10 September yang Kasak-kusuk

Ini postingan yang telat banget kalau saya mau membahas perihal ulang tahun saya yang ke dua puluh sekian jelang tiga puluh. Telat sebulan lebih. Tepatnya saya berulang tahun pada tanggal 10 September. Tadinya saya gak mau dan (beneran) gak sempat tulis perihal ulang tahun saya. Tapi karena sekarang lagi rajin-rajinnya nulis ngalahin rajinnya tahajud minta jodoh maka saya tulis meskipun terlambat.

Ulang tahun kemarin ulang tahun paling singkat menurut saya. Waktu terasa begitu cepat berkejaran di hari itu seiring dengan deru nafas saya yang memburu dikejar waktu.

Masih teringat ketika itu di pagi hari. Selepas shalat shubuh ponsel saya riuh. Dari tanda pesan singkat masuk, notif bbm, wasap, line dan bahkan facebook berlomba-lomba mengucapkan selamat ulang tahun beserta doa kepada saya dari itu. Senyum tentunya tersungging. Masih banyak teman yang peduli. Masih banyak teman yang turut mendoakan segala hal terbaik bagi saya selain keluarga saya.

Sesampai di kantor. Sembari melaksanakan ritual harian membuka kantor saya membalas satu persatu ucapan selamat. Bercanda di grup. Menerima telepon ucapan selamat. Hingga ponsel kantor saya berdering. Dari si Pak Bos saya. Memberitahukan kalau saya harus berangkat ke Padang untuk Diklat.

Masih anteng saya Cuma menjawab, “Kapan, Pak?”

“Nah ini. Kamu jangan kaget.”

“Kenapa, Pak?”

“Kamu harus berangkat hari ini juga, karena semestinya kamu tiba di Padang hari ini,” jawab si Pak Bos tenang dan kalem seperti biasa.

“Whaaaat? Gak salah?” shock2 onion head

“Gak. Kesalahan ada di pihak SDM. Mereka berpesan kepada saya, ‘tolong sampaikan maaf kami ke Intan karena pemberitahuan dadakan’.”

“Ini terlalu mendadak, Pak.”seperti biasa. Saya sewot.

“Iya. Tapi tadi kan udah minta maaf.” serenade onion head

Helaan nafas saya panjang. Telepon ditutup setelahnya. Lalu tiba-tiba saja saya teringat sesuatu info onion head

Mungkin ini becandaan dan keisengan aja karena saya ulang tahun. Soalnya si Pak Bos ini memang sudah tak diragukan lagi dalam hal keisengannya. Terutama isengin karyawannya. Terutama isengin saya meh onion head

Demi membenarkan dugaan saya tersebut saya santai saja. Sampai singkat ceritanya, pihak SDM sendiri yang menelepon saya.

 

Barulah saya panik. Ternyata harus tiba di balai diklatnya ya tanggal 10 September itu. Kecuali pakai Pintu Kemana Saja-nya Doraemon mustahil saya tiba di Padang hari itu juga. Lagian penerbangan dari Banda Aceh ke Padang sehari satu.

Singkat ceritanya lagi. Hari itu di kala tetep harus bekerja seperti biasa pikiran saya terbagi-bagi antara, nasabah, tiket pesawat, pas photo yang harus dicuci (syarat diklat yang harus dibawa), serah terima pekerjaan, packing dan baju seragam kantor yang belum dicuci.

Ucapan selamat ulang tahun tak lagi sempat saya acuhkan. Bahkan saya udah memasabodohkan ulang tahun saya.

Yang saya ingat setelahnya adalah selepas serah terima pekerjaan saya langsung ke kosan. Dan memasukkan semua baju beserta kosmetik juga sepatu dan kebutuhan pribadi saya lainnya ke dalam koper. Asal. Timpa dan timpa aja. Persis kayak adegan di sinetron-sinetron yang istrinya ngambek dan mau minggat dari rumah. Masukin baju ke koper asal. Seret koper dan naik travel menuju ke Banda Aceh. Iya. Saya bahkan harus ke Banda Aceh dulu menjangkau bandaranya dari tempat saya kerja.

 

Sesampai di kediaman orangtua di Banda Aceh (yang Cuma saya datangi tiap akhir pekan) pada waktu selesai magrib, saya langsung memasukkan pakaian kotor yang harus di bawa ke Padang ke mesin cuci. Setelahnya saya masih harus buru-buru ke banyak tempat menyiapkan apa yang di minta untuk di bawa ke tempat diklat.

Setiba di rumah saya kaget. Saya pikir saya udah salah pulang. Ini bukan rumah saya. Ini laundry pikir saya. Gimana tidak, jemuran pindah ke dalam rumah. Diangin-anginkan pakai kipas angin agar baju seragam kantor saya lekas kering. Agar bisa segera di packing karena penerbangan saya jam 5 pagi. Lagi saya mengelus dada. Lagi saya bener-bener harus bersabar atas ‘hadiah’ dari kantor saya berupa tiket gratis ke Padang.

 

Sudah jam 11.30 malam. Saya sudah lelah. Beranjak ke tempat tidur membaca ucapan selamat ulang tahun yang terlewatkan. Ketika mata hendak terpejam, deringan panggilan telepon memaksa saya untuk mengangkatnya. Dari seorang teman, ucapan selamat ulang tahun terakhir.

Hari itu, cara merayakan ulang tahun yang paling sibuk dan melelahkan yang pernah saya alami. Antara senang bisa diklat sambil jalan-jalan gratisan ke Padang namun juga ngedumel seolah pihak SDM ngerjain saya di hari ulang tahun saya. Membuat saya kasak-kusuk gak keruan running onion head di hari ulang tahun saya dengan pemanggilan diklat dadakan.

 

Hari itu, di hari ulang tahun ke dua puluh sekian jelang tiga puluh tahun. Tuhan masih memberkahi hari saya. Membiarkan saya merayakan ulang tahun saya dengan cara yang berbeda dari ulang tahun sebelumnya.

Berbeda. Hingga tak terasa. Pun terasa, terlalu singkat. Karena deru nafas saya memburu dikejar waktu alih-alih meniup kue ulang tahun.

 

 

 

Advertisements

One thought on “10 September yang Kasak-kusuk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s