Cuti Melahirkan. Cuti Luar Biasa.

Di Rabu yang libur beberapa hari lalu, ketika baru bangun tidur siang (oh well… nikmatnya hari libur) ponsel saya bordering. Begitu melihat layar agak sedikit kecewa karena penelepon bukan yang saya harapkan.
“Halo…”
“Haloo, Kak. Yuni bingung ni soal melahirkan?”

Ebusyet…. Nyawa saya langsung kembali seutuhnya. Dalam benak berpikir, ini anak salah telepon atau salah ingatan sih?

Yakali maksudnya salah ingat adalah, dalam ingatannya saya ini udah 3 kali melahirkan dalam hingga sudah mumpuni untuk ngasih saran perihal melahirkan.

Well… jadi dek, kamu memutuskan untuk normal atau Caesar? Sini kakak kasih tips agar dapat melahirkan normal.
Ough..

Atau.. dalam ingatan dia saya ini dulunya kuliah di Jurusan Akuntansi konsentrasi kebidanan.
Oke.. jadi milih Caesar supaya bisa lahir di tanggal cantik ya?
Ough..

Oke.. sebelum sempat imajinasi saya berkelabat terlalu liar dia mengutarakan maksud hatinya.

“Yuni udah bingung soal cuti melahirkan. Siapa ya kak yang bisa kita tanyakan? Siapa yang baru-baru ini melahirkan?”

Huvt.. dia Cuma mau tanya nomor handphone toh. Iya. Nomor handphone.

Cih.. intronya itu ya… membuat saya pengen kuliah lagi masuk akademi kebidanan. Padahal dia Cuma mau minta no handphone semata.

Demi kelancaran hubungan perbabatan (kami menyebut kelompok kami dengan sebutan BABAT –kenapa bukan kikil? Jangan ditanya dulu- yang terdiri dari 4 perempuan cantik yang bekerja di sebuah perusahaan yang sama) yang telah dijalin 2 tahun lebih, maka saya dengan syok yang sudah berhasil menghidupkan siang saya yang panas-panas malas itu mengingat dan mencarilah sebuah kontak yang bisa ia hubungi.

Oke.. mari kita bahas cuti melahirkan. Cuti melahirkan itu lamanya 3 bulan. Artinya 90 hari. Artinya. 9 tahun cuti tahunan. Woy… emejing…

90 hari itu waktu yang cukup lama untuk bisa leyeh-leyeh di rumah selfie sama anak dan jadikan DP BBM atau masukkin ke Path namun gaji tetep jalan.

90 hari itu sama dengan 9 tahun cuti tahunan yang hanya kaum wanita bisa menikmatinya di muka bumi ini. Lelaki mana bisa.

90 hari itu waktu yang cukup buat manja-manja di rumah tanpa harus berhadapan dengan atribut kantor dan diomeli nasabah.

90 hari itu waktu yang bahagia banget dipake buat Cuma nyusuin anak tanpa harus pikirin lelang yang tiada habisnya.

90 hari itu merupakan cuti paling indah. Paling lama. Bahkan mengalahkan cuti besar yang durasinya 2 bulan.

Mengingat si sahabat yang bakal menjalankan cuti tetiba saya iri. Saya iri dia bakalan leyeh-leyeh di rumah sementara saya berkutat dengan nasabah, kilauan emas, tumpukan rupiah, dan segala tetek bengek pekerjaan.

“Kakak mau melahirkan juga,”
“Hamil dulu,”
“Nyari bapaknya dulu yang lebih tepat,” imbuh babat lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s