Lamaran Impian

Saya sih gak pernah memimpikan bakal dilamar oleh seorang pria layaknya adegan pilem-pilem romantis atau malah ala dongeng Disney. Tahulah, kayak makan malam romantis ditemani alunan dentingan piano atau gesekan biola lalu sekonyong-konyong datang nampan berisi cincin berlian. Atau.. pangeran datang membawa seikat mawar merah lalu berlutut sambil menawarkan cincin.

Saya terlalu waras untuk bermimpi seperti itu, dan saya hidup memang jauh banget dari khayalan itu yang memungkinkan untuk menjadi nyata.

Saya tidak pernah bermimpi dan gak kepengen. Terlalu default menurut saya.

Kalau setiap perempuan punya khayalan bagaimana inginnya dia dilamar maka saya akan beberkan juga adegan impian saya kala dilamar.

Saya dan dia. Kami duduk (mungkin di atas pasir di pinggir pantai). Dia menggenggam tangan saya, memandang saya teduh lalu berkata “Nikah yuk? Jadi istri Abang, jadi Ibu bagi anak-anak abang, lalu kita hidup bersama, menua bersama hingga salah satu dari kita menghadap-Nya,”

Lalu saya senyum. Senyum-senyum sambil terharu. Tak berapa lama, tanpa ragu saya jawab, “Yuk…”

Jeng… jeng… jeng… itulah impian saya tentang prosesi dilamar secara pribadi oleh lelaki calon suami saya. Lamaran pribadi ya, bukan lamaran dengan orangtua. Kalau prosesi lamaran melibatkan orangtua itu udah formal dan ada adat-adatnya sendiri sesuai dengan sukunya.

Tapi bagaimana tentang kenyataan yang menimpa saya atas impian saya?

Hiks…hiks…hiks…

Kenyataan tak seindah harapan.

Saya dilamar lewat telepon gaes…. Sakitnya tuh di mana-mana.

Semua terjadi begitu cepat dan diluar kendali calon suami saya karena adanya miskomunikasi antara dia dan orangtuanya, hingga ujug-ujug saya duluan ‘diminta’ oleh orangtuanya ketimbang dilamar secara pribadi oleh si calon suami saya.

Gagal sudah harapan saya bisa dilamar di tepi pantai.

Orangtua kedua belah pihak memutuskan agar kami bertunangan dulu. Hal ini diputuskan atas banyak pertimbangan mengingat kondisi dan situasi kami berdua.

Lalu… karena rencana tunangan telah dikemukan maka haruslah lamaran pribadi ditunaikan.

Jadilah, saya dilamar via telepon gegara si abang ini bekerja di Bandung dan saya di Aceh.

Namun herannya hati saya tetap hangat dan bergetar. Sejujurnya saya terharu dengan kalimat yang ia pilih. Aah.. lewat telepon saja dia sudah meluluhkan hati saya, apalagi bila bicara langsung kan ya..? (Iyain aja biar cepet)

Emang apa kalimat mautnya hingga buat saya meleleh?

Ya hampir sama seperti kalimat yang selama ini menjadi benak impian saya. Namun kalimatnya lebih panjang dan dengan pemilihan kata lebih menyentuh.

Dan diakhiri dengan, “mau gak?”

“Mau donggg…”

Ya…

Malam itu hati Intan hangat, Bang.

2032029

2 thoughts on “Lamaran Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s