Bahasa Tak Beraksara

Hidup terasa begitu remang tanpa adanya sebuah kepastian. Tentang apa-apa yang sering tercekat di tenggorokan. Ingin dikeluarkan namun rasa enggan menyergap. Akhirnya padam, bagaikan pijar api lilin di atas kue ulang tahun yang ditiup dengan semringah oleh manusia yang bertambah usia. Entah apa yang mereka semringahkan, kematian yang semakin dekatkah?

Semua kata-kata aku telan kembali. Meledak di dalam perut bersama kupu-kupu yang sudah lebih dulu menghuninya beberapa bulan belakangan ini. Pernahkah kamu mendengar kisah tentang kejatuhan cinta yang berujung maraknya kupu-kupu menggelitik perut? Aku tak tahu benarkah ada kupu-kupu dalam perutku tapi anggap saja begitu. Toh untuk membelah perutku hanya untuk membuktikan sebuah kebenaran aku terlalu pengecut.

Kamu hadir dalam hangat yang kamu bawa di bawah derasnya hujan yang aku suka. Dengan senyum menawan memabukkan. Dengan suara tenang menghanyutkan. Mungkin aku terlalu berlebihan mendefinisikanmu, nyatanya mungkin orang lain tak melihat apa yang aku lihat. Namun, aku memang tak sedang peduli akan apa yang orang katakan. Aku hanya peduli apa yang akan kamu katakan. Itukan alasanmu datang pada malam hujan deras ini?

Aku terlalu beraksara katamu. Banyak kata-kata yang aku telan lalu aku lahirkan dalam bentuk aksara. Aku pemalu di balik semua sifat blak-blakanku. Itu katamu.

Lalu kamu, si pemuda pemalu yang jarang berkata-kata hadir malam ini dalam bahasa tak beraksara. Terlalu lugas.

Aku sayang kamu.

Itu ucapmu.

Kupu-kupuku riuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s