Sebuah kegagalan (menikah) di 2014

Hebatnya, di dunia ini ada kalimat “manusia hanya bisa berencana, namun Tuhan-lah yang menentukan”. Jadinya saya gak perlu terlalu menanggung malu dan bisa bersembunyi sambil berkilah dibalik kalimat ini.

“Ini udah mau habis 2014-nya. Udah bisa tuh status di WA-nya diganti.”

“Masih ada 16 hari lagi jelang akhir tahun. Masih ada kemungkinan,” kelit saya saat itu.

Sebut saya ngotot, sebut optimis yang sudah di luar akal sehat. Tapi itulah saya.

Namun… Sekarang sudah tanggal 31 Desember. Saya belum juga menandatangani buku nikah saya. Cita-cita sirna, harapan kandas. Celotehan saya agar bisa menikah di tahun 2014 berlalu bersama kalender yang siap dibuang. Segera saya hapus status dengan bunyi “Ayooo dukung saya bisa menikah di tahun 2014” yang saya cantumkan di beberapa aplikasi chating dan akun media social. Status yang saya buat pada tanggal 1 Januari 2014. Status yang termaktub banyak harapan atasnya, banyak panjatan doa atasnya. Namun akhirnya menjadi status yang tak lebih dari sebuah bualan, karena doa yang belum diiyakan. Belum. Bukan tidak.

Gagal menikah di tahun 2014 cukup mengusik saya sebenarnya. Pertanyaan orang-orang atas apa kelanjutan dari cerita sebuah cincin yang terus terpajang manis di jari manis saya cukup mengganggu. Keusilan atas orang-orang yang membuat ciut hati saya yang mengatakan kalau saya harus bersiap tentang kemungkinan terburuk karena ditundanya menikah tidak seperti yang ditargetkan. Tunangan terlalu lama biasanya berakhir kandas, kata beberapa orang.

Namun, jangan panggil saya Intan kalau saya pesimis.

“Jadi.. kapan nikahnya, Kak?” tanya seorang teman seangkatan di kantor yang usianya lebih muda dari saya

“Tahun 2015.”

“Masih dengan tingkat kepercayaan diri yang sama seperti tahun 2014 ya?” tanyanya dibumbui sedikit sindiran.

“Perkataan adalah doa, Yun,”senyum saya PD.

“Iya. Masih bisa berharap banyak di 2015. Ada 365 hari di 2015.”

“Iya. Dan salah satu harinya harus jadi hari pernikahan kakak,” jawab saya.

“Aamiin…”

Kita akan membuang kalender lama dan saya juga harus menghapus semua status-status saya. Seperti kalender yang akan diganti dengan yang baru, maka status saya juga akan berganti dengan yang baru.

“Di tahun 2015 ada 365 hari. Salah satu harinya akan menjadi hari pernikahan saya.” Dengan rasa optimis yang bertambah, dengan harapan yang semakin besar, dengan lantunan doa yang makin banyak, saya ucapkan “Bismillah…”

Status update

Semoga di akhir tahun 2015 saya gak harus merasa de javu ya dengan menulis postingan berkisah sama berbeda waktu.

Hahahay…

It’s life…

Doakan saya ya.

Kita akan menikah, Bang. Di 2015. Lunasi hutangmu padaku :*

Advertisements

3 thoughts on “Sebuah kegagalan (menikah) di 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s