Tak Mencintai Dua Kali

Nyatanya seperti yang kamu lihat. Aku masihlah menjadi orang yang sama. Masih bertubuh kurus yang sudah mati-matian aku usahakan agar gemuk. Masih senang menulis walau tak kunjung menjadi penulis. Masih mendambakan Belanda. Masih tak minum kopi.

Kamu gak berubah ya, Intan?”

Kamu berubah terlalu banyak. Menjadi gendut. Agak membotak sepertinya,”

Kamu tahu? Itu kasar.”

Seperti yang kamu sebutkan. Aku tidak berubah”

Kamu terkekeh. Aku menyesap hot chocolate dalam cangkir berwarna merah dengan motif polkadot. Cangkir yang lucu.

Bila aku tetap sama. Tetap memiliki bentuk tubuh yang bagus dan rambutku masih selebat dulu. Mungkin kamu akan mencintaiku lagi, Intan”

Aku menutup mulutku dengan tangan. Berusaha keras menahan ledakan tawa.

Boleh juga. Tingkat kepercayaan dirinya meningkat.

Ketika jatuh cinta, aku akan jatuh begitu dalam. Membawa perasaanku begitu kuat. Tapi..” aku berhenti sejenak untuk memutar cangkirku. Kulihat matamu menjadi liar. Mencari-cari jawaban apa yang akan keluar dari mulutku.

Masih ada yang sama dari kamu. Ketika tidak sabaran kamu selalu mengetukkan telunjukmu ke meja. Gusar. Masih seperti 8 tahun yang lalu.

Tapi aku tak pernah mencintai dua kali,” ucapku menatapmu lekat. Tajam.

Setajam omonganmu dulu memutuskan hubungan kita. Mengingkari janji. Memilih pergi.

12188611_10204037901822376_2028694569_n

Dan mungkin bila nanti, kita akan bertemu lagi.

Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali.

Rasa yang kutinggal mati

(Peterpan, Mungkin Nanti)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s