Pekalah Terhadap yang Hati Rasakan

Tulisan yang akan saya tulis berikut ini sebenarnya sudah sejak lama ingin saya tulis. Namun alasan klise berupa letihnya kerjaan kantor hingga begitu malas membuka laptop menjadi alasan juara.

Nah.. demi demi ingin kembali membuat rumah Kurakura Hitam kembali riuh, maka saya membuka memo untuk mencari topik-topik yang pernah saya siapkan.

Kini saya akan membahas sebuah quote yang saya kutip dari drama korea yang berjudul Master’s Sun. Sebuah drama Korea yang menceritakan tentang seorang perempuan yang bisa melihat hantu. Nah, karena saya gak pinter me-review sebuah film maka saya gak akan lakukan hal tersebut. Silahkan googling bila kamu penasaran dengan drama korea tersebut.

Ketika aku tidak jujur terhadap perasaanku, rasa sakit yang kurasakan akan memberiku jawaban (Kang Woo, Master’s Sun)”

Salah satu alasan perempuan menyukai salah satu quote dan menyimpannya ya karena mungkin mereka mengalaminya. Saya salah satu dari mereka. Perempuan yang menyimpan quote karena cocok dengan pengalaman atau perasaannya.

Kurang lebih setahun lamanya saya pernah terperangkap dalam sebuah hubungan semu, perasaan palsu. Kenapa dipertahankan? Demi sebuah gengsi. Demi harga diri. Demi tenangnya hati orangtua.

Bagaimana hati saya?

Sekarang saya akan jujur.

Tawa saya itu palsu. Ada malam-malam di mana saya menangis tersedu tak mampu berbuat apa.

Keriaan saya itu palsu. Karena nyatanya saya hanya bermuram durja.

Debar pada dada saya? Jangan pernah harap itu ada. Tak pernah ada.

Saya tak pernah mencintai lelaki tersebut. Saya menghormatinya, iya. Dia sosok yang pantas dihormati (saat itu). Dengan segala yang ia miliki sangat bagus untuk menaikkan prestise saya di mata temen-temen saya. Prestise yang bukan saya buat sebenarnya. Prestise yang tiba-tiba muncul sejak lelaki ini hadir di hidup saya.

Mulailah orang-orang berkomentar kalau saya begitu serasi dengannya. Kalau saya cocok dengannya. Kalau saya begitu beruntung mendapatkannya. Hingga membuat saya terlena.

Terlena hingga menyingkirkan hati saya, dan membela ego saya. Biarkan hati saya mati rasa. Mati semati-matinya demi sebuah yang namanya ‘martabat’ (mungkin).

Tapi airmatalah yang menjadi saksi bisu betapa ini begitu berat. Namun saya memang keras kepala. Berusaha mengatakan ini akan baik-baik saja. Bahwa ini tidak sulit.

Nyatanya apa?

Perasaan itu bukan sesuatu yang bisa diatur. Ia bisa dikelola namun tidak bisa diperintah sesuai ego.

Akhirnya sama saja. Tak menjadi apapun. Karena sesuatu yang dipaksa gak pernah berjalan baik.

Menyesal?

Iya. Karena sudah tau menahan sakit hati selama setahun tapi masih juga maksa.

Menyesal?

Banget. Harusnya airmata-airmata itu jangan disepelekan. Hubungan itu bukan untuk menghasilkan pilu setiap malam. Hidup yang kita jalani sudah sangat ribet. Sudah sangat lelah kita bekerja seharian di kantor. Jangan lagi membuat hati menjadi lelah karena hubungan yang salah pada orang yang memang bukan ditakdirkan untuk kita.

Akhirnya… setelah lambaian tangan terjadi. Sekali ini saya bertekad. Saya akan lebih peka terhadap perasaan saya. Saya tidak mau lagi membohongi hati. Buktinya setelah perpisahan berat badan saya naik. Itu artinya. Selama kurang lebih setahun saya tersiksa hati dan batinnya.

Ke depannya. Saya tidak ingin berdebat dengan hati saya. Kelak saya ingin pasangan yang mendamaikan hati saya, yang membuat senyum saya tersungging, yang menghapus airmata saya, yang memang dtitakdirkan Tuhan buat saya. Kepadanya, saya meminta Tuhan, agar menjatuhkan hati saya sejatuh-jatuhnya, berkali-kalinya, kepada dia lelaki yang memang namanya telah ditetapkan menjadi suami saya.

Advertisements

4 thoughts on “Pekalah Terhadap yang Hati Rasakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s