Meninggalkan, Merebut

 

Menurut saya ketika seseorang menyakiti perasaan pasangannya dengan menduakan hati, maka ketika dia memilih hati yang kedua, harusnya dia mempertahankan hubungan kedua itu sampai kapanpun.

Menurut saya, ketika pihak ketiga masuk ke dalam hubungan seseorang, sudah selayaknya ia perjuangkan hubungan itu sampai ajal menjemput seperti ketika ia berusaha keras merebutnya dari genggaman hati orang lain.

Saya ini tipikal perempuan cuek dan susah menunjukkan perasaan terhadap pasangan, dua hal utama ini seringnya menjadi penyebab saya ditinggalkan. Parahnya diduakan dengan perempuan lain yang lebih perhatian dari saya. Tapi tidak lebih cantik *disuntik mati ama pembaca*

Ketika mengetahui saya diselingkuhi tentu saja saya menjadi emosi seketika. Amarahnya saya memuncak. Kenapa sih harus berhubungan gelap di belakang saya? kenapa gak terang-terangan aja katakan pada saya kalau rasa sukanya pada saya sudah menguap? Kenapa tidak katakan saja kalau ada perempuan lain yang akhirnya berhasil mengalahkan saya dalam mendiami hatinya? Iya. Emosi saya karena hal-hal yang menjadi pertanyaan itu.

Harusnya pasangan saya saat itu katakan saja dengan lugas kalau hubungan tak bisa dilanjutkan. Kita evaluasi bersama. Namun bila alasannya adalah karena cinta pada saya sudah habis, dan dia menemukan perempuan lain yang lebih tepat, saya pasti setujui keputusan memutuskan saya. Walaupun saya begitu teguh dalam mempertahankan hubungan yang krisis, tapi hanya satu alasan saya akan bungkam ketika dimintai putus. Yaitu ketika telah ada cinta yang lain.

Perasaan suatu hal yang gak bisa dipaksa dan diatur. Maka itu, ketika dua orang telah jatuh hati lalu saya menjadi penghalang di antara keduanya, saya rela kok mengalah dan diputuskan. Bukan karena saya gak menyayangi pasangan saya. Bukan. Lebih karena saya gak bisa berbuat apa-apa bila tambatan hatinya bukan saya. Tambatan hati kemungkinan besar menjadi jodoh. Saya tak ingin menjadi tameng jodoh seseorang. Karena mungkin bukan dia-lah jodoh saya. Iya. Saya sesimpel itu padahal. Hanya saja kebanyakan mantan saya menyembunyikan alasannya memutuskan saya. Mereka berdalih tentang kekurangan saya, atau ketidakcocokan sifat. Padahal bila ia katakan sudah mencintai yang lain, saat itu juga saya akan mundur teratur cantik. Bukan maju mundur cantik a la Syahrini.

Bagi mereka yang telah mengkhianati saya, baik pihak lelaki yang menduakan hati, atau perempuan yang merebut hati saya ucapkan selamat berbahagia dengan tulus. Tepat setelah saya sudah bisa mengendalikan emosi dan amarah saya sudah terbang di bawa angin musim kemarau yang kering, saat itu saya merelakan mereka berbahagia. Terpanjat doa agar mereka berjodoh, menikah lalu bersama selama-lamanya usia.

Bukan ingin bertingkah layaknya tokoh utama perempuan sinetron Indonesia yang baik hatinya kamuflase sekali. Tapi memang walaupun jauh dari kata sifat baik hati, begitulah doa saya untuk mereka.

Tentu saja ada alasannya.

Si lelaki dan si perempuan telah bermain belakang. Si lelaki berusaha keras menutupi kenyataan. Si perempuan berusaha keras merebut hati si lelaki agar utuh menjadi miliknya. Mereka berusaha. Lalu ada korbannya. Saya. Hati saya yang terluka. Masa depan saya yang berubah. Harapan saya yang pupus. Dan harga diri saya yang terinjak-injak. Semua itu adalah efek samping dari hubungan di atas hubungan yang mereka ciptakan.

Dengan saya sebagai korban. Dengan mereka yang telah berusaha begitu keras. Sudah sewajarnya saya mendoakan. Ketika saya yang dipatahkan hatinya tentu imbalannya mereka haruslah bahagia selama-lamanya.

Terutama si Perempuan, sebagai pihak yang ngotot merebut milik orang lain (meskipun dia yang dirayu tetap saja merebut karena sudah tau milik orang kenapa mau dirayu?), saya rasa bila kelak hubungan mereka kocar kacir dan memutuskan berpisah, coba lihat lagi ke belakangan. Ke masa lalu. Akan semua usaha untuk merebut seseorang dari perempuan lain. Akan usaha demi kebahagian sendiri lalu menyakiti perempuan lain. Akan usaha merusak harapan dan mimpi perempuan lain. Atas semua perjuangan dan usaha itu tidakkah layak hubungannya itu pantas juga diperjuangkan? Pantas dipertahankan karena mewujudkannya butuh energi?

Buat si Lelaki, sebagai pihak penentu. Setelah menentukan memutuskan satu hati menjadi terluka, lalu menentukan hati yang lain menjadi pemenang. Bukankah harusnya membahagiakan si perempuan pemenang hingga akhir? Perempuan yang dipilih. Perempuan yang membuatnya berpaling. Perempuan yang lebih dan lebih dari perempuan pertama. Akan semua alasan tersebut, tidakkah layak kalau hubungannya juga pantas diperjuangkan hingga menjadi pemenang abadi.

Iya. Saya mendoakan mereka bahagia. Karena saya telah berkorban dan terluka parah.

Nyatanya. Doa saya tidak dikabulkan. Mereka sepertinya sangat suka mencandai cinta. Seperti mereka mencandai perasaan saya, mereka juga mempermainkan perasaan mereka sendiri. Setelah puas dengan kesenangan meninggalkan dan merebut, tidak lama kemudian mereka putus.

Luka saya sia-sia. Doa saya percuma. Kalian memang suka bercanda. Mungkin suatu saat kalian harus mengetahui, perasaan orang lain tidak sebercanda itu. Masa depan orang bukan bualan. Karena satu saja keputusan yang kalian buat, akan memengaruhi masa depan orang lain. Ingat itu.

Teruntuk pasangan yang memilih perempuan lain, Perempuan kedua gak pernah akan menjadi perempuan yang lebih baik. Karena perempuan baik-baik gak akan sudi mengambil milik orang lain. Gak akan mungkin mau membalas rayauan lelaki yang telah dimiliki perempuan lain.

Cinta memang tidak bisa dipaksa, tidak bisa diatur. Namun cinta, bisa dikonversi ke bentuk lain. Untuk dibiarkan terus tumbuh menganggu atau menguap tapi menyejukkan. Seperti udara.

 

Advertisements

4 thoughts on “Meninggalkan, Merebut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s