Lamaran Jackpot

“Kamu mau dilamar di pantai sambil menunggu sunset, kan. Oke. Siapkan waktu kosongmu. Kita akan ke sana dan aku akan mewujudkan mimpimu.” Itu kalimat terpanjang dengan nafas terburu yang diusahakannya agar terdengar setenang mungkin.

“Kamu melamarku?”

“Belum. Akan. Nanti. Ditempat yang kamu inginkan, di waktu yang kamu dambakan,”

“Kamu sekarang sudah melamarku. Dan gak akan menjadi kejutan lagi nantinya,” Perasaan apa ini? Kenapa ada debaran di dadaku. Tapi kenapa juga aku merasakan kesal?

“Baiklah. Anggap saja ini pra-lamaran.”

“Oh Tuhan…”

Rabu sore. Suasana Pantai Lampuuk tidak begitu ramai. Weekdays memang jarang orang yang berkunjung ke pantai. Waktu menunjukkan lima menit lagi akan berada di pukul 6 petang tepat.

Yusuf sudah berdiri di sebelahku. Sedari tadi suasana agak canggung. Canggung sejak ia menjemputku di kantor.

Langkah kakinya melaju. Tolehan kepalanya padaku seakan menyuruhku mengikutinya. Aku mengikutinya. Dia duduk di pasir pantai. Aku mengikutinya. Meletakkan tas tangan di sebelah kananku. Sepasang high heels berwarna merah yang senada dengan tas tanganku di sebelah kiri.

Jantungku bergemuruh. Mau beradu rebut dengan riak ombak sepertinya. Tapi aku bersyukur ini pantai. Aku berterima kasih pada ombak. Yusuf tak perlu tahu gemuruh detak jantungku. Sama sekali tidak perlu. Sudah cukup pipiku yang memerah yang tidak mampu kusembunyikan.

“Intan, menunggu sunset takutnya entar kita telat magribnya. Aku lamar sekarang aja ya?”

Yusuf melirik jam tangannya. Aku ikut-ikutan. Jarum jam menunjukkan 5 menit sudah berlalu dari jam 6.

“Yusuf, ini cara melamar yang aneh.”

“Entahlah, Intan. Melamar bukan hal yang mudah. Lebih baik kamu diam saja. Kamu tidak tahu pergulatan batin lelaki ketika melamar, kan?”

Mau tak mau aku tertawa mendengar repetan Yusuf.

“Eh itu sunsetnya mulai deh,”

“Oke. 1.. 2… 3…” Yusuf lalu berhitung. Aku menatapnya dengan tatapan bingung. Ya tentu saja. Ini lamaran. Dan ini aneh. Perpaduan antara deg-degan dan bingung ini sebuah moment absurd buatku.

“Bismillahirrahmanirrahim…” ada jeda dan tarikan nafas dalam ucapan Yusuf.

“Intan, maukah kamu menikah denganku dan menjadi istriku? Bersama hingga kakek nenek?”

Oke. Ini yang namanya lamaran. Setelah penasaran selama 27 tahun akhirnya aku tahu juga perasaan ketika dilamar itu bagaimana. Dan mungkin setiap wanita mempunyai pengalaman dan debar jantung yang berbeda pada sebuah moment lamaran.

Harusnya mudah saja aku mengatakan, iya. Aku mau.

“Kamu mau kalau setelah menikah kita berbulan madu di Lombok?”

Yusuf kaget. Aku lebih kaget. Kenapa malah kalimat itu yang aku ucapkan alih alih Cuma menjawab ‘iya’.

Telanjur. Sudahlah. Otak dan lidahku kadang suka mengkhianti hati. Lain kali aku harus membriefing mereka bertiga agar kompak. Seperti briefing mingguan yang aku lakukan pada kasir dan tiga security kantorku.

“Er… itu agak sulit sepertinya. Mungkin akan susah bagiku mendapatkan cuti setelah cuti dipakai untuk pernikahan dan segala urusannya. Kalaupun bisa cuti mungkin lebih baik yang dekat-dekat saja”.

Aku melotot. Merajuk. Entah sungguhan entah cuma rajukan er… manja mungkin?

“Oke. Baiklah. Aku akan menunggu lamaran lelaki lain yang mau menjadi suamiku sekaligus berbulan madu ke Lombok denganku.” Aku sudah siap memegang tas di tangan kananku dan mengambil sepasang sepatu di tanganku kiriku ketika Yusuf memegang lenganku sepintas yang sepersekian detik kemudian ia lepaskan lagi.

“Oke. Baiklah. Aku mau dan bisa berbulan madu ke Lombok,”

Aku menatapnya tajam. Mencari keyakinan dan kebulatan tekad.

“Aku berjanji, Intan,” pernyataannya separuh meyakinkankan separuh memohon.

Aku senyum, “Oke. Aku mau kamu jadi suamiku.”

“Alhamdulillah… makasih, Intan.”

Aku Cuma senyum geli. “Ya sudah. Yuk kita jalan. Sebentar lagi adzan nih, kita harus cari mesjid terdekat.”

Yusuf bangkit dan berjalan di depanku. Di dua langkah di belakang Yusuf aku tersenyum senang dalam hati.

Menikah dan berbulan madu ke Lombok itu bonus. Dinikahi Yusuf itulah Jackpot-nya.

Terima kasih Tuhan. Ini namanya double combo.

index

One thought on “Lamaran Jackpot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s