Seperti Dialog Sinetron Saja

Entah ulang tahun yang ke berapa, saya dapati diri saya kaget mendapatkan sebuah sms ucapan selamat ulang tahun dari seorang lelaki yang gak pernah saya sangka. Ketidaksangkaan berupa ia ingat hari lahir saya, ketidaksangkaan yang kalaupun ingat dia sempatkan dirinya untuk mengetik beberapa huruf menjadi rangkaian kalimat “Selamat Ulang Tahun”

Saat itu saya tengah berada di kota yang berbeda dengannya. Demi mendapatkan ucapan itu saya kaget luar biasa. Lelaki ini, bisa perhatian juga. Lelaki ini bisa romantis (ala kadarnya juga). Senyum saya terkembang. Sms itu merupakan ucapan selamat ulang tahun paling berkesan dari lelaki yang paling berkesan. Sms itu mengalahkan ucapan ulang tahun lainnya. Sms ulang tahun juara.

Bertahun-tahun kemudian. Setelah menjalani hari-hari yang kembali biasa. Dan lelaki tersebut tak pernah lagi menunjukkan sikap manisnya. Tibalah saya pada suatu masalah yang sangat membuat dunia saya jumpalitan. Hari saya kacau. Pikiran saya mumet hingga ingin sekali saya gantikan kepala saya dengan kepalanya Dian Sastro. Lumayan kan, punya kepala dari artis plus mukanya juga sekalian. Gak kebayang deh entar pasti banyak lelaki yang kepincut ama saya.

Saat kelam itu ialah saat saya harus merelakan harapan saya pupus. Cita-cita saya menguap. Impian saya lebur. Seakan masa depan kelam bagi saya.

Usia saya 26, awal tahun 2015. Dan itu merupakan masalah terbesar dalam hidup saya sepanjang 26 tahun berwara wiri di dunia. Masalah yang sukses menjadikan saya merasa kerdil. Dan sukses menampar yang membuat saya teringat akan kalimat.

Manusia bisa berencana. Namun Tuhanlah yang menentukan.

Iya. Saya kerdil banget. Segala kuasa itu ada di tangan Tuhan, bukan manusia. Karena selama ini saya berharap kepada ‘manusia’ maka pantaslah saya kecewa begitu besar. Karena harusnya saya berharap, memohon, meminta pada Allah swt semata.

Dengan deraian air mata yang entah sudah berapa kubik menderas. Saya menangis tersedu di pelukan lelaki yang saya ceritakan di awal tulisan ini. Kepada lelaki yang pernah membuat saya girang setengah mati karena sebuah pesan singkat darinya, saya ceritakan semua kelu. Saya bagikan air mata bersimbah peluh padanya. Saya lemah. Saya tak berdaya kala itu. Saya luluh lantak di hadapannya. Suatu hal yang mungkin setelah dewasa baru kali itu saya lakukan di hadapannya.

Lelaki itu mengelus pundak saya lembut. Menenangkan. Mengelus kepala saya sayang. Lalu berkata, “Udah… jangan menangis lagi. Adek kan masih punya Papi disini,” demi mendengar kalimat yang biasanya cuma saya dengar di dialog sinetron Indonesia, saya pun menghambur ke pelukannya. Memeluknya erat. Memeluk lelaki itu. Lelaki yang dari dialah saya ada di dunia ini. Lelaki yang menurunkan sebagian besar sifat dan karakternya kepada saya. Lelaki yang lazimnya disebut Ayah. Namun saya memanggilnya Papi.

Sekarang ketika mengenang dua moment tersebut saya menyadari satu hal. Lelaki… sedingin, secuek, setua, sekampungan, senorak apapun pasti punya sisi romantisnya. Yang akan ditujukannya kepada perempuan perempuan pilihan hatinya. Pada istrinya, pada anak perempuannya.

Selamat Hari Ayah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s