Belajar Dari Sikap Nasabah Guna Menghadapi Mertua

Bekerja di perusahaan dalam bidang jasa keuangan tentunya berhubungan sama masyarakat yang disebut nasabah. Hubungan dengan nasabah semakin intens dihadapai oleh bagian- bagian frontliner yang setiap hari (kerja) berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dengan nasabah.

Dalam berhubungan itu demi yang namanya pelayanan kita dituntut agar memberikan pelayanan prima tanpa pandang bulu kepada semua yang disebut nasabah atau calon nasabah potensial. Sialnya, lazimnya kita menjumpai nasabah yang bukan hanya menguras emosi dan memancing amarah, tapi juga nasabah yang kadang pengen bikin kita menyerahonion-emoticons-set-6-156 , resign, lalu jadi ibu rumah tangga yang baik saja. Namun sayang, belum ketemu aja bapak-bapak yang bisa diajak berumah tangga onion-emoticons-set-6-88

Sebenarnya, bila kita ikhlas (yang mana sulit) aja menghadapi segala macam omelan, semprotan, atau bahkan sikap semena-mena nauzubillah nasabah yang memang ingin dianggap raja tanpa singgasana, kita bisa mengambil ini sebagai kesempatan untuk dapat menaklukan yang namanya mertua.

Hubungannya?

Oke. Nasabah itu banyak maunya. Banyak mintanya. Bahkan seakan mereka punya pasal ‘Nasabah tidak pernah salah. Bila nasabah salah kembali ke pasal satu’. Dengan setiap harinya menghadapi nasabah yang berbeda-beda suku, agama, ras, jenis kelamin, status sosial, karakter bahkan golongan darah, harusnya kita terbilang sudah expert dalam me-manage atau meng-handle orang banyak.

Nah.. orang banyak -yang disebut nasabah- setiap hari aja bisa kita taklukan atau minimal senyum dan bersabar diri ajalah walau dalam hati pengen nyekek. Konon lagi seorang ibu mertua?

Sudah menjadi stigma bagi banyak menantu kalau mertua itu rada-rada nyebelin. Makanya terciptalah sebuah joke bahwa ‘perempuan yang paling bahagia di dunia ini adalah Siti Hawa, karena ia tidak punya mertua,’. Paling hanya segelintir orang di dunia ini yang beruntung memunyai mertua baik hati dan penyayang. Beberapa saya lihat dengan mata kepala saya sendiri kalau mertua langka seperti itu memang eksis di dunia yang fana ini.

Mertua. Banyak maunya. Banyak omongnya. Banyak aja kita salahnya. Gunakan aja kebiasaan ketika kerja untuk menghadapi mertua. Senyumin, bersabar dan berbicara penuh sopan santun guna melayaninya memenuhi apa maunya. Dan yang paling penting pelajari karakternya. Satu mertua dibandingkan puluhan bahkan ratusan nasabah tiap harinya sih harusnya enteng banget kan hadapi mertua. Harusnya. Tapi nyatanya kadang mertua bisa menjelma menjadi kombinasi seluruh nasabah.

Saran saya untuk seorang teman yang belum mendapatkan simpati dari calon mertuanya adalah:

Senyumin dan banyak-banyak sabar aja. Pelajari karakternya seperti kita pelajari karkater nasabah hingga kita tau harus bersikap bagaimana sama dia. Atau kalau gak bisa juga dibaik-baikin, ya udah, anggap aja nasabah. Orang-orang yang memang ditakdirkan untuk membuat pekerjaan kita menjadi penuh tantangan.

Lalu gimana kalau mertua itu ternyata nasabah kita juga?

Oke. Congratulation. You got a jackpot! onion-emoticons-set-6-26

One thought on “Belajar Dari Sikap Nasabah Guna Menghadapi Mertua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s