Satu, Dua, Tiga.

Satu dua tiga alasan menjadi penyebab. Salahku. Bahkan ribuanpun kamu beberkan tak cukup. Tak satupun bisa menjadi alasan. Tak satupun mampu kuterima sebagai alasan.

Alasan meninggalkanku.

Bukan satu, dua atau tiga kali aku memaafkan. Aku memaklumi. Aku bersabar. Tak satupun ada alasan yang mampu kujadikan amarahku membludak.

Alasan menyalahkanmu.

Satu, dua bahkan tiga orang sudah menanyakan perasaanku padamu. Mengapa sebegitunya aku takut kehilanganmu. Kenapa sebegitu susahnya aku merelakanmu.

Setidakpunyaperasaan itukah mereka akan perasaanku.

Satu, dua bahkan tiga orang menyuruhku merelakanmu. Melupakanmu. Mengabaikan pedih dan sakit hatiku.

Setidakpunyaperasaan itukah mereka untuk mengetahui perasaanku.

Ini disebut apa? Masihkah harus kamu tanyakan? Masihkah harus aku jelaskan.

Ini adalah cinta.

Cinta yang tak pernah kuucapkan.

Karena kupikir kamu cukup cerdas mengetahuinya.

Mungkin memang satu kali aku ucapkan sayang. Dua kali aku ucapkan rindu. Tiga kali aku merayumu. Namun kamu tahu, ada ribuan komat kamit munajat kusampaikan pada-Nya, agar semesta mengamini doaku. Menyatukan kita. Merestui kita.

Kamu tak perlu lakukan apapun.

Cukup satu.

Kamu harus mencintaiku.

Tanpa dua, tanpa tiga.

Aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s