Pasal Menjaga Perasaan Orang Lain

Kau seharusnya jangan membiarkan orang menyayangimu jika kau tidak bisa mempertanggungjawabkannya (Kim Mi young –Fated to Love You)

Setelah berpisah dengan lelaki terakhir, saya lebih berhati-hati ketika ingin memulai hubungan dengan lelaki baru. Di sisi lain, nasib yang harus dialami oleh perempuan cukup umur dan single kayak saya adalah adanya banyak pihak yang berusaha menjodoh-jodohkan saya dengan lelaki yang menurut mereka layak dan pantas menjadi suami saya. Layak menurut mereka belum tentu layak menurut saya. Ini bukan soal fisik dan materi ya. Karena bahkan lelaki terakhir yang memiliki fisik rupawan dan materi berkecukupan tak berakhir bahagia.

Ketika diperkenalkan saya menjadi canggung. Saya takut. Takut mengecewakan pihak yang mengenalkan dan takut mengecewakan pihak yang dikenalkan pada saya. Bagaimana bila saya tidak sebaik testimoni yang diberikan orang-orang yang mengenalkan saya pada lelaki ini? Bagaimana bila saya tidak menyukainya? Bagaimana bila ternyata saya masih terlalu trauma memulai hubungan baru lagi?

Tidak bisa berkata kasar dan langsung memutuskan bilang ‘tidak’ pada lelaki yang dikenalkan melalui perjodohan adalah suatu masalah yang mengganggu. Saya tidak ingin ada hubungan yang rusak gegara saya.  Semisal hubungan antara orang yang mengenalkan saya dan lelaki ini.

Kalut. Namun tidak bisa bertindak spontan seperti yang biasa saya lakukan. Suatu hal yang rumit dalam perjodohan ya ini. Banyak perasaan yang harus kita jaga.

“Kakak bingung gimana mau udahin sesi PDKT ini,” keluh saya pada adik perempuan saya.

“Emang kenapa? Coba aja, mana tau cocok,”

“Kalau kakak ngerasa cocok kakak gak mungkin mau akhiri,”

“Apanya lagi yang gak cocok kali ini, Kak?” Adik saya mulai keliatan malas.

“Visi misi gak sesuai. Banyak hal yang bertentangan tentang hidup,”

“Ya gak apa, kan? Biarin aja, biar kakak ada temennya. Ada yang telponin dan ada yang perhatian ama kakak pas pulang kerja di kosan sendirian,”

Kalau percakapan saya dan adik saya bukan dilakukan melalui telepon mungkin kepalanya udah saya jitak.

“Kita gak bisa membuat orang menyukai kita kalau kita sendiri gak yakin bisa balas perasaannya. Itu PHP namanya,”

“Eh iya juga ya, Kak. Ya udah deh jangan lanjutin. Kasian anak orang,”

Cuplikan kalimat yang saya jadikan pembuka tulisan ini saya kutip dari drama Korea berjudul Fated To Love You. Drama yang romantis, lucu dan cukup menghibur. Lagi, saya gak akan me-review drama tersebut di tulisan saya. Saya Cuma berniat ngasih info itu aja.

Menurut saya dunia harus punya aturan. Aturan tertulis yang harus dipatuhi seluruh umat manusia. Undang-undang soal hati. Tentang pasal menjaga perasaan orang. Dengan ayat 1 tertulis: Dilarang membuat orang lain menyukai kita bila kita gak bisa membalas perasaannya.

Ayat 2 dan seterusnya silahkan tambah sendiri.

Memberi harapan palsu bukan tindakan bijak. Seberapa mengagumkannya kita atau seberapun kita ngerasa kita pantas dipuja puji oleh lawan jenis, tetap saja, memainkan perasaan orang bukan hal terpuji. Karena perasaan seseorang bukan ajang becandaan.

 

Saya yang pernah mengalaminya sangat tahu soal ini. Maka itu, saya gak pernah ingin melakukan kejahatan hati yang serupa seperti ketika saya menjadi korban. Saya gak akan pernah ingin membuat orang lain menyukai saya ketika saya tidak menyukainya.

Karena saya tahu rasanya.

20141107_171930

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ps: kalau ngerasa sistematika tulisan agak kacau, mohon maaf. Saya sudah terlalu ngantuk ketika menulis tulisan ini.

Advertisements

2 thoughts on “Pasal Menjaga Perasaan Orang Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s