Tiga Perempuan: 5 Tahun Kemudian

Sambil sibuk menyantap bakso goreng ketiga perempuan itu berceloteh dan tertawa. Mereka duduk asyik di pinggiran lapangan bola di dekat kampus setelah kuliah usai. Sore begini banyak penjaja makanan mengelilingi lapangan bola. Lapangan bola tersebut tidak sedang digunakan untuk pertandingan bola, hanya ada beberapa kelompok perempuan berjilbab besar duduk berkerumun agak ke tengah lapangan. Mungkin sedang melakukan kajian islami.

Kira-kira 5 tahun ke depan kita bakal jadi apa ya?” Tanya seorang perempuan di sela-sela santapan bakso gorengnya yang dia pesen ekstra pedas. Pedas adalah favoritnya.

Kuliah. S2 di luar negeri. Paris.” Ucap salah satu temannya.

Iya. Kuliah. S2 dimanapun itu asal gak di sini (Aceh)” ucap teman lainnya yang paling kalem dan pendiam di antara mereka namun paling cerdas.

Iya. Kuliah di luar negeri. Aaah… moga-moga aku kesampaian ke Belanda.”

5 tahun kemudian.

Ya ampun, Tan. Aku kangen masa-masa kita kuliah dulu. Iya. Jajan bakso goreng. Nongkrong di pinggir lapangan bola sambil mengkhayal tentang masa depan.”

Eh… bentar. Dulu kalau gak salah si Intan pernah tanya, jadi apa kita 5 tahun ke depan kan? Mengkhayal sambil makan bakso goreng. Ingat gak, Tan?” kali ini perempuan yang dulu terkenal pendiam dan kalem namun cerdas angkat bicara dan bertanya.

Hmmm.. iya yak. Jadi kira-kira 5 tahun itu kapan?”

Sekarang deh kayaknya,” ucap si perempuan kalem yang kini telah berubah menjadi perempuan dewasa cantik, anggun dan tentu saja tetap cerdas.

Masa sih?” perempuan satunya lagi meragu.

Bentar…,” saya menengahi “kira-kira kita tuh duduk di sana semester berapa?”

5,6,7 kali.”

Saya menghitung-hitung…

Semester satu tahun 2006

Semester 2 dan 3 tahun 2007

Semester 4 dan 5 tahun 2008

Semester 6 dan 7 2009

Kira-kira semester 5, 6 atau 7.

Hemmm…

Iya deh kayaknya. Kira-kira aja lah ya. Iya. Sekarang ini lah 5 tahun akan datang dari 5 tahun lalu itu,” jawab saya setelah mereka ulang ingatan.

Jadi…?”

Well… inilah kita,” kata saya. Lalu kami bertiga tersenyum. Tertawa. Kembali menyuap mie pangsit yang menjadi salah satu jajanan favorit kami. Selagi menyuap saya yakin, pikiran kami masing-masing sibuk dengan kenangan masa lalu dan kenyataan masa kini.

Dulu kami bertiga adalah sekelompok kecil perempuan yang sibuk dan terlalu mengutamakan pendidikan. Berandai-andai berkuliah di luar negeri. Menargetkan pada usia tertentu sudah s2. Iya. Kami bahkan lupa menargetkan pada usia berapa kami ingin menikah. Karena cita-cita kami adalah menggapai pendidikan sebanyak mungkin atau ingin menjadi wanita karir yang sukses.

Lulus kuliah kami mendapatkan pekerjaan. Sibuk bekerja dan letihnya kerja lambat laun membuat kami lupa akan cita-cita kami ingin berkuliah di luar negeri. Saya sih sempat usaha mengajukan beasiswa S2 keluar negeri namun tak diterima. Usaha saya yang kurang. Saya sadari itu. Pekerjaan membuat saya tidak mempunyai waktu seleluasa semasa kuliah.

Lalu akhirnya saya melanjutkan kuliah di Universitas tempat saya menyelesaikan s1. Saya mengambil gelar profesi Akuntan. Ini pun kuliahnya kececeran gegara kerja. Gegara semasa kuliah profesi ini saya harus 2 kali ke luar kota dalam waktu bulanan, alhasil kuliah yang harusnya Cuma setahun saya selesaikan 2 tahun.

Kapok. Saya gak mau lagi lanjutin s2. Pengen napas dulu. Pengen kumpulin pundi2 uang dulu. Karena selama ini pundi keuangan saya bocor lagi ke biaya kuliah saya. Pengen berbagi dulu sama keluarga.

2 temen saya melanjutkan ke jenjang s2. Kini mereka tengah tahap thesis. Saya sih kalau bukan karena sesak napas capek mesti bolak-balik dari kota tempat saya kerja ke kota tempat saya kuliah mungkin juga tengah bernasib sama seperti mereka. Namun ya itu, dulu saya milihnya focus aja dulu di pekerjaan baru saya. Menata karir baru entar kalau udah gak sesak napas lagi dan pundi2 uang udah menggunung saya akan mengambil gelar s2.

5 tahun yang akan datang ternyata kami begini.

Saya tidak sedang kuliah di luar negeri. Saya hanya bergelar SE, Ak tanpa gelar s2. Bekerja di BUMN. Berencana menikah tahun depan dengan tunangan saya sekarang.

Perempuan kedua yang berniat s2 di Paris, kini telah menikah. Masih aroma pengantin baru. Tengah menyusun thesis di Universitas Unsyiah.

Perempuan nan cerdas itu berkarir di salah satu Bank Swasta. Juga tengah menyusun thesis. Akan segera dipinang untuk dijadikan istri.

Well…

Akhirnya kami menggeser cita-cita kami. Menurunkan level. Semua karena mungkin kami tidak setangguh orang lain mengejar cita-cita. Mungkin juga karena kami terlalu terbuai dengan karir. Tapi bagaimanapun kami suka menjalaninya dan mensyukuri apa yang telah kami dapat.

Jadi… 5 tahun lagi kita kayak apa ya?”

Ngumpul-ngumpul sambil gendong anak,”

Lagi. Kami tertawa.

Advertisements

One thought on “Tiga Perempuan: 5 Tahun Kemudian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s