Sabtu Bersamamu

Bahkan bila kau tak mencintaiku lagi.

Tak mengapa.

Karena kita tak pernah menjadi apa-apa.

Sabtu selalu menjadi hari yang indah. Pun hujan mengguyur bumi dengan deras. Pun matahari menghunjam terik. Pun angin berhembus sepoi. Sabtu menjadi indah bukan tentang cuacanya. Aku mempersetankan ramalan cuaca, namun mendewakan penanggalan.

Dalam sebulan umumnya Sabtu terjadi 4 kali. Kadang 5 kali. Tergantung tanggal 1 dimulai kapan. Sebanyak Sabtu yang terjadi, sebanyak itu pula aku bahagia.

Aku bertemu kamu. Itu artinya.

Tak pernah jadi peraturan baik tertulis maupun lisan. Satu yang pasti. Kita selalu bertemu.

Sabtu kali ini matahari agak terik. Daripada berpanas-panas di luar lebih baik duduk ngadem di café katamu. Lalu inilah kita. Duduk berhadapan. Sesekali beradu pandang. Seringnya aku mencuri pandang. Banyak pasangan sejauh mata memandang.

Pasangan. Lalu kita apa sebenarnya? Bisakah disebut sepasang? Atau hanya aku saja yang menganggap sepasang.

Dry Capuccino satu, Raspberry tea satu”.

Pelayan perempuan muda dengan tahi lalat di pipi kanannya berlalu segera setelah pesanan kamu sebutkan.

Dalam hati aku tersenyum. Aku tak perlu mengatakan ingin minum apa, karena kamu selalu tahu apa yang aku mau.

Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?”

Hmm… A.. lancar,” aku terbata. Aku tak siap dengan pertanyaanmu. Bagaimana mungkin bisa fokus. Aku tengah fokus menatap mata hitammu.

Ini akan menjadi Sabtu terakhir kita bersama ya?”

Aku diam. Diam seribu.. tidak. Bahkan sejuta bahasa. Tak tahu harus menjawabmu pakai bahasa apa. Ingin memakai bahasa Makedonia dan mengatakan “Meskipun apa yang terjadi aku mencintaimu,”. Boro-boro pakai bahasa aneh tersebut. Bahasa Inggrisku saja omong kosong.

Jangan khawatir. Meski tanpa aku Sabtu-mu pasti tak akan kalah menyenangkannya,” tak kamu hiraukan diamku. Malah kamu berusaha menghiburku.

Namun beda, Bayu,”

Jelas beda. Karena cinta seorang Bayu gak akan pernah ada lagi untuk Kirana.”

Rasa-rasanya ingin menangis. Kenapa terlalu ringan baginya mengatakan kalimat itu. Namun apalah daya. Tak mungkin juga bagi kami berdua terjebak dalam hubungan yang tak jelas. Hubungan yang seperti asap tebal. Asap tebal yang aku ciptakan sendiri demi sebuah martabat dan kedudukan sosial.

Maka itu aku memilih menikahi Rian sang Pengusaha ketimbang menikahi Bayu yang cuma guru olahraga.

Hanya helaan nafas yang mampu kukeluarkan. Sebanyak apapun kata-kata tetap saja dikalahkan oleh egoku.

Aku harus ikhlas. Ketika cintamu berakhir.

Seperti aku harus ikhlas kala kamu menikahi janda kaya itu bulan lalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s