibat ketumpahan teh panas. Namun, ada yang lebih parah. Hati saya jadi jauh lebih panas. Panas melihat Nasir membawa seorang perempuan turut serta ke acara ini. Dengan tangan saling menggengam.

Di luar hujan masih menderas. Mataku malah ikutan ingin membuat curahan air lainnya.

Duh.. Tan, kepanasan banget ya?” tanya Riri khawatir melihat mukaku memerah dan mata mulai berkaca-kaca.

Iya. Panas banget.”

Panas akibat terbakar api cemburu, sambungku dalam hati.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Panas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s