Timbangan Rusak

Setelah mendenguskan helaan napas kesal, saya turun dari benda berbentuk persegi yang memunyai jarum penunjuk angka pemberi informasi bobot tubuh.

Timbangannya kayaknya rusak,” ucapku pada adikku yang tengah asyik melayap layar ponsel pintarnya.

Masa sih, Kak?” tanyanya acuh tak acuh.

Iya. Masa berat kakak 44 kilo mulu. Gak nambah-nambah.” Sungut saya kesal karena entah kenapa jarum penunjuk angka itu enggan sekali memutar sedikit saja ke kanan. Alih-alih bergerak ke kanan. Jarum itu lebih doyan menetap atau malah bergerak ke arah kiri.

Melihat ekspresi kakaknya yang kesal adik perempuan saya satu-satunya bangkit dari duduknya yang nyaman dan mendekat ke arah saya. dalam hitungan detik tubuhnya telah berpindah ke atas benda yang disebut timbangan itu.

Wuih iya, nih. Beneran, Kak. Timbangannya rusak,”

Bener, kan?” saya meyakinkan.

Iya,” ucapnya yakin.

Mendengar dua anak gadisnya gaduh memvonis timbangan berwarna merah muda itu telah rusak, si Ibu bertanya, “Serius timbangannya rusak? Tadi Mami naik timbangannya bener kok. Pas si Valya naik juga bener.”

Gak, Mi. Timbangannya rusak,” Saya keukeuh.

Masih gak percaya Ibu saya yang dipanggil Mami oleh keempat anaknya menyuruh saya dan adik saya secara bergantian naik ke atas timbangan. Beliau ingin membuktikan dengan mata kepalanya sendiri.

Saya naik. Jarum menunjukkan angka 44.

Lalu gentian, adik saya naik. Jarum menunjukkan angka 64.

Tuh.. berfungsi, kan? Mana ada rusak. Kakak 44 kilo, lia 64 kilo udah bener lah,”

Mami melengos meninggalkan kami dan kembali ke dapur. Tidak menerima kenyataan dan pernyataan saya mengekor Mami ke dapur.

Timbangannya rusak, Mi. Sehari ini adek (panggilan saya di rumah) udah makan 4 kali. Masa iya gak naik-naik timbangannya,”

Iya. Lia juga belakangan makan udah dikit. Makan malam malah gak ada. Masak timbangannya gak turun-turun?” tiba-tiba adik saya sudah ada di sebelah saya dan ikutan protes.

Itu bukan timbangannya yang rusak. Berat badan kalian aja yang rusak,”

Demi mendengar jawaban Mami dan betapa bosennya beliau mendengar kami yang terlalu kerap mempersoalkan berat badan kami berdua, saya dan adik saya terbahak-bahak.

Yang satu kurus sibuk pengen gemuk. Yang satu gemuk sibuk kepengen kurus,” sebuah suara terdengar. Berasal dari bagian belakang dapur. Suara dari seorang lelaki yang kami panggil abang.

Saya dan Lia kembali ke ruang keluarga. Sambil berjalan beriringan saya nyeletuk, “Andai lemak bisa ditranfusi kayak darah ya, Lia?”

Iya, Kak. Lia rela kok transfer lemak Lia ke kakak.”

Lalu kami berdua berangkulan. Setelah lelah ngotot menyalahkan timbangan kami hanya mampu menghela napas. Helaan napas penuh kepasrahan.

Rasyid's Daughters
Rasyid’s Daughters

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s