Pertemuan dengan Si Ibu Mentereng

Pertama, rezeki bisa datang dari mana saja dari arah yang bahkan tidak engkau duga. Ingat ini teman.

Kedua, jangan sombong dan perhatikan sekitar. Jangan Cuma pedulikan gadget-mu meski harganya mampu beli seekor sapi gemuk. Coba sesekali gunakan waktu luangmu karena menunggu dengan berbicara dengan orang sekitar.

Ketiga, jangan menilai orang dari penampilannya.

Empat, haj…empat… empat… errr.. entar kamu tambahkan saja sendiri apa yang bisa dipetik dari cerita saya ini. Penting gak penting terserah. Yang jelas saya udah kasih pesan moral di awal tulisan.

Kala itu saya tengah di Bandara menunggu jam penerbangan saya. Tapi karena terlalu asyik masyuk dengan gadget, saya gak begitu mendengar jelas apa pesan pemberitahuan yang dilayangkan pihak bandara. Yang jelas delay. Namun berapa jam?

Seorang Ibu paruh baya yang berumur sekitaran Ibu saya duduk tepat di depan saya. sepertinya Ibu itu mendengar dengan jelas pengumuman barusan. Dari pembicaraannya dengan orang di sebelahnya saya ketahui kalau delay karena kabut asap. Okeh. Delay yang dimaafkan. Namun sampai kapan? Sampai Negara api kembali menyerang? Atau minimal sampai Syahrini mengeluarkan lagi salah satu tren mode-nya soal alis atau bahkan soal bentuk kuku terbaru? onion-emoticons-set-2-148

Saya segan bertanya sama ibu itu. Dari penampilannya terlihat dia sebagai ibu-ibu mentereng nan sombong. Saya melihat dari merek tas kopernya. Saya lihat dari merek tas tangannya. Saya lihat merek sepatunya. Ibu itu tidak berpenampilan mencolok sebenarnya. Penampilannya kasual namun elegan yang menciptakan kesan: dia orang kaya. Saya Cuma butiran debu. Dari kampung. Namun sombong.

Menit berganti menit. Jam berganti jam. Saya mulai gusar. Hal yang paling membuat saya gusar di dunia ini selain saat kebelet namun jauh dari toilet adalah menanti yang tak pasti onion-emoticons-set-2-122

Menunggu boleh. Tapi sampai kapan. Ijinkan saya tahu agar saya bisa memanfaatkan waktu.

Entah bagaimana. Entah siapa yang pantatnya udah gak betah duduk. Saya tak ingat. Yang jelas akhirnya posisi saya dan ibu mentereng menjadi sebelahan.

Menurunkan gengsi. Membuang rasa khawatir akan disepelekan oleh ibu mentereng saya memberanikan diri bertanya.

Bu, tadi pas pengumuman. Sampai kapan ya delaynya?”

Sampai setengah 3,”

Whaaaat?”onion-emoticons-set-2-80

Berarti delay 3 jam? Saya udah di Bandara Kualanamu ini sejak jam 6 pagi karena keberangkatan saya dari Aceh jam 5 shubuh . Saya udah tidur nyenyak amat tadi di bangku ruang tunggu selesai sarapan hingga bangun jam 11 untuk siap-siap terbang melanjutkan perjalanan dari lokasi transit. Dan ternyata delay?

Pasrah onion-emoticons-set-2-13. Masih ada dua jam tersisa. Akhirnya saya malah ngobrol sama Ibu itu. Orangnya ramah ternyata. Lihat pesan moral ketiga.

Akhirnya saya malah keasyikan ngobrol sama Ibu itu (baca pesan moral kedua). Sama-sama tujuan ke Padang. Lalu hal yang membuat saya kaget adalah ketika si Ibu menyebutkan tempat kerjanya.

Saya sampai memastikan 3 kali. Si Ibu ngerasa aneh. Setelah ditanya kenapa, saya jelaskan kalau Ibu saya bekerja di tempat ibu itu bekerja. Namun si Ibu bercerita bahwa dia baru saja dimutasi dan bekerja di kantor tersebut dua minggu. Pelantikannya baru seminggu lalu.

Ibu itu seorang Hakim Tinggi. Pantas saja penampilannya jumawa. Ohiya. Namanya Bu Fitri.

Dan ternyata selain ramah dan tidak sombong juga banyak bercerita, Ibu tersebut juga baik sekali. Setelah tahu saya ini anak dari temen sekantornya saya ditawarinya tumpangan untuk ke tempat tujuan saya setelah pesawat mendarat di Bandara Minangkabau. Lihat lagi pesan moral poin satu.

Mendengar hal ini tentunya membuat saya girang. Setelah memastikan bahwa Ibu tersebut tidak akan pernah menyesal dengan tawarannya barusan, barulah saya berterima kasih. Sama sekali tidak ada kalimat, “Ah.. gak usah, Bu. Ngerepotin.” Atau semacamnya.

Saya menggunakan kalimat, “Beneran, Bu? Gak ngerepotin kan?” tanya saya meyakinkannya.

Gak lah. Sekalian jalan. Lagian kamu baru pertama ke Padang daripada tersesat.”

Waaah… makasih banyak ya, Bu,” dalam hati saya mengucapkan double syukur. Syukur karena gak perlu takut nyasar dan muter-muter padang buang waktu. Syukur hemat ongkos taksi. 100 ribu terselamatkan onion-emoticons-set-2-36. Yah.. masih jadi hadiah ulang tahun nih. Soalnya kemarin dari kejadian itu saya ulang tahun.

Namun si Ibu gak juga tahu di mana alamat yang menjadi tujuan saya. Tak mundur. Si Ibu langsung menelpon keluarganya. Memastikan siapa yang akan menjemputnya. Ternyata suaminya. Namun dia mewanti-wanti anaknya agar memberitahu ayahnya nanti untuk memastikan lokasi tujuan saya.

Sungguh usaha yang luar biasa.

Setelah penawaran itu kami bercerita banyak. Tentang keluarganya. Tentang kerjaannya dan kerjaan saya. Tentang Aceh yang menjadi kampung halaman saya. Tentang Padang, kampung halamannya. Hingga tiba pesawat jadi juga terbang.

Kami duduk terpisah. Dan kembali bertemu ketika saya tengah mengambil bagasi di baggage claim.

Sesampainya di luar bandara sang suami si Ibu sudah keliatan. Seorang lelaki bertubuh tidak terlalu kurus dan sedikit berkumis. Ramah. Dan kebapakan banget. Yah.. gak mungkin juga keibuan. Namanya juga bapak-bapak kan ya?

Suami si Ibu ternyata Dosen Fakultas Hukum. Tadi di bandara ia menceritakan kalau anak lelakinya yang pertama notaris. Anak kedua perempuan dan saya lupa profesinya apa, yang paling muda sedang kuliah di fakultas hukum. Keluarga dengan nada yang berima ternyata.

Menyapa beliau di Bandara sungguh suatu keputusan yang bijak. Bukan hanya karena saya dapet tumpangan (meskipun gak bisa dinafikan onion-emoticons-set-2-34), namun akhirnya saya bertemu dengan sepasang suami istri luar biasa. Ramah. Tidak sombong. Baik hati. Rendah hati.

2 Minggu kemudian setelah saya pulang dari Padang, Ibu saya menceritakan kalau Ibu Fitri menemuinya di kantor tepat setelah dia kembali dari Padang beberapa hari kemudian, untuk mengonfirmasi yang mana Ibu-nya Intan. Maklum, karena masih baru di kantor itu untuk Bu Fitri, beliau belum mengenal semua pegawai kantor tersebut.

Setelah ketemu Mami, Bu Fitri langsung ngomong, ‘Duh.. Bu. Anak saya baru aja nikah bulan lalu. Kalau gak udah saya kasih Intan aja deh. Telat juga nih saya ketemu Intan-nya’.”

Tetiba hatinya terbersit sesuatu.

Hmmm… ternyata pesona saya di mata ibu-ibu belum berubah. Masih mampu membuat ibu-ibu pengen menjadikan saya menantunya.onion-emoticons-set-2-18

Senyum saya tersungging. Tapi tak lama. Percuma.

Pesona saya meluluhkan lelaki tampan, mapan dan dermawan entah dia doyan bakwan ataupun malah enggan, tak pernah berhasil.

2 thoughts on “Pertemuan dengan Si Ibu Mentereng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s