Dipanggil Mom

Banyak yang diprediksi bakal melahirkan di bulan Desember mendatang di lingkungan dekat saya. Dari sahabat, rekan kerja, Pak Bos hingga mantan gebetan. Okay. Untuk dua yang terakhir maksudnya istrinya Pak Bos dan mantan gebetan. Uniknya lagi prediksi kelahirannya anaknya lelaki semua. Wuih… mari kita doakan dulu supaya bayinya lahir selamat tanpa kekurangan suatu apapun, sehat, dan bahagia lahir di Indonesia walaupun kelak mungkin kalau udah gede bakal misuh-misuh. Semoga Ibunya selamat dan semoga ayahnya bahagia. Aamiin ya rabbal alamin.

 

Udah jadi kebiasaan saya. Kalau orang lain yang nikah saya yang gabuk jahit baju baru untuk dipake kondangan, gitu juga saat ada yang melahirkan saya yang heboh mau beli sepatu untuk bayi yang akan/baru lahir itu.

 

Kecintaan saya akan sepatu terdeviasi menjadi kecintaan beli sepatu bayi. Apa daya, bayi sendiri belum punya jadinya cuma mampu ngasih sepatu ke bayi orang yang baru lahir sebagai kado.

 

Saya menyadari kesukaan saya akan fashion anak-anak yang imut-imut sejak beberapa tahun lalu. Ketika saya dimintai kakak sepupu saya untuk membelikan baju buat anaknya yang saat itu berusia 1 tahun. Ketika sampai di sebuah toko bayi, aduhaaaai… kenapa juga semua baju bayi atau balita perempuan itu kiyut-kiyut dan baju yang laki-nya imut-imut? Jadinya saya langsung jatuh hati. Sejak itu setiap kali melintas di toko bayi yang memajang baju dan sepatu bayi setiap kali juga saya mengelus perut berharap saya segera hamil dan punya anak.

 

Kini wabah online shop udah marak. Kesukaan saya mencuci mata bisa saya luangkan melihat online shop di Instagram. Salah satu kesenangan menjurus hobi. Akun IG baju bayi/balita juga saya follow. Dan setiap kali liat update-an mereka saya selalu mupeng. Pengen beli tapi gak tau dipake buat apa.

 

Naaah… momentum temen melahirkan adalah satu-satunya jalan keluar terbaik membeli barang lucu, imut, kinyis itu tanpa merasa tersia-siakan. Seperti tadi siang, gaji masuk, saya langsung scrolling akun IG salah satu perlengkapan bayi. Memborong 4 pasang sepatu untuk 4 bayi teman berbeda yang bakal lahir bulan depan. Satu bayi mencuri start dari bulan prediksi kelahiran yang harusnya Desember menjadi lahir di bulan November pada tanggal 24 kemarin. Mungkin ia sudah tak sabar bertemu ibu dan ayahnya.

Ketika selesai memilih sepatu idaman dan ingin memesan via wasap ke admin olshop, ketika itu terjadilah sebuah drama.

Bentar ya, kita cek dulu sepatunya ada atau tidak, mom.

 

Jedeeeeeer……

Saya dipanggil mom.

Langsung pengen adopsi anak kucing.

 

Pengen ngebalas.

Saya bukan seorang Ibu. Saya seorang gadis belia yang masih lucu-lucunya.

 

Namun urung. Saya gak mau memperlambat proses pesan memesan ini. Jadilah saya diam aja dipanggil mom terus-terusan.

 

Lazimnya, ketika belanja online kita bakal dipanggil “sist” namun kali ini lebih spesifik lagi, dipanggil “mom”. Entah sok tahu entah sok akrab.

Ini bukan kali pertama saya beli sepatu bayi secara online. Tapi ini adalah kali pertama saya beli di akun IG tersebut. Akun sebelumnya tak pernah memanggil saya dengan sebutan “mom”.

Dari mana sih dia tau calon pembelinya adalah seorang Ibu? Atau bagaimana dia bisa berpikiran dangkal kalau semua yang beli perlengkapan bayi adalah seorang Ibu? Karena bisa jadi kan yang beli adalah seorang wanita belum menikah yang ingin beli untuk temannya? Seperti saya misalnya.

Tapi ya sudahlah ya. Meski risih dan ngerasa tak suka juga miris tambah sewot karena dipanggil ‘mom’ tapi saya belum punya anak, saya mencoba tenang. Membiarkannya berbuat sesukanya.

Sambil memandang poto-poto lucu bergambar sepatu sepatu bayi tersebut saya membatin. Semoga saya bersegera dapat membeli sepatu-sepatu lucu buat anak saya sendiri. Semoga kesenangan saya akan membeli sepatu menjadi kesenangan yang lebih dari sekedar membeli sepatu untuk bayi orang. Karena sepatu yang saya beli akan dipakai oleh anak saya sendiri.

 

Dipanggil ‘mom’. Oke, mbak-mbak penjual olshop perlengkapan bayi, fine. Saya anggap itu sebagai doa.

e357ee3235d32218aeebfde95db4ceb0_sepatu-bayi

3 thoughts on “Dipanggil Mom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s