Jamrud dan Tragedi Nista

Pernah gak sih membenci suatu Grup Band? Benci sekali, hingga lagunya muak untuk didengar. Hingga bila nama Band itu disebut tubuh jadi merinding gak nyaman. Hingga bila apapun yang berkaitan ama Band tersebut tetiba bikin emosi gak stabil?

Apa Cuma saya aja?

*tertawa nista*

Iya. Saya pernah. Bukan pada Band seperti kangen band, wali band atau setia band. Terus emang kenapa dengan band tersebut ya? *kedip-kedip manja*

Kebencian saya ada pada suatu band cadas yang popular di era 90-an. Band tersebut bernama Jamrud.

Waaaah… kok bisa?

Sebenarnya Jamrud sendiri gak pernah punya salah sama saya. Malah meskipun dulu saya masih bocah ingusan saya suka sama lagu Jamrud. Lirik-liriknya gak terlalu puitis. Liriknya bahasa sehari-hari. Namun kena. Nancep. Yah.. ada sih beberapa lagu yang saya gak suka. Yang terlalu vulgar atau tersirat makian misalnya.

Beberapa hari lalu ketika saya hendak pulang ke Banda Aceh dari lokasi tempat saya ngekost dan kerja, di dalam kendaraan yang saya tumpangi terdengarlah lagu Jamrud berkumandang.

Aku di sini, dan engkau di sana.

Membentang luas samudra biru, memisahkan kita.

Inginku berenang ke kotamu

Tapi pasti tenggelam dan kau sedih

Kirimi aku kabarmu di sana

Lewat telepon, surat, faksimili, ngobatin rinduku

Kirim juga foto ukuran jumbo

Biar nanti kupajang di kamarku

Lirik kocak, makna romantic, suara serak khas. Jamrud. Deg…

Sebuah lagu membuka pintu lorong waktu bagi saya. Ingatan saya terdampar ke beberapa tahun lalu. Ke masa ketika usia saya masih 13 atau 14 tahun. Masih belia. Masih belum kenal deodorant.

Semasa SMP di era saya, sedang terjangkit wabah: keren itu kalau nge-band. Entah di era sekarang masih, saya gak tahu. Meski nge-band itu keren saya tetep aja memilih ekskul Palang Merah Remaja, alih-alih ngeband. Ya mau gimana, suara kalau ngomong aja fals, main gitar gak bisa, nabuh drum gak bisa, bass? Are you kidding me?

Namun seorang sahabat saya yang deket pake banget kala SMP ngeband. Dia membentuk sebuah grup band bersama dengan teman seangkatan berbeda kelas. Si sahabat vokalis. Kami selalu pulang sekolah bersama, dan dia bersama band-nya sering banget latihan sepulang jam sekolah. Jadinya dengan masih berseragam saya ikut dia dan anggota band-nya ke studio sewaan buat latihan. Gak ngerti juga kenapa saya mau ngikut dia. Entah saya kurang kerjaan, entah saya emang kurang kerjaan banget.

Saat mereka latihan saya cuma duduk anteng baca komik dan sesekali dimintai komentar oleh mereka. Ya syukur saya gak harus benerin kabel. Namun, entah di latihan ke berapa tetiba jadi ada yang suka duduk di sebelah saya di dalam studio latihan, ketika sahabat saya dan bandnya sedang… tentu aja latihan bukan nyuci.

Yang turut menemani saya seorang lelaki. Dengan penampilan rocker abis. Pakaian serba itam. Muka kucel kayak gak mandi. Ada rantai-rantai di celananya. Mungkin rantai sepeda. Dan sepedanya udah dicuri jadi ia mengenang rantainya saja. Mungkin. Untuk usia saya tak bisa menaksir berapa, yang jelas jauh lebih tua dari saya. Mungkin ukuran 25 tahun. Selisih lebih dari 10 tahun deh dari saya. Tua dibandingkan dengan gadis remaja baru baligh kayak saya saat itu.

Ketika duduk bersisian namun tak dekat dia mengajak saya ngobrol. Saya jawab aja semua pertanyaannya. Selama dia gak ngasih saya pertanyaan Fisika sih saya ladeni. Mau bahas biologi, bahasa inggris, matematika saya paham. Asal jangan tanya aja masalah tegangan listrik, arus listrik ama saya. Tegang luan rambut adek, bang.

Lalu saya tahu. Dia penggemar band Jamrud. Band yang dia mainkan beraliran Jamrudisme. Lagu-lagu yang dia bawakan lagu Jamrud semua. Penampilan dia dan anggota bandnya Jamrud abis. Dia Jamrud lover.

Suatu ketika, ada sebuah festival kompetisi band. Band sahabat saya dan Band Jamrud wanna be itu ikutan. Saya dipaksa hadir. Pokoknya saya disuruh nonton pertunjukan mereka.

Singkat cerita pengumuman pemenang kompetisi diumumkan. Band Jamrud Wanna Be menang. Saya lupa juara berapa. Lalu setelah hingar bingar keriaan. Tawa bahagia tercipta lalu terjadilah moment itu.

Abang suka sama Intan. Pacaran yuk?”

Napas saya terhenti. Jantungnya mungkin lagi cuti. Soalnya mendadak darah seperti gak ngalir. Wajah pucat pasi. Tangan mendingin.

Saya gak pernah mimpi aneh sebelumnya. Tapi jujur aja ditembak oleh lelaki vokalis band Jamrud Wanna Be yang jaaaaauuh lebih tua dari saya yang tampilannya akan membuat ayah saya pengen guyur air seembar adalah bukan hal baik. Amat sangat gak baik.

Ketika itu kata Pedophilia belum masuk dalam list kata dalam otak saya. Tapi kala itu juga, menurut saya tingkah dia menembak saya adalah suatu hal yang gak bermoral dan emm… menjijikan.

Pautan usia yang terlampau jauh dan saya yang masih SMP saya rasa kelakuannya gak pantas. Menurut Intan yang berusia 13-14 tahun itu gak pantas. Namun menurut Intan yang sekarang berusia 27 tahun, seorang lelaki berusia dewasa menembak anak SMP polos juga adalah hal yang gak pantas.

Saya gak ingat bagaimana saya melarikan diri dari moment canggung itu. Yang saya ingat adalah, esoknya saya gak pernah mau ikutan ke studio lagi temenin sahabat saya latihan. Saya gak pernah mau temenin dia ketika ada festival. Saya gak mau melihat abang vokalis Jamrud Wanna Be. Yang lebih parah. Saya membenci Jamrud sejak saat itu. Lagu Ada Pelangi di Matamu yang sempat saya favoritkan jadi lagu yang enggan saya dengar. Saya tak ingin telinga saya mendengar lagu Jamrud apapun. Karena bila saya melihat atau mendengar sesuatu tentang Jamrud ingatan saya akan melayang ke adegan pernyataan perasaan yang konyol tersebut.

 

Lama….

Trauma tak kunjung pulih.

Kalau udah trauma akan sesuatu hal saya memang gitu. Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk berani lagi mengatasi apa yang menjadi trauma saya itu.

 

Lalu beberapa hari lalu. Untuk pertama kalinya. Untuk pertama kalinya setelah belasan tahun. Saya tidak lagi membenci Jamrud. Iya. Band Jamrud yang sebenarnya. Tidak lagi panas telinga saya ketika mendengar lagu bertajuk Kabari Aku yang saya cantumkan liriknya di atas tadi.

Kirimi aku kabarmu di sana

Lewat telepon, surat, faksimili, ngobatin rinduku

Kirim juga foto ukuran jumbo

Biar nanti kupajang di kamarku

 

Lirik lagu Jamrud manis dan sederhana. Namun kalau kita gunakan lagu ini untuk merayu kekasih di era sekarang udah gak relevan lagi. Kita gak pakai surat apalagi faksimili. Kita hanya perlu telepon atau bahkan video call kalau kangen. Kita gak butuh foto dipajang di kamar. Poto kekasih ada ratusan di galeri ponsel kita. Bahkan di media sosialnya juga tak kalah banyak.

Seperti itu juga dengan saya. bertahun-tahun telah berlalu. Jamrud yang membuat saya benci dan jijik tidak ada lagi. Bahkan perasaan jijik saya pada Abang vokalis itu tak terasa lagi, meskipun momentnya masih saya ingat.

Karena kini, akhirnya saya telah berdamai dengan hal yang membuat saya benci itu. Dibantu oleh waktu. Dilupakan oleh pergantian kalender.

Kini lagu Jamrud bisa saya nikmati dengan santai. Tanpa merasa terlecehkan, malu, marah atau jijik.

Ngurangi beban ini

Ngurangi sesak ini

Ngurangin rasa ingin bertemu

Enggak perlu curiga

Karna tahu kau masih

Memengang janji yang dulu pernah kita s’pakati

Kabari Aku- Jamrud

2 thoughts on “Jamrud dan Tragedi Nista

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s