Lima Huruf

Beberapa hari ini entah mengapa saya selalu membayangi wajahmu. Entah di kantor, entah di rumah, bahkan kadang ketika di pasar ketika membeli sayur kangkung dua ikat dan tak lupa sesisir pisang. Entah kenapa belakangan saya mencandui pisang. Seperti entah kenapa belakangan benak saya penuh kamu.

Saya mencari pola kegelisahan. Menemukan akar permasalahan. Mengumpulkan bukti demi bukti. Menganalasis kasus per kasus. Menentukan rumus. Menyusun skema. Dan akhirnya satu kata mampu saya rangkai.

Rindu.

 

Lima huruf. Membayangi 24 jam. Beberapa hari. Jangan dikonversi dengan detik. Itu akan banyak. Banyak sekali. Bila detik rindu itu menghasilkan uang, maka saya sudah kaya mendadak. Tak perlu lagi saya bekerja dari pagi hingga sore dengan resiko menemui nasabah ngeselin setiap harinya. Hanya dengan rindu saya mendapatkan uang. Gotcha! Sungguh spektakuler arti dirimu untuk saya.

 

Padahal hanya rindu. Bukan cinta.

 

Menilik semua yang saya alami belakangan. Memori saya teringat akan kebersamaan kita dulu. Dulu sekali. Ketika kita masih sering bercengkerama. Ketika kita masih suka membuat lelucon garing. Ketika kita suka menghujat orang yang menganggu kita. Ketika kita merangkai mimpi konyol kita. Ketika kita tertawa satu sama lain. Ketika bibir tersenyum dan mata saling menatap hangat. Untuk semua itu saya rindu.

Beberapa saat lalu saya timang-timang ponsel berukuran 5 inch milik saya. Sudah saya tetapkan sebuah nama dari daftar kontak. Hanya tinggal menyentuh layar tempat icon berbentuk telepon berwarna hijau, maka sudah pastilah sambungan telepon tertuju padamu. Menuju suaramu. Hal yang saya rindui.

Namun sebelumnya sejenak ragu menyergap. Akankah kamu merindui saya juga. Atau paling tidak, bila saya mengucap rindu akankah kamu merindui saya. Atau minimal sekali, bila saya katakan saya merinduimu, akankah kamu menanggapi meski hanya sebuah senyuman.

Rey… aku rindu. Rindu setengah mati.

 

Setelah satu helaan nafas meyakinkan. Icon telepon berwarna hijau itu saya sentuh dengan jemari gemetaran. Gemetar yang sama seperti ketika saya memutar kenop pintu ruang sidang skripsi saya beberapa tahun lalu. Perasaan yang sama. Kepanikan yang sama.

Nada sambung terhubung. Suara nada sambung ya selaras dengan suara detak jantung. Berpacu. Berpadu. Bersorak-sorai, entah merayakan atau malah mengejek aksi saya.

“Ya.. Tan?”

Napasku tercekat begitu saja begitu saya mendengar suaramu menjawab telepon saya.

“Haloo… Tan? Tan? Intan?”

Jawab sesuatu, Tan. Ayo.. pikirkan sebuah kata. Apapun selain rindu. Cepet. Atau kamu mau menangung malu di sisa usiamu.

Sambungan terputus. Saya yang memutuskan. Kalau tidak ingat belum punya cukup uang untuk membeli ponsel baru dengan tingkat RAM yang lebih tinggi agar mampu menggantikan kinerja RAM otak saya yang lambat dan terlalu bodoh ini, tentunya sudah saya banting ponsel berwarna putih itu.

Nada pesan masuk dari Whatsapp berbunyi. Pesan tersebut tidak saya buka. Melalui tampilan layar depannya dapat saya baca isi pesanmu.

Intan.. tadi salah tekan ya? Kamu ngigo lagi sambil main hape? Dasar.

Tuhan.. kata orang, saya perempuan pintar. Tapi kenapa untuk urusan mengucap lima huruf saja system kerja saraf somatik saya menjadi lumpuh seketika?

12272571_10204121577674220_70701788_n

 

Advertisements

One thought on “Lima Huruf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s