Entah

Di salah satu pagi di bulan Desember, hujan turun dengan derasnya, dengan suara yang berdebur kerasnya. Semua itu cukup membuatku merasa gigil meskipun tempatku berdiri masihlah di dalam kamarku.

Sudah sekian menit yang entah aku berdiri di jendela yang kacanya tak kubuka. Menatap curahan hujan yang berkejar-kejaran satu sama lain menggenang jalan. Aku sendiri sudah rapi. Dengan setelan ke kantor aku siap pergi sebenarnya. Sebenarnya bila tak hujan.

Mungkin hujan mengejek atau malah merayakan, itu yang jadi pikirku sejak aku mulai berdiri di jendela kamarku untuk sekian menit yang entah. Mengejek tentang kesialan yang baru aku alami atau malah merayakan kesialan itu.

Hujan masih deras. Aku semakin malas. Adakah bisa aku memakai jatah cuti karena alasan penting untuk hal ini? Tentu tidak, kantor manapun aku rasa tidak mengenal cuti tidak masuk kantor karena alasan hujan. Apalagi dibalik itu. Hujan hanya dijadikan alasan.

Hati yang patah. Cita-cita yang hancur. Jiwa yang hilang semangat itulah sebenarnya alasan dibalik enggannya aku pergi bekerja. Aku jadi berpikir, adakah kantor yang mau memberikan cuti patah hati pada karyawannya?

Hujan masih deras. Aku masih berdiri yang sudah makin banyak saja waktu kuhabiskan dengan sia-sia. Jariku memainkan sebuah cincin yang telah bersemayam di jari manis kiriku selama setahun ini. Harus kuapakan cincin ini? Membuangnya? Menjualnya? Mengembalikannya? Atau menyimpannya?

Jelas cincin ini tak perlu lagi kupakai, karena lelaki yang memberikannya dengan jelas dan tegas telah mengatakan bahwa semuanya telah berakhir. Iya. Kemarin di Minggu sore ia memutuskan hubungan dengan sepihak. Lalu belum habis air mata yang kukeluarkan akibat patah hati, deringan teleponku malah memberitahu, kabar tak kalah buruk.

Semalam Rendi ditemukan tewas akibat kecelakaan ketika ia tengah menyetir di jalan lintas Propinsi. Ia tewas bersama seorang wanita yang pergi bersamanya di mobil itu. Mungkin dialah wanita yang membuat Rendi memuuskanku. Mungkin. Entahlah.

Hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Aku menghentikan aktivitasku di pinggir jendela. Kuambil jaketku dan payung yang terletak di sebelah rak sepatu di kamarku. Aku akan pergi bekerja. Iya. Sudah terlambat memang. Tapi biar saja aku beralasan apa yang entah. Aku sama sekali tak berniat pergi ke pemakaman Rendi. Aku tak mengantarnya. Untuk apa? Toh iya pergi dengan seorang teman. Jadi aku tak perlu mengantarnya. Biar mereka pergi dengan tenang melalui perjalanan berikutnya.

Hujan hari ini entah mengejekku entah merayakan kesialanku. Apapun alasannya yang entah, aku yakin hujan ini akan berhenti, meskipun pada waktu yang entah.

Advertisements

2 thoughts on “Entah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s