Jembatan Jiwa

Ini mengenai salah satu dialog dalam adegan drama korea Good Doctor. Drama Korea yang berjumlah 20 episode yang mengisahkan tentang Kehidupan Dokter Bedah Anak. Tokoh utamanya adalah seorang Dokter Bedah Anak autis yang mengidap savant syndrome. Ya.. begitulah kisah umumnya dari drama tersebut. Ini bukan blog drama korea jadi saya ogah menceritakan detilnya atau previewnya karena jumlah episode-nya banyak. Dua puluh. Banyak kan?

Tapi jujur, saya suka drama ini karena memberi saya pengetahuan baru akan dunia kedokteran. Yah.. meskipun banyak kesempatan saya harus pause tontonannya dan beralih ke google guna mencari tau makna dari perkataan dalam dialog dengan tema kedokteran ini.

 

Episode 19. Ada scene yang menceritakan di mana Dokter Park Shi On (dokter autis) merayakan hari pertamanya berpacaran dengan Dokter Cha Yoon Soe dengan pergi ke suatu tempat. Tempat yang dipilih adalah ke tukang ramal.

 

Dokter Cha menanyakan bagaimana kelak hubungannya dengan Dokter Park, apakah akan baik-baik saja. Si Peramal mengatakan hubungan mereka akan baik-baik saja tanpa hambatan. Namun, mereka hanya memiliki satu jembatan jiwa.

Jembatan jiwa.

Apa itu?

Bagi pasangan yang putus lalu kembali bersama, maka mereka memiliki banyak jembatan jiwa. Namun bagi Dokter Park dan Dokter Cha, mereka hanya memiliki satu jembatan jiwa. Yang mana, bila itu hilang mereka tidak akan bisa bersama lagi. Gak ada istilah balikan setelah jadi mantan.

Jembatan jiwa.

Hmmm…

Saya punya prinsip. Gak pernah mau balikan ama mantan. Sekeras apapun usaha mantan ngajak balikan, saya tetap gak mau. Bukan tanpa alasan, tentunya dengan pemikiran matang.

*halagh…

Jadi gini, menurut saya, suatu hubungan itu gak selamanya mulus seperti paha JKT 48. Pasti akan ada liku, konflik dan segala perintilan masalah. Ini adalah sebuah keniscayaan. Maka itu, diharapkan bila sudah memutuskan untuk berkomitmen, maka sebaiknya segala permasalahan diselesaikan baik-baik, bukannya melarikan diri dari masalah lalu dengan gampangnya minta putus.

Saya pernah ngasih tau salah satu mantan saya yang saya lupa mantan ke berapa. *halagh*

Ngasih taunya gini.

“Bila ada masalah sebaiknya kita selesaikan. Kita evaluasi bersama. Lihat di mana, apa dan siapa yang salah. Jangan langsung minta putus. Kalau kayak gini, gimana entar kita menikah. Jangan-jangan kalau ada masalah Abang langsung ceraikan Intan,”

Nah.. buat kamu yang merasa mantan saya, dan ngerasa pernah saya katakan hal tersebut di atas boleh ngasih tau saya sebenarnya kamu mantan yang mana.

*disemprot baygon*

Yap. Setelah berhasil menghindar dari semprotan baygon, saya akan melanjutka tulisan ini.

Saya memang bukan pasangan yang baik. Banyak pacar saya terdahulu menyoalkannya. Saya tidak perhatianlah, tidak menunjukkan cinta lah, tidak bersikap layaknya pacar. Iya. Ketika saya memutuskan mau berpacaran, saya memang masih menutup diri dan mengindari kontak fisik dalam wujud apapun. Mungkin itulah yang membuat mereka tidak yakin dengan perasaan saya. Namun, dibandingkan dengan perasaan, saya punya keteguhan yang kuat. Bilamana saya telah memutuskan untuk berkomitmen dengan satu orang, maka saya akan serius dengannya. Cuma dia. Hanya dia. Bahkan meski saya digoda lelaki tampan mirip Adam Levine pun saya bergeming. Pasangan saya akan menang mutlak dibandingkan siapapun di dunia ini.

Itu saya.

Makanya, ketika ada suatu masalah. Saya selalu sebagai pihak yang paling ngotot untuk mempertahankan hubungan. Ini artinya juga, saya selalu menjadi pihak yang diputuskan atau ditinggalkan. Karena karakter saya yang bertahan saya gak pernah memutuskan siapapun sebesar apapun masalahnya. Sebesar apapun kesalahannya. Entah saya terlalu baik hati, entah bodoh. Namun bagi saya, hubungan bukan suatu bercandaan yang bisa ditinggalkan kala bosan.

Kesetiaan saya boleh diadu. Keteguhan saya boleh diuji. Silahkan saja. Namun bila semua sudah berkhir, jangan pernah muncul dan memintanya kembali. Jangan.

Seperti teguhnya hati saya mempertahankan hubungan yang krisis, begitulah juga teguhnya hati saya tak pernah mau berbalikan sama mantan.

Kesempatan kedua?

Tentu kesempatan kedua bagi saya bukanlah menerima kembali mantan. Saya telah berikan kesempatan itu. Tentunya ketika kata putus terucap, di situ saya telah meminta penangguhan waktu untuk berpikir ulang. Berpikir matang. Berpikir bijaksana. Menyelesaikan masalah bukan menghindarinya. Itulah kesempatan kedua yang saya berikan. Saya berikan untuknya. Untuk saya. untuk hubungan kami.

Namun kala palu sudah diketuk tanda keputusan sudah membulat maka semuanya berakhir. Selanjutnya, jangan pernah meminta mengulang sesuatu yang telah diputuskan. Jangan pertanyakan lagi rasa saya. Semua berakhir.

Seperti menjilat ludah sendiri. Itulah analogi yang saya berikan ke mantan saya kala dia meminta balikan. Kasar memang. Tapi menurut saya demikian adanya.

“Untuk masalah kemarin saja, Abang memilih mundur dan meminta putus. Bukan gak mungkin ke depannya Abang akan melakukan hal yang sama. Sekali Abang gak mampu bertahan, itu berarti selamanya,” itulah jawaban saya ketika mantan meminta putus.

Bukan tentang jembatan jiwa saya dan mantan saya Cuma satu. Bukan. Ramalan itu hanya di drama dan saya tidak memercayainya. Hanya saja, ini sebuah prinsip saya.

Jadi, sekeras apapun mantan meminta kembali pada saya. Saya hanya bisa bersimpati atas segala penyesalannya. Penyesalan berupa dia pernah menyia-nyiakan perempuan seperti saya.

Pada episode 20 yang menjadi episode terakhir drama bertajuk Good Doctor muncul lagi si Peramal dalam sebuah scene dengan Dokter Cha. Akhirnya terkuaklah bahwa ramalannya hanya omong kosong belaka. Bahwa Jembatan Jiwa hanya akal-akalan dia saja agar semua pasangan berhati-hati dengan hubungan mereka. Dan konsep “jembatan jiwa Cuma satu” dia katakan ke semua pasangan.

Drama Good Doctor ini sendiri entah kenapa membuat saya penasaran dengan dunia kedokteran. Padahal sebelumnya saya tak pernah bercita-cita menjadi dokter. Bercita-cita menjadi istri dokter sih pernah. Untuk itu, mungkin kini saya perlu bermunajat lagi pada-Nya, meminta Ia memunculkan sesosok dokter tampan, mapan, dermawan yang kali-kali aja mau ngelamar saya.

 

Allahumma aamiin…

 

One thought on “Jembatan Jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s