Gagal Menjadi Suzanna

Pernah dengar mitos yang berbunyi: curi melati di sanggulnya pengantin perempuan supaya bisa ketularan nikah juga.

Kita gak perlu membahas ini suatu kebenaran atau tidak. Toh namanya mitos. Saya yakin tidak pernah ada yang melakukan penelitian atasnya.

Saya bukan yang percaya akan hal itu. Gak pernah juga tertarik mencuri melati. Ketimbang nyuri melati saya lebih tertarik nyuri wadah tempat amplop sumbangan tamu innocent onion head. Well… hal itu juga gak saya lakukan. Cuma kepengen. Soalnya saya gak mau bikin malu keluarga.

Saya belum juga tertarik mencuri melati walaupun pernikahan saya tertunda. Namun akhirnya, ketika pernikahan saya batal seorang teman yang saat itu akan menikah berujar gini.

“Ntar kakak nyuri melati Yuni. Biar kakak cepet nikah.”

“Emang Yuni percaya gituan?”

“Gak juga sih. Cuma ya biarin aja. Mana tau ampuh.”

“Ya udah. Ntar kakak curi.”

“Dimakan juga.”

“Whaaaaat?”shock2 onion head

“Iya. Dimakan. Dulu Yuni pas temen nikah, Yuni curi abis tu Yuni makan melatinya. Biar lebih ampuh,”

“Kayak Suzanna aja. Terus rasanya apa?”

“Rasa melatilah. Masa rasa stobeli?”

Dia menikah Maret 2015. Itu adalah moment pertama saya mencuri melati-nya sekaligus memakannya. Tapi saya gak beneran nyuri. Karena nyuri itu dosa. Gak boleh. Jadinya saya minta ijin ama pemiliknya, “Eh melatinya aku cabut, ya” setelah mendengar jawaban “Iya cabut aja” maka saya cabut lalu saya makan.

Rasanya?

Saya gagal jadi Suzanna. Makan melati tuh gak enak. Gak kayak kita makan durian. Agak-agak muntah gimana gitu saya telannya. Padahal saya ambilnya juga Cuma seiprit. Heran deh ama Suzanna yang bisa menjadikan melati sebagai cemilan.

Temen-temen saya kaget saya makan melati. “Kok dimakan?” adalah pertanyaan jumawa saya dengar. Lalu saya bilang, “Biar efeknya lebih ampuh”

Setelah kasus pertama itu saya mulai lagi mengincar melati-melati lainnya. Kesempatan datang di bulan September. Jauh dari bulan Maret eksperimen pertama saya makan melati. Lagi. Saya gak nyuri saya minta ijin, yang tentu saja diprotes ama temen lainnya.

“Nyuri kok minta ijin, Tan?”

“aku gak tega,”

Setelah dapet kalimat, “iya, ambil aja yang banyak”(buat apa coba ambil yang banyak? Dikembangbiakkan?) dari si pengantin saya langsung petik dan makan. Keterkejutan saya memakan melati kembali terulang dari teman berbeda. Saya belum ahli juga memakan melati. Masih muntah juga.

Lalu.. pekan lalu. Seorang sahabat menikah. Saya nyuri (minta ijin lagi metik melati di hiasan kepalanya), keterkejutan lagi, muntah lagi. Saya masih gagal jadi Suzanna.

Selain gagal jadi Suzanna. Total sudah tiga melati yang saya makan. Saya masih gagal belum juga menikah.

Entah harus berapa melati lagi yang saya makan. Entah harus muntah ke berapa kali lagi. Entah harus sampai kapan saya baru bisa jadi Suzanna.

Satu yang saya yakini. Menikah bukan soal mencuri atau memakan melati. Menikah soal niat yang sudah lurus. Bila niat sudah lurus dan baik, jodoh yang Allah siapkan akan datang pada waktu yang tepat. Pada orang yang tak engkau sangka-sangka bisa jatuh hati padanya. Yang semoga untuk sekali namun selama-lamanya usia.

Jadi masih mau nyuri melati, Tan?

Masih.

LOH KOK?

Lucu aja. This is just for funuhuhuh onion head

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s