Lari Dari Kenyataan

Dua tahun belakangan, ketimbang lari pagi yang dulunya kerap bahkan hampir tiap pagi saya lakukan, kini saya lebih suka lari dari kenyataan.

Bukan karena lari dari kenyataan lebih gampang ketimbang lari pagi. Gak juga. Hanya saja, belakangan semenjak usia yang kian menanjak, problematika hidup juga kian apik tercipta.

Masalah satu selesai. Masalah lain timbul. Hidup jadi penuh masalah. Masalah dari segala aspek, karir, asmara, sosial, bahkan ekonomi. Semua datang silih berganti atau bahkan terkadang menampar secara simultan.

Ketika di saya masih tinggal di Bireuen pada tahun 2013 hingga Maret 2013, lari dari kenyataan masih tak sering saya lakukan. Namun sejak berpindah ke Ulee Glee (tentu saja karena pekerjaan) pada Maret hingga April 2014, lari dari kenyataan hampir tiap hari menerpa.

Terkadang mencoba berpura-pura ketawa dan membuat khayalan dalam kepala mengangankan bahwa hidup saya baik-baik saja , bahkan normal dan bahagia seperti yang kerap dikomentari oleh orang-orang. Terkadang melepaskan penat dengan melarikan diri dari kosan sempit di Ulee Glee dan mencari hiburan sesaat ke kota Banda Aceh. Hampir tiap minggu saya pulang. Alasannya saya butuh hiburan dan makanan enak setelah weekdays terpenjara di sebuah desa yang bahkan untuk mencari pantyliner aja susah.

Di Banda Aceh saya nyari capek. Bertemu teman dari pagi hingga sore dengan perkumpulan berbeda, berbelanja, makan-makanan enak, dan kadang karaokean. Seperti menikmati hidup dan masa muda yang penuh foya-foya ya?

Tapi sebenarnya hanya sedang melarikan diri. Melarikan diri dari kenyataan bahwa hidup saya tak mudah. Tak indah. Tak bahagia.

Saya tak bersyukur? Iya. Saya gak bisa bersyukur. Segala apa yang saya dapati di Ulee Glee adalah hal buruk. Makanan yang tak enak, yang seringnya hanya bikin saya mencret. Teman kantor yang usil. Kerjaan yang membosankan dan segala kehidupan sehari-hari yang membosankan. Semua saya salahkan. Saya gak bisa bersyukur.

Tapi kini saya di Lueng Putu. Sejak Mei 2015 hingga sekarang. Awal-awalnya saya masih menghujat desa yang tak jauh lebih modern dari desa Ulee Glee. Hanya saja di sini ada Indomaret hingga mencari pantyliner tak sulit. Desa ini sungguh memainkan emosi saya. mati lampu sehari 5 kali. Belum lagi keadaan kantor yang mengenaskan. CCTV kantor rusak, CPU kantor rusak, UPS rusak, bahkan AC-pun rusak. Kenapa saya mendapatkan semua kerusakan ini bahkan ketika hati dan hidup saya rusak. Hujatan kembali terlempar.

Ke Lueng Putu adalah tahap lari dari kenyataan yang lain. Saya meminta dipindahkan ke unit ini karena saya ingin lepas dari segala kebosanan Ulee Glee. Di unit ini pula saya kerjanya sendiri, suatu cara yang tepat melarikan diri. Mencari kesibukan. Membuat fisik lelah. Hingga melupakan luka hati. Tentunya tiap minggu masih melarikan diri ke Banda Aceh. Mencari hiburan semata.

 

Saat saya menulis tulisan ini adalah hari Sabtu tanggal 7 November. Harusnya saya sudah di Banda Aceh. Menghabiskan malam di sebuah restoran atau café apapun itu. Namun nyatanya saya menikmati libur saya di desa ini dengan memasak, menonton, mencuci, main game dan menulis.

Mati lampu juga. Tapi kenapa saya tidak geram dan tidak pula menyesal tidak pulang ke Banda Aceh?

 

Akhirnya saya sadar satu hal:

Saya sedang tak lari dari kenyataan.

 

Satu hal lainnya:

Hidup saya sedang woles.

Hati saya tentram. Senyum saya terkembang. Ya.. saya tak perlu melarikan diri untuk sekarang ini.

Air Terjun Lembah Anai, Sumatera barat
Air Terjun Lembah Anai, Sumatera barat

 

Hidup memang begitu. Kadang sulit membuat ingin menangis. Kadang santai hingga senyum terlalu lebar dikembangkan.

 

Untuk senyum yang saya hadirkan sekarang. Hadir dari luka-luka yang pernah terpatri. Kelak pasti akan ada lagi gejolak hidup lainnya yang membuat tawa menjadi bungkam, air mata menganak sungai. Itulah hidup. Namun akhirnya saya pasti menyadari. Akan ada kelak suatu masa kita berhasil melewatinya. Berhasil setelah pelarian panjang lalu akhirnya berjalan santai.

Karena masalah mau diselesaikan dengan cara cepat dengan mencari solusi atau dengan lari dari kenyataan dan membiarkan waktu mengobati luka. Akhirnya masalah pasti berlalu. Terbang dibawa angin yang mengabarkan kalau…

 

Hei Intan. Kamu perempuan kuat. Selamat atas keberhasilan melewati satu tahap lagi kesulitan hidup.”

 

Luengputu. Tetap tak akan membuat saya merasa berada di kota Banda Aceh dengan segala kesenangan yang bisa saya dapatkan. Namun kini, hari ini, setidaknya saya tidak menggerutu.

One thought on “Lari Dari Kenyataan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s