Si Kriwil Siti Nurjannah

Rambutnya ikal-ikal kecil, selalu dikuncir kuda dan berwarna agak kekuningmerahan. Perawakannya besar untuk anak umur 6 tahunan. Pemberani. Galak. Namanya Siti Nurjannah. Nama yang gak akan saya lupakan seumur hidup saya. Sahabat pertama saya. Pahlawan saya. Pembela saya. My partner in crime.

Siti Nurjannah. Kami satu kelas di kelas nol besar di sebuah TK yang dulunya sangat ternama di Banda Aceh. Entah bagaimana mulanya pokoknya dia sudah menjadi sahabat saya. Perawakannya yang tomboy dan pemberani membuat hidup saya semasa TK menjadi sangat gampang. Di TK saya dulu wahana mainan khas TK seperti ayunan, jungkat-jangkit, perosotan, panjat-panjatan memang banyak namun tetap saja terasa tidak cukup karena dimainkan secara berkelompok lalu dikuasai.

Semua mainan tersedia dalam jumlah lebih dari satu untuk setiap mainan. Ada yang diletakkan di halaman depan ada yang di halaman belakang. Kalau ingatan saya tidak salah, yang di depan diperuntukkan anak kelas nol kecil, sebaliknya, yang di belakang anak kelas nol besar. Tempat saya, Siti dan seluruh angkatan kami yang kebanyakan pasti lahirnya tahun 1988.

Dengan Siti yang tomboy dan berani, kami selalu mendapatkan setiap mainan yang kami inginkan. Dia bisa mengusir anak lelaki yang merebut ayunan yang hendak saya mainkan. Dia bisa membuat beberapa teman perempuan lari secepat kilat ketika kami sudah ada di ujung perosotan pertanda kami ingin naik. Sosoknya begitu menakutkan bagi yang lain, tapi bagi saya dia pembela saya. Dia yang melindungi saya ketika ada anak lelaki yang menjahili saya, dia menemani saya kala saya belum dijemput, dia membantu saya menghabiskan sup sayur yang jadi menu hari Senin dan juga susu yang rutin disajikan di hari Sabtu yang tak saya sukai. Sebaliknya, ketika hari jumat dan menu sarapannya adalah bubur kacang ijo kesukaan saya ataupun kolak, ia merelakan punyanya untuk saya makan sebagian. Entah ia tidak doyan, entah memang dia ingin berbagi jatahnya.

Dia baik. Baik sekali. Cuma cara bicaranya yang kasar hingga jarang ada yang mau berteman dengan kami terutama Siti. Siti tomboy dan kayak anak laki. Dia suka manjat-manjat sementara saya anteng main ayunan. Meski berbeda kami selalu bersama.

Di TK ada suatu ruangan berukuran 3×3. Suatu arena rumah-rumahan, ada tempat tidur beserta bayi, ada dapur beserta peralatan masak mainan, ada perlengkapan dokter-dokteran, ini adalah salah satu tempa favorit bagi anak perempuan dan selalu antrian untuk dapat bermain di dalamnya. Di kala anak perempuan lain bermain di rumah-rumahan ini berkelompok dengan jumlah 3-5 orang, kami hanya bermain berdua saja tanpa mengijinkan orang lain ikutan gabung saat kami berhasil mendapatkan ruang rumah-rumahan lebih dulu dari yang lain. Entah Siti tidak ijinkan, entah tidak ada yang berani dengannya. Namun suatu ketika ada seorang anak perempuan lugu memberanikan diri minta ikut gabung bermain di dalam rumah-rumahan bersama kami. Satu yang saya ingat jelas, Siti mengijinkannya bermain bersama kami dengan satu syarat: dia menjadi orang yang bertugas ambil-ambil air, dengan kata lain, dia kebagian tugas paling gak enak ketika saya berperan sebagai dokter sementara Siti menguasai dapur. Kalau kita mau kasar sih, kita menyebut si perempuan lugu itu kacung.

Memori tersebut memori paling susah saya lupakan. Dengan muka mau gak mau akhirnya si anak perempuan tersebut mengiyakan perkataan Siti dengan harapan dia bisa kebagian peran menjaga bayi mungkin. Kelak, si anak perempuan ini menjadi salah satu sahabat saya hingga ke bangku SMA. Ia, kami terus bertemu di sekolah yang sama hingga SMA.

 

Dalam hal keusilan Siti memang jagonya. Di sebelah kelas kami ada lorong yang tersambung ke pintu belakang sekolah. Kalau kami membuka pintu yang entah kenapa tidak dikunci itu kami temukan orang gila tidur di sebelah dinding yang menjadi tembok ruang kelas kami bagian luar. Di sebelah tubuh orang gila tersebut ada got kecil. dengan beraninya si Siti kerap menganggu orang gila tersebut dengan berusaha membangunkannya menggunakan ilalang untuk gelitikin tapak kaki si orang gila. Hal yang bahkan anak lelaki saja takut melakukannya. Ketika aksi itu dilakukan, Siti tidak sendirian. Ada beberapa orang termasuk saya berada di dekatnya. Tapi kami bagian menonton dan tertawa saja ketika orang gila itu bangun karena kegelian. Dan menjadi yang pertama melarikan diri saat orang gila tersebut marah. Itu cerita Siti dan ulah jahilnya.

Seingat saya ayah Siti adalah oom-oom tinggi besar berkepala nyaris botak dengan baju loreng-loreng. Pikir saya, wajar Siti bermental baja seperti itu.

Ingatan saya lompat. Akhirnya tibalah hari pertama saya masuk SD. Dengan gugup saya masuk ke dalam kelas. Lalu saya ingat betul, Ibu saya yang memilihkan bangku untuk saya duduk. Lalu saya melihat dia. Si perempuan lugu yang menjadi pesuruh angkat-angkat air. Karena merasa hanya dialah yang saya kenal saya meminta Ibu saya untuk menjadikannya teman sebangku saya. Ibunya dan Ibu saya setuju. Dia juga setuju. Akhirnya saya tahu, namanya Dina.

 

Beberapa hari berlalu. Ketika saya jalan bersama Dina, kami digangguin oleh anak lelaki teman sekelas kami, saat itulah dia muncul. Siti muncul.

Saya kaget sekaligus heran. Siti ternyata masuk di sekolah yang sama dengan saya. Kelaspun sama, tapi kenapa saya gak sadar? Ternyata Siti duduk di bangku paling belakang karena badannya yang besar. Saya dan Dina yang bertubuh mungil harus puas duduk di bangku kedua dekat meja guru.

Sejak saat itu kami main bertiga, saya, Siti dan Dina. Siti tetap menjadi penjaga saya. penjaga Dina juga. Dia masih menjadi Siti Pemberani yang mampu melawan anak lelaki iseng dan nakal.

 

Penampilan Siti selalu sama. Rambut ikat kuda. Hanya pitanya saja yang berganti ganti. Setiap kali melangkah, rambut kriwilnya bergoyang lucu. Saya dan Dina sebaliknya, rambut kami lurus terurai.

Siti selalu bawa bekal ke sekolah, saya sih tidak selalu. Sesempat Ibu saya menyiapkan saja. Bekal Siti selalu sama. Indomi goreng. Karena kegemarannya membawa mie dia sempat diejek kalau rambut kriwilnya itu karena ia terlalu banyak makan mie. Ia tak hiraukan perkataan orang dan terus memakan mie dengan lahapnya. Saat saya tidak membawa bekal, dengan senang hati Siti akan berbagi mie dengan saya. Membagi dua. Tapi jangan harap Siti mau berbagi mie dengan yang lain, termasuk dengan Dina. Cuma sayalah teman yang mau ia bagikan apapun.

Saya merasa Siti selalu ada untuk saya. selalu menolong saya. selalu memberi tanpa mengharap balasan. Dan saya pun gak pernah tahu harus memberi apa untuk Siti yang selalu bisa, selalu punya dan selalu mampu apapun sendiri.

Naik Kelas Dua saya dan Siti duduk bareng. Dengan postur tubuh berbeda Guru tidak mengijinkan kami berbagi meja pada mulanya. Kalau saya duduk di belakang saya tidak akan mampu melihat papan tulis karena dihalangi tubuh teman yang duduk di depan saya dan lebih besar, namun bila Siti duduk di depan dia akan menganggu teman di belakangnya.

Bukan Siti namanya kalau tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Seingat saya, besoknya oom-oom berkepala nyaris botak dan berbaju loreng datang ke sekolah. Dan voilaaa… saya dan Siti duduk bareng. Kami duduk di bangku terdepan namun di sudut ruangan. Siti kebagian di sisi dinding agar tubuhnya tak menganggu sesiapun.

 

Setahun di TK, dua tahun di bangku sekolah dasar ternyata harus puas saya lakoni jejak masa kecil saya bersama Siti. Ketika pembagian rapor kenaikan kelas Siti pamit. Ia mengatakan ia akan pindah sekolah, dan itu artinya kami tidak akan menemui lagi anak perempuan berambut keriting penyuka indomi goreng di kelas tiga. Sedih. Banget. Sahabat saya, pembela saya, penyelamat saya, pelindung saya tidak ada lagi. Pergi. Dan saya ditinggal. Mau tak mau, saya harus ikhlas. Saya harus bisa menghadapinya.

 

Ketika hari pertama tahun ajaran baru dimulai. Di kelas tiga. Itulah saya harus bisa terima kenyataan Siti Nurjannah tidak akan ada lagi di sekolah ini. Teman saya telah pergi. Setelah itu saya tetap sekolah seperti biasa, lambat laun akhirnya saya bisa berbaur dengan teman lain. Bermain dengan semua teman. Ketika diusili oleh anak lelaki nakal, saya harus mampu bertahan dan melawan sendiri. Tidak ada lagi pembela.

Dua puluh tahun telah berlalu sejak saya pertama kali mengenal Siti. Usia telah kami lalu banyak. Sejak hari pembagian rapor itu tak lagi saya dengar kabar tentang Siti. Hingga sekarang saya tak tahu dia ada dimana dan bagaimana kabarnya.

Pernah saat awal mula Facebook muncul saya mencari namanya di kolom pencarian. Nama Siti Nurjannah cukup banyak, wajahnya pun pasti sudah berubah dan susah dikenali, bila ingin berpatokan dengan rambutnya yang kriwil lucu juga sulit. Bisa jadi dia telah meluruskan rambutnya atau mengenakan jilbab seperti saya.

Jadi begitulah, Siti Nurjannah. Sahabat pertama saya. pembela saya. Meski kini saya tak tahu kabarnya, saya berharap ia memiliki kehidupan yang baik. Namun bila keajaiban terjadi pada kami, dan dia membaca tulisan saya lalu menyadari saya sedang menceritakan dia. Sungguh saya ingin bertemu lagi dengannya. Dengan sahabat masa kecil saya. sahabat tak terlupakan. Sahabat berambut kriwil, penyuka indomi goreng, usil dan pemberani bernama Siti Nurjannah.

 

 

Siti, Ini saya Intan Khuratul Aini. Teman yang selalu bersama kamu sejak TK. Teman yang tubuhnya mungil dan selalu kamu lindungi. Saya ingin ketemu kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s